Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Monday, October 9, 2017

Pengertian, Jenis-jenis dan Peserta Kliring

Pengertian, Jenis-jenis dan Peserta Kliring - Kliring (dari bahasa Inggris clearing) sebagai suatu istilah dalam dunia perbankan dan keuangan menunjukkan suatu aktivitas yang berjalan sejak saat terjadinya kesepakatan untuk suatu transaksi hingga selesainya pelaksanaan kesepakatan tersebut. Kliring sangat dibutuhkan sebab kecepatan dalam dunia perdagangan jauh lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan guna melengkapi pelaksanaan aset transaksi. Kliring melibatkan manajemen dari pascaperdagangan, pra penyelesaian eksposur kredit, guna memastikan bahwa transaksi dagang terselesaikan sesuai dengan aturan pasar, walaupun pembeli maupun penjual menjadi tidak mampu melaksanakan penyelesaian kesepakatannya. Proses kliring adalah termasuk pelaporan / pemantauan, marjin risiko, netting transaksi dagang menjadi posisi tunggal, penanganan perpajakan dan penanganan kegagalan.

1. KLIRING

a) Pengertian Kliring

• Kliring adalah suatu tata cara perhitungan utang piutang dalam bentuk surat-surat dagang dan surat-surat berharga dari suatu bank terhadap bank lainnya, dengan maksud agar penyelesaiannya dapat terselenggara dengan mudah dan aman, serta untuk memperluas dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral.

• Lalu lintas pembayaran giral adalah, suatu proses kegiatan bayar membayar dengan waktat atau nota kliring, yang dilakukan dengan cara saling memperhitungkan diantara bank-bank, baik atas beban maupun untuk keuntungan nasabah ybs.

• Giral adalah simpanan dari pihak ketiga kepada bank yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, surat perintah pembayaran lainnya, atau dengan cara pemindah bukuan.


Pengertian, Jenis-jenis dan Peserta Kliring
Pengertian, Jenis-jenis dan Peserta Kliring


b) Peserta Kliring:

Peserta kliring dapat dibedakan menjadi dua macam :

• Peserta langsung, yaitu : bank-bank yang sudah tercatat sebagai peserta kliring dan dapat memperhitungkan warkat atau notanya secara langsung dengan B I atau melalui PT Trans Warkat sebagai perantara dengan B I. Contoh : Bank Retail, Bank Devisa

• Peserta tidak langsung, yaitu : bank-bank yang belum terdaftar sebagai peserta kliring akan tetapi mengikuti kegiatan kliring melaui bank yang telah terdaftar sebagai peserta kliring.

Contoh : BPR


c) Warkat / Nota kliring

Adalah alat atau sarana yang digunakan dalam lalu lintas pembayaran giral, yaitu surat berharga atau surat dagang seperti :

• cek, 

• bilyet giro, 

• wesel bank untuk trasfer atau wesel unjuk, 

• bukti-bukti penerimaan transfer dari bank-bank, 

• nota kredit, dan 

• surat-surat lainnya yang disetujui oleh penyelenggara ( B I )



Syarat-syarat warkat yang dapat dikliringkan :

• Ber valuta Rupiah

• Bernilai nominal penuh

• Telah jatuh tempo pada saat dikliringkan dan

• Telah dibubuhi cap kliring


Jenis – jenis warkat kliring :

• Warkat debet keluar, yaitu : warkat bank lain yang disetorkan oleh nasabah sendiri untuk keuntungan rekening nasabah yang bersangkutan.

Contoh : 

Ndari nasabah bank Permata Semarang menerima pembayaran dari Sigit nasasbah bank Niaga Semarang berupa cek. Cek tersebut disetorkan oleh Ndari ke bank Permata, maka cek tersebut dapat dikatakan sebagai warkat debet keluar.



• Warkat debet masuk, yaitu : warkat yang diterima oleh suatu bank dari bank lain melalui B I atas warkat atau cek bank sendiri yang ditarik oleh nasabah sendiri dan atas beban nasabah yang bersangkutan.

Contoh :

Bila bank Permata Semarang menerima cek dari bank Niaga Semarang atas cek yang telah ditarik Andi nasabah sendiri, maka cek tersebut merupakan warkat debet masuk bagi bank Permata.

• Warkat kredit keluar, yaitu : warkat dari nasabah sendiri untuk disetorkan kepada nasabah bank lain pada bank lain. Bank yang menyerahkan warkat tersebut akan mengkreditkan rekening giro BI dan mendebet giro nasabah.

• Warkat kredit masuk, yaitu : warkat yang diterima oleh suatu bank untuk keuntungan rekening nasabah bank tersebut. Bank yang menerima warkat tersebut akan mendebit rekening giro B I dan mengkredit giro nasabah.

d) Jenis-Jenis Kliring

• Kliring umum, adalah : sarana perhitungan warkat-warkat antar bank yang pelaksanaannya diatur oleh B I.

• Kliring lokal, adalah : sarana perhitungan warkat-warkat antar bank yang berada dalam suatu wilayah kliring (wilayah yang ditentukan).

• Kliring antar cabang, adalah : sarana perhitungan warkat antar kantor cabang suatu bank peserta yang biasanya berada dalam satu wilayah kota. Kliring ini dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh perhitungan dari sauatu kantor cabang untuk kantor cabang lainnya yang bersangkutan pada kantor induk yang bersangkutan.

2. AKUNTANSI KLIRING MANUAL

a) Pengertian Kliring Manual
Kliring Manual adalah sistem penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan, pembuatan Bilyet Saldo Kliring serta pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta. Pada proses Sistem Manual, perhitungan kliring akan didasarkan pada warkat yang dikliringkan oleh Peserta kliring.


b) Pemrosesan Kliring Manual
Kliring Manual tidak melalui Automated Clearing House melainkan dengan pertemuan kliring yang biasanya dilakukan sebanyak dua kali.

ü Pertama kali bertemu, bank-bank yang terlibat dalam transaksi kliring akan saling menyerahkan warkat.

ü Pada pertemuan kedua, bank peserta kliring akan saling mengembalikan warkat apabila terjadi penolakan.



Waktu pertemuan kliring biasanya diatur sebagai berikut :

Senin sampai dengan Jumat:

Kliring I : Pukul 10.30 – 14.30

Kliring II : Pukul 13.00 – 14.00

Sabtu :

Kliring I : Pukul 10.00 – 11.00

Kliring II : Pukul 12.00 – 13.00

Warkat Kliring bank yang diserahkan suatu bank kepada bank peserta lainnya adalah ;

· Warkat (nota) Debet Keluar

· Warkat (nota) Kredit Keluar



Warkat Kliring yang diterima suatu bank kepada bank peserta lainnya adalah :

· Warkat (nota) debet masuk

· Warkat (nota) kredit masuk.

Hubungan antara warkat debet keluar dengan warkat debet masuk adalah bank yang menyerahkan warkat debet keluar akan menikmati penambahan giro pada Bank Indonesia. Sedangkan Bank yang menerima warkatnya sendiri/ warkat debet masuk , saldo gironya pada B.I akan berkurang sebesar nilai nominal warkat tersebut.

Hubungan warkat kredit keluar dan warkat kredit masuk adalah bank yang menyerahkan warkat kredit keluar akan menyebabkan penguranga dalam rekening giro pada B.I. Sedangkan bank yang menerima warkat / warkat kredit masuk , saldo gironya pada B.I akan bertambah sebesar nilai nominal warkat tersebut.

c) Prosedur Akuntansi Kliring Manual
Bank peserta kliring akan menyelenggarakan akuntansi atas transaksi kliring sesuai dengan sistim akuntansi yang diterapkan di bank masing – masing. Arus warkat, apakah warkat debet / kredit akan dicatat dalam buku harian kliring yang dibuat oleh setiap bank. Atas dasar buku harian kliring ini maka dibuatkan daftar kliring keluar untuk dijadikan pembuatan neraca kliring. Dari neraca ini pada akhir hari akan diketahui apakah bank menang / kalah kliring.


Contoh Soal Kasus Kliring : 
Tn. Sigit nasabah giro pada Bank Omega – Cabang Jakarta membeli barang dari Ny. Dita, nasabah giro bank ABC – Cabang Jakarta, seharga Rp. 30.000.000,- Tn. Sigit membayar dengan menerbitkan cek Bank Omega.

Pada saat bank ABC menerima warkat giro dari bank Omega . Kedua bank akan mencatat transaksi kliring tersebut sbb:

Pembukuan transaksi kliring ini dapat ditampung pada rekening sementara “Kliring” atau langsung ke rekening giro pada B I.

“Pada bank ABC – cabang Jakarta”

Pada saat terima warkat dari Tn. Sigit untuk disetorkan ke (menambah) rekening giro Ny. Dita.

D : Kliring Rp. 30.000.000,- 
K : Giro – Rek. Ny. Dita Rp. 30.000.000,-

Setelah diketahui hasilnya baik, biasanya pada waktu kliring kedua akan dinihilkan rekening Kliring.
D : B I – Giro Rp. 30.000.000,-
K : Kliring Rp. 30.000.000,-

“Pada bank Omega – cabang Jakarta”
Pada saat menerima warkat nasabahnya sendiri (warkat Tn. Sigit) akan membebankan rekening Tn. Sigit dengan jurnal sbb :

D : Giro – Rek. Tn. Sigit Rp. 30.000.000,-
K : B I – Giro Rp. 30.000.000,-

Bank Omega dapat langsung mengkredit rekening giro pada BI karena cek tersebut adalah cek dari nasabahnya sendiri.

Apabila Tyas seorang nasabah bank Omega – cabang Jakarta menyerahkan sebuah warkat Giro senilai Rp. 50.000.000,- kepada bank untuk diserahakan kepada Grace, salah seorang nasabah bank Lippo cabang Jakarta, oleh kedua bank akan dibukukan sebagai berikut :

“Pada bank Omega cabang Jakarta”
Pada saat menerima amanat dan warkat dari Tyas, akan dibukukan sebagai berikut :
D : Giro - Rek. Tyas Rp. 50.000.000,-
K : B I – Giro Rp. 50.000.000,-

“Pada bank Lippo cabang Jakarta”
Pada saat menerima warkat setoran untuk menambah rekening Grace, dibukukan sbb. :

D : B I – Giro Rp. 50.000.000,-
K : Giro - Rek. Grace Rp. 50.000.000,-



NERACA KLIRING
Pada akhir hari kliring, akan dibuatkan neraca kliring sebagai laporan akhir transaksi kliring. Dari neraca ini akan diketahui apakah rekening giro pada Bank Indonesia mengalami kenaikan / penurunan yang dikenal dengan menang / kalah kliring. Diman menang kliring artinya bank yang bersangkutan pada akhir masa kliring memiliki tagihan keluar (kliring keluar) lebih besar dari tagihan yang masuk (kliring masuk). Sedangkan untuk bank yang tagihan masuknya lebih besar dari tagihan keluarnya dikatakan sebagai kalah kliring. Atau dapat juga dikatakan jika jumlah mutasi kredit lebih besar dari jumlah mutasi debet dikategorikan sebagai menang kliring.

Contoh :

· Bank Omega Cabang Jakarta dikatakan kalah kliring karena transakasi kliring mengakibatkan saldo giro bank Omega pada B.I mengalami penuruna 80 juta (dari pengkreditan Rp. 30 juta ditambah Rp. 50 juta).

· Bank ABC dianggap menang kliring karena saldo rekening giro pada B.I Bertambah sebesar Rp. 30 juta dan Bank Lippo juga bank menang kliring karena ia hanya akan mendebet rekening giro pada B.I sebesar Rp 50 juta.

Apabila bank omega membuat neraca kliring , akan dapat diketahui kekalahan kliringnya seperti tabel berikut :

PT.Bank Omega
Apabila dalam pembukuan transaksi kliring, bank Omega selalu mempergunakan rekening sementara kliring dan pendebetan atau pengkreditan rekening giro pada B I dilaksanakan pada akhir hari kliring, untuk mengetahui apakah bank menang atau kalah klring, maka kekalahan kliring diatas akan dibukukan sebagai berikut :

D : Kliring Rp. 80.000.000,-
K : B I – Giro Rp. 80.000.000,-

Dilihat dari sudut B I , tidak akan terdapat selisih pendebetan maupun pengkreditan rekening giro masing-masing bank peserta kliring.

Selanjutnya untuk mencatat transaksi hasil kliring diatas, oleh B I akan dibukukan sbb. :
D : Giro – Bank Omega Rp. 80.000.000,-
K : Giro – Bank ABC Rp. 30.000.000,-
K : Giro – Bank Lippo Rp. 50.000.000,-

Melalui kalah atau menang kliring ini, oleh B I akan dipantau saldo minimum dari Reserve Reqiurement. Bila suatu bank reserve requirement-nya lebih rendah dari pada apa yang seharusnya dipelihara, maka kepada bank yang tidak memenuhi persyaratan tersebut akan dikenakan denda oleh B I.

3. AKUNTANS KLIRING OTOMATIS

a) Pengertian Kliring Otomatis
Kliring otomatis adalah terjadinya pertukaran data secara elektronik melalui pemrosesan dengan mesin dalam bentuk standar yang telah diformat terlebih dahulu. 

b) Pemrosesan dengan Kliring Otomatis
Pemrosesan elektronik melibatkan pengiriman media penyimpanan data komputer. Media ini merupakan media utama untuk transaksi kliring dengan otomatis, atau lazim dikenal dengan Automatic Clearing House (ACH). Dalam pemrosesan data secara elektronik ini, mesin akan membaca Magnetic Ink Character Recognition, atau MICR pada setiap lembar cek nasabah.

Transaksi kliring otomatis dapat dipecah menjadi dua jenis :

• Transaksi local (intraregional), bank penarik mempersiapkan seluruh warkat untuk dikirim ke bank tertarik. Disini bank penarik akan memeriksa kelengkapan data, memeriksa kebenaran cek, membedakan apabila transaksi tersebut berasal dari bank sendiri, kemudian menyampaikan data tersebut kepada lembaga kliring.

• Transaksi antar daerah (interregional), bank penarik akan menyampaikan transaksinya kepada pusat pengolahan data di lembaga kliring lokal. Transaksi-transaksi disortir oleh bank penarik dalam lokasi yang bersangkutan. Volume data yang besar ini akan digabung menjadi suatu ringkasan arsip untuk setiap lokasi, kemudian arsip ini dipindahkan ke tiap lokasi lainnya untuk diproses lebih lanjut.

c) Mekanisme Akuntansi Kliring Otomatis
Pada akuntansi kliring otomatis, ayat jurnal yang dibuat merupakan hasil transaksi secara berumpun ( batch processing) yang akan langsung mendebet/ mengkredit rekening giro pada Bank Indonesia dan nasabah yang bersangkutan. Proses ini semua dilakukan pada akhir hari baru dapat diketahui hasil kliringnya. 

Proses kliring otomatis sebagai berikut:
  • · Bank peserta kliring akan mempergunakan aplikasi khusus untuk saling berhubungan (on-line) dengan pusat pengolahan data kliring otomatis Fasilitas perpindahan data secara elektronik ini akan mendukung terciptanya kliring otomatis.
  • · Aplikasi kliring yang terpasang pada bank peserta dapat saja dihubungkan langsung dengan buku besar dan rekening nasabah yang dapat mengubah data secara up-to-date.
  • · Bila aplikasi untuk kliring otomatis dihubungkan secara on-line dengan aplikasi yang dipergunakan dalam buku bank yang bersangkutan maka buku – buku besar dan data nasabah dapat berubah secara langsung.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengertian, Jenis-jenis dan Peserta Kliring

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...