Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Sunday, October 8, 2017

Pengertian, Sejarah dan Jenis-jenis Uang

Pengertian, Sejarah dan Jenis-jenis Uang - Kehidupan sosial manusia di masyarakat beraspek majemuk yang meliputi aspek hubungan sosial,salah satunya adalah ekonomi dalam kehidupan sehari hari kita sering menjumpai perkataan ekonomi. Manusia dan masyarakat mempunyai kebutuhan yang berbeda dalam memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia dan masyarakat terus berkembang seiring dengan meningkatnya kemakmuran. Oleh karena itu, manusia membutuhkan uang sebagai alat tukar atau pembayaran. 

Pada artikel ini kami akan membahas tentang; 

1. Sejarah uang ? 

2. Apa pengertian uang? 

3. Apa fungsi uang? 

4. Apa syarat-syarat uang? 

5. Apa jenis uang? 

6. Apa pebedaan uang artal dan giral 

7. Apa sejarah uang di Indonesia? 

Pengertian, Sejarah dan Jenis-jenis Uang
Pengertian, Sejarah dan Jenis-jenis Uang


2.1 SEJARAH UANG 
Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang.Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran. Secara kesimpulan, uang adalah suatu benda yang diterima secara umum oleh masyarakat untuk mengukur nilai, menukar, dan melakukan pembayaran atas pembelian barang dan jasa, dan pada waktu yang bersamaan bertindak sebagai alat penimbun kekayaan. 

Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran 

Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya muncullah sistem'barter'yaitu barang yang ditukar dengan barang. Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di antaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya. Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah benda-benda yang diterima oleh umum (generally accepted) benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari; misalnya garam yang oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar maupun sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi tersebut masih terlihat sampai sekarang: orang Inggris menyebut upah sebagai salary yang berasal dari bahasa Latin salarium yang berarti garam. 


Barang-barang yang dianggap indah dan bernilai, seperti kerang ini, pernah dijadikan sebagai alat tukar sebelum manusia menemukan uang logam.  Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitan-kesulitan itu antara lain karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga penentuan nilai uang, penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama. Kemudian muncul apa yang dinamakan dengan uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan) uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam. Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul suatu anggapan kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas Mula-mula uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka menjadikan 'kertas-bukti' tersebut sebagai alat tukar. 

2.2 PENGERTIAN UANG 
Uang adalah salah satu topik utama dalam pembelajaran ekonomi dan finansial. Monetarisme adalah sebuah teori ekonomi yang kebanyakan membahas tentang permintaan dan penawaran uang. Sebelum tahun 80-an, masalah stabilitas permintaan uang menjadi bahasan utama karya-karya Milton Friedman, Anna Schwartz, David Laidler, dan lainnya. 

Kebijakan moneter bertujuan untuk mengatur persediaan uang, inflasi, dan bunga yang kemudian akan memengaruhi output dan ketenagakerjaan. Inflasi adalah turunnya nilai sebuah mata uang dalam jangka waktu tertentu dan dapat menyebabkan bertambahnya persediaan uang secara berlebihan. Interest rate, biaya yang timbul ketika meminjam uang, adalah salah satu alat penting untuk mengontrol inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Bank sentral seringkali diberi tanggung jawab untuk mengawasi dan mengontrol persediaan uang, interest rate, dan perbankan. 

Krisis moneter dapat menyebabkan efek yang besar terhadap perekonomian, terutama jika krisis tersebut menyebabkan kegagalan moneter dan turunnya nilai mata uang secara berlebihan yang menyebabkan orang lebih memilih barter sebagai cara bertransaksi. Ini pernah terjadi di Rusia, sebagai contoh, pada masa keruntuhan Uni Soviet. 


2.3 FUNGSI UANG 
Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan barang, juga untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Secara lebih rinci, fungsi uang dibedakan menjadi dua yaitu fungsi asli dan fungsi turunan. 

Fungsi asli uang ada tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan nilai.  Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang. Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.  Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa pada masa mendatang. 

Fungsi Turunan 
Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi turunan. Fungsi turunan itu antara lain: 

· Uang sebagai alat pembayaran yang sah 
Kebutuhan manusia akan barang dan jasa yang semakin bertambah dan beragam tidak dapat dipenuhi melalui cara tukar-menukar atau barter. Guna mempermudah dalam mendapatkan barang dan jasa yang diperlukan, manusia memerlukan alat pembayaran yang dapat diterima semua orang, yaitu uang. 

· Uang sebagai alat pembayaran utang 
Uang dapat digunakan untuk mengukur pembayaran pada masa yang akan datang. 
Uang sebagai alat penimbun kekayaan Sebagian orang biasanya tidak menghabiskan semua uang yang dimilikinya untuk keperluan konsumsi. Ada sebagian uang yang disisihkan dan ditabung untuk keperluan pada masa datang. 

· Uang sebagai alat pemindah kekayaan 
Seseorang yang hendak pindah dari suatu tempat ke tempat lain dapat memindahkan kekayaannya yang berupa tanah dan bangunan rumah ke dalam bentuk uang dengan cara menjualnya. Di tempat yang baru dia dapat membeli rumah yang baru dengan menggunakan uang hasil penjualan rumah yang lama. 
Uang sebagai alat pendorong kegiatan ekonomi 

Apabila nilai uang stabil orang lebih bergairah dalam melakukan investasi. Dengan adanya kegiatan investasi, kegiatan ekonomi akan semakin meningkat. 

2.4 SYARAT – SYARAT UANG 
Suatu benda dapat dijadikan sebagai "uang" jika benda tersebut telah memenuhi syarat-syarat tertentu.: 
  1. benda itu harus diterima secara umum (acceptability). Agar dapat diakui sebagai alat tukar umum suatu benda harus memiliki nilai tinggi atau —setidaknya— dijamin keberadaannya oleh pemerintah yang berkuasa. 
  2. Bahan yang dijadikan uang juga harus tahan lama (durability), 
  3. kualitasnya cenderung sama (uniformity), 
  4. jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat serta tidak mudah dipalsukan (scarcity). 
  5. Uang juga harus mudah dibawa, portable, dan mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility), 
  6. serta memiliki nilai yang cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability of value). 

2.5 JENIS UANG 
Uang yang beredar dalam masyarakat dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu uang kartal (sering pula disebut sebagai common money) dan uang giral. Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual-beli sehari-hari. Sedangkan yang dimaksud dengan uang giral adalah uang yang dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang dapat ditarik sesuai kebutuhan. Uang ini hanya beredar di kalangan tertentu saja, sehingga masyarakat mempunyai hak untuk menolak jika ia tidak mau barang atau jasa yang diberikannya dibayar dengan uang ini. Untuk narik uang giral, orang menggunakan cek. 

A. Menurut bahan pembuatannya 
Dinar dan Dirham, dua contoh mata uang logam. 
Uang menurut bahan pembuatannya terbagi menjadi dua, yaitu uang logam dan uang kertas. 
Uang logam 
Uang logam adalah uang yang terbuat dari logam; biasanya dari emas atau perak karena kedua logam itu memiliki nilai yang cenderung tinggi dan stabil, bentuknya mudah dikenali, sifatnya yang tidak mudah hancur, tahan lama, dan dapat dibagi menjadi satuan yang lebih kecil tanpa mengurangi nilai. 

Uang logam memiliki tiga macam nilai: 
  1. Nilai intrinsik, yaitu nilai bahan untuk membuat mata uang, misalnya berapa nilai emas dan perak yang digunakan untuk mata uang. 
  2. Nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum pada mata uang atau cap harga yang tertera pada mata uang. Misalnya seratus rupiah (Rp. 100,00), atau lima ratus rupiah (Rp. 500,00). 
  3. Nilai tukar (riil), nilai tukar adalah kemampuan uang untuk dapat ditukarkan dengan suatu barang (daya beli uang). Misalnya uang Rp. 500,00 hanya dapat ditukarkan dengan sebuah permen, sedangkan Rp. 10.000,00 dapat ditukarkan dengan semangkuk bakso). 
Ketika pertama kali digunakan, uang emas dan uang perak dinilai berdasarkan nilai intrinsiknya, yaitu kadar dan berat logam yang terkandung di dalamnya; semakin besar kandungan emas atau perak di dalamnya, semakin tinggi nilainya. Tapi saat ini, uang logam tidak dinilai dari berat emasnya, namun dari nilai nominalnya. Nilai nominal adalah nilai yang tercantum atau tertulis di mata uang tersebut. 
Uang kertas 

Sementara itu, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas). 

B. Menurut lembaga yang mengeluarkannya 
Menurut lembaga yang mengeluarkannya, uang dibedakan menjadi uang kartal (kepercayaan) dan uang giral (simpanan di bank). 

· Uang Kartal (kepercayaan) 
yaitu uang yang dikeluarkan oleh negara berdasarkan undang-undang dan berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Uang kartal di Indonesia terdiri atas uang logam dan uang kertas. 

· Uang Giral (simpanan di bank) 
yaitu dana yang disimpan pada koran di bank-bank umum yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk melakukan pembayaran dengan perantara cek bilyet, giro, atau perintah membayar. Uang giral dikeluarkan oleh bank umum dan merupakan uang yang tidak berwujud karena hanya berupa saldo tagihan di bank. 

C. Menurut nilainya 
Menurut nilainya, uang dibedakan menjadi uang penuh (full bodied money) dan uang tanda (token money) 
Uang Penuh (full bodied money) 

Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh apabila nilai yang tertera di atas uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain, nilai nominal yang tercantum sama dengan nilai intrinsik yang terkandung dalam uang tersebut. Jika uang itu terbuat dari emas, maka nilai uang itu sama dengan nilai emas yang dikandungnya. 
Uang Tanda (token money) 

Sedangkan yang dimaksud dengan uang tanda adalah apabila nilai yang tertera diatas uang lebih tinggi dari nilai bahan yang digunakan untuk membuat uang atau dengan kata lain nilai nominal lebih besar dari nilai intrinsik uang tersebut. Misalnya, untuk membuat uang Rp1.000,00 pemerintah mengeluarkan biaya Rp750,00. 

2.6 Perbedaan Uang Kartal dan Uang Giral 

uang kartal: 
1. alat pembayaran yang sah dan wajib diterima oleh masyarakat umum
2. berupa logam dan kertas
3. agak rumit jika menyimpan dalam jumlah yang banyak
4. kurang aman karena resiko kehilangan besar

uang giral:
1. tidak diterima secara umum dalam masyarakat
2. berupa koran-koran (cek, giro dll)
3. lebih mudah dan praktis
4. lebih aman karena resiko kehilangan kecil, bila hilang bisa dilaporkan ke bank 


2. 7 Sejarah Uang Di Indonesia 

a. Masa Kerajaan Mataram Kuno 
Kerajaan Mataram Kuno mengalami kejayaan pada masa 850 M. Di wilayah ini, alat tukarnya menggunakan koin emas dan perak yang berbentuk kotak. Nominalnya pun berbeda-beda. 

b. Masa Kerajaan Jenggala 
Kerajaan Jenggala adalah kerajaan berkuasa yang terletak di timur Pulau Jawa. Pada masa kejayaannya (1042-1130), kerajaan ini menggunakan koin emas dan perak dalam perdagangan. Kerajaan ini juga menggunakan uang kepeng dari Cina sebagai alat pembayaran resmi. Ini menunjukkan bahwa kerajaan di Nusantara memiliki pengaruh hubungan dagang dengan bangsa Cina. 


c. Masa Kerajaan Majapahit 
ini salah satu keunggulan mata uang Rupiah dari mata uang Asia Tenggara lainnya. Proses kelahiran mata uang Rupiah di Nusantara tidak terlepas dari kedigdayaan salah satu kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara, yaitu Majapahit. Pada masa kejayaannya, Majapahit tidak hanya menggunakan koin emas seperti mata uang Ma, tapi juga mata uang Tahil yang berupa koin emas. Bentuknya macam-macam, ada yang segiempat, setengah, seperempat lingkaran, segitiga, dan trapesium 

d. Masa Kerajaan Buton 
Kerajaan ini memberi corak tersendiri dalam sejarah numismatik Rupiah di Nusantara. Menurut sejarah, kerajaan ini adalah kerajaan pertama yang menggunakan uang dengan berbahan kain tenun sebagai alat tukar. Mata uang mereka disebut Kampua, terbuat dari sehelai kain tenun persegi panjang yang ditenun putra-putri istana. 

e. Kasha di Kesultanan Banten 
mata uang Kasha adalah mata uang yang dipakai Kesultanan Banten pada era itu. Koin ini berbahan dasar emas. Dengan lubang bersisi enam, mata uang yang dipakai di kerajaan ini menunjukkan adanya pengaruh Cina pada desain dan pengaruh Arab pada ukiran. 

f. Kerajaan Gowa mengeluarkan Jingara 
Hasanuddin adalah patriotik dari kerajaan ini. Jingara adalah mata uang yang dipakai oleh kerajaan ini. Berbahan dasar campuran timah dan tembaga. 

g. Picis di Masa Kesultanan Cirebon 
Menurut KBBI Daring, “picis memiliki arti /uang yang bernilai sepuluh sen/. Dalam sejarahnya, Kesultanan Cirebon membuat mata uang mereka dengan bantuan seorang Cina, dan mata uang itu disebut Picis. Mata uang Picis berbahan dasar timah tipis dan mudah pecah. 

h. Pengaruh Spanyol pada Mata Uang Kesultanan Sumenep 
Untuk diketahui, sejarah uang di Indonesia di Kesultanan Sumenep memiliki pengaruh sistem mata uang Spanyol. Di kerajaan inilah pengaruh masuknya Spanyol ke Indonesia bisa diketahui. Selain menggunakan mata uang Spanyol sebagai alat tukar, kesultanan ini juga menggunakan uang gulden Belanda dan uang thaler Austria dalam sistem perekonomiannya. 

i. Mata Uang Nusantara pada Masa Penjajahan 
Penggunaan mata uang pada masa penjajahan tidak terlepas dari pengaruh Belanda sebagai negara penjajah Nusantara. Peran pemerintahan kolonial itu pun tidak terlepas dari yang namanya sebuah organisasi besar yang bergerak di bidang perdagangan, yaitu Vereenigde Oostindische Compagnie atau dikenal sebagai VOC. Pada masa itu, VOC secara tidak langsung menyebarluaskan penggunaan mata uang Gulden Hindia-Belanda (seperti gambar pertama tulisan ini) dalam kegiatan perekonomian di Nusantara. Waktu itu istilah Indonesia pun masih belum lahir. 

Untuk diketahui, selain gulden Hindia-Belanda, wilayah Sumatra dan Jawa memakai dolar Sumatra dan rupiah Jawa. Kedua jenis mata uang ini hanya bisa bertahan sampai pada tahun 1824 Masehi. Pasti Anda bertanya, kenapa bisa punah? Motifnya jelas, pemerintah kolonial mengingkan hanya mata uangnyalah yang boleh dipakai. 

Gulden pada masa penggunaannya sempat ditarik oleh pemerintah kolonial. Mengapa? Itu karena pada bentuk fisiknya ada ukiran Ratu Wilhelmina dengan rambut terurai. Penarikan dari peredaran ini dilakukan karena dianggap sebagai bentuk penggambaran tidak sopan terhadap seorang bangsawan, kepada ratu Belanda. 

Mata uang gulden Hindia-Belanda ini punya pengaruh kuat. Bahkan, pada masa pemerintahan kolonial Jepang pun mata uang ini masih digunakan. Tapi, gulden pada masa penjajahan kolonial Jepang ini memiliki tulisan De Japansche Regering yang artinya /pemerintah Jepang/. Nah, selain gulden yang tertera tulisan itu, kolonial Jepang pun mengedarkan mata uangnya sendiri, Dai Nippon Teikoku Seihu. 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengertian, Sejarah dan Jenis-jenis Uang

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...