Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Wednesday, September 6, 2017

Utang Jangka Pendek (Short Term Debt)

Utang Jangka Pendek (Short Term Debt) - Utang-utang yang menjadi kewajiban suatu perusahaan dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu utang jangka pendek dan utang jangka panjang. Pada prinsipnya utang akan dicantumkan sebesar nilai tunai dari utang-utang tersebut, tetapi pada umumnya utang jangka pendek akan dicantumkan dengan jumlah sebesar nilai nominalnya.

Definisi Utang 
Definisi utang adalah pengorbanan manfaat ekonomi di masa yang akan datang yang mungkin terjadi akibat kewajiban suatu badan usaha pada masa kini untuk mentransfer aktiva atau menyediakan jasa pada badan usaha lain di masa yang akan datang sebagai akibat transaksi atau kejadian di masa lalu. Utang-utang yang menjadi kewajiban suatu perusahaan dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu utang jangka pendek dan utang jangka panjang. Pada prinsipnya utang akan dicantumkan sebesar nilai tunai dari utang-utang tersebut, tetapi pada umumnya utang jangka pendek akan dicantumkan dengan jumlah sebesar nilai nominalnya. Penyimpangan ini dilakukan dengan dasar anggapan bahwa selisih antara nilai nominal dengan nilai tunainya relatif kecil. 


Utang Jangka Pendek (Short Term Debt)
Utang Jangka Pendek (Short Term Debt)
Batasan yang biasa digunakan untuk mengelompokkan utang adalah jangka waktu pembayaran utang-utang tersebut. Apabila utang-utang itu akan dibayar dalam jangka waktu siklus operasi perusahaan atau dalam waktu satu tahun maka dikelompokkan sebagai utang jangka pendek. Karena siklus usaha perusahaan itu berbeda-beda, maka batasan dari utang jangka pendek adalah sebagai berikut : Suatu kewajiban akan dikelompokkan sebagai utang jangka pendek apabila pelunasannya akan dilakukan dengan menggunakan sumber-sumber aktiva lancar atau dengan menimbulkan utang jangka pendek yang baru. 

Selanjutnya pembahasan utang jangka pendek ini akan dibagi dalam tiga bagian yaitu : 
  1. utang jangka pendek yang jumlahnya dapat diketahui, 
  2. utang jangka pendek yang jumlahnya belum dapat ditetapkan 
  3. utang-utang bersyarat. 

A. Utang Jangka Pendek Yang Jumlahnya Diketahui 

Utang jangka pendek dikatakan sudah pasti bila memenuhi dua syarat: 
  1. Kewajiban untuk membayar sudah pasti, artinya sudah terjadi transaksi yang menimbulkan kewajiban membayar. 
  2. Jumlah yang harus dibayar sudah pasti. 
Utang-utang yang memenuhi dua syarat di atas terdiri dari berbagai jenis utang sebagai berikut: 

1. Utang dagang dan utang wesel
- Utang dagang dan utang wesel biasanya timbul dari pembelian barang-barang atau jasa-jasa dan dari pinjaman jangka pendek. Dalam menentukan jumlah utang jangka pendek perlu diperhitungkan utang atas barang-barang yang dibeli yang masih dalam perjalanan. Pencatatan utang atas pembelian barang yang masih dalam perjalanan harus mempertimbangkan syarat pengirimannya. 

- Utang wesel ada yang dijamin, ada juga yang tanpa jaminan, di dalamnya termasuk wesel-wesel yang dikeluarkan untuk pembelian barang-barang atau jasa, pinjaman bank jangka pendek, pegawai atau pemegang saham dan untuk pembelian mesin-mesin dan alat-alat. 

2. Utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam periode itu
- Utang obligasi dan utang-utang jangka panjang lainnya yang akan dilunasi kurang dari satu tahun dilaporkan sebagai utang jangka pendek. Jika yang jatuh tempo hanya sebagian, maka bagian yang jatuh tempo dalam tahun itu dilaporkan sebagai utang jangka pendek, sedang yang belum jatuh tempo tetap dilaporkan sebagai utang jangka panjang. Apabila utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam periode itu akan dilunasi dengan dana-dana pelunasan atau dari uang hasil penjualan obligasi baru atau akan ditukar dengan saham, maka utang jangka panjang tadi tetap dilaporkan sebagai utang jangka panjang. Walaupun pelunasannya masih dalam waktu satu tahun, tetapi karena tidak dilunasi dengan sumber aktiva lancar dan tidak menimbulkan utang jangka pendek yang baru, maka tidak dikelompokkan dalam utang jangka pendek. 

3. Utang dividen
- Dividen yang dibagikan dalam bentuk uang atau aktiva (jika belum dibayar) dicatat dengan mendebit rekening laba tidak dibagi dan mengkredit utang dividen. Karena utang dividen ini segera akan dilunasi maka termasuk dalam kelompok utang jangka pendek. Utang dividen ini timbul pada saat pengumuman pembagian dividen oleh direksi dan terutang sampai tanggal pembayaran. Dividen untuk saham prioritas, walaupun jumlahnya sudah pasti, tetapi sebelum tanggal pengumuman belum merupakan utang. Utang dividen skrip akan dikelompokkan sebagai utang jangka pendek jika segera akan dilunasi. Pembagian dividen dalam bentuk saham (dividen saham)  dicatat dengan debit laba tidak dibagi dan kredit dividen saham yang akan dibagi. Kredit yang dibuat untuk mencatat dividen saham yang akan dibagi tidak termasuk dalam kelompok utang jangka pendek tetapi merupakan elemen modal. 

4. Uang muka dan jaminan yang dapat diminta kembali
- uang muka merupakan pembayaran di muka dari pembeli untuk barang-barang yang dipesan. Sebelum barang-barang diserahkan pada pembeli, uang muka tersebut merupakan utang jangka pendek. 

- Jaminan yang diminta dari langganan juga merupakan utang, jika jaminan itu dapat ditarik kembali sewaktu-waktu, maka merupakan utang jangka pendek. Tetapi jika jaminan itu akan disimpan dalam perusahaan untuk jangka waktu yang lama, maka termasuk dalam kelompok utang jangka panjang. 

5. Dana yang dikumpulkan untuk pihak ketiga. 
- Jaminan yang diminta dari langganan juga merupakan utang, jika jaminan itu dapat ditarik kembali sewaktu-waktu, maka merupakan utang jangka pendek. Tetapi jika jaminan itu akan disimpan dalam perusahaan untuk jangka waktu yang lama, maka termasuk dalam kelompok utang jangka panjang. 

- Sebagai contoh setiap membayar gaji pegawai dipotong 15% sebagai pajak penghasilan pegawai yang nantinya akan disetorkan ke kas negara. Pajak yang dipotong oleh perusahaan dicatat sebagai utang lancar. Apabila gaji pegawai bulan November 2005 sebesar Rpl.200.000,- maka PPh pegawai sebesar 15% akan dicatat dengan jurnal sebagai berikut: 

Gaji dan upah                                         Rp l.200.000,- 
Utang pajak penghasilan karyawan       Rp 180.000,- 
Kas                                                        1.020.000,- 

- Perusahaan-perusahaan yang dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) akan membebankan PPN ini kepada pembeli, yaitu dengan menambahkan PPN pada harga jual. PPN yang diterima dicatat sebagai utang sampai saat penyetorannya ke Kas Negara.
- Misalnya: Penjualan bulan Maret 2005 sebesar Rp22.000.000,-, termasuk PPN sebesar 10%, maka pencatatan penjualan dilakukan dengan jurnal sebagai berikut: 

Kas                                             Rp22.000.000,- 
     Penjualan                               Rp20.000.000,- 
     Utang PPN                             2.000.000,- 

- Perhitungan: PPN = 10/no x Rp22.000.000,- = Rp2.000.000,-. 
- Pada saat menyetorkan PPN tersebut ke Kas Negara, dibuat jurnal sebagai berikut: 

Utang PPN                                  Rp2.000.000,- 
Kas                                              Rp2.000.000,- 

6. Utang biaya (biaya yang masih akan dibayar)
- Utang biaya merupakan utang yang timbul dari pengakuan akuntansi terhadap biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dibayar. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah utang yang timbul dari gaji dan upah, bonus, biaya sewa dan Iain-lain. 

Bonus yang diberikan pada karyawan-karyawan tertentu kadang-kadang menimbulkan masalah tersendiri. Bonus itu dapat dihitung dengan dasar penjualan atau laba, tergantung pada perjanjiannya. Apabila bonus dihitung atas dasar laba, maka perhitungannya dapat dilakukan dengan 3 cara sebagai berikut: 
  • Bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus dan pajak penghasilan (PPh). 
  • Bonus dihitung dari laba sesudah dikurangi pajak penghasilan sebelum dikurangi bonus. 
  • Bonus dihitung dari laba sesudah dikurangi bonus dan pajak penghasilan.
Penggunaan masing-masing cara di atas dapat dilihat dari contoh berikut ini: 

PT Tamma Selamat memberikan bonus untuk kepala bagian penjualan sebesar 10% dari laba. Laba tahun 2005 sebesar Rpl.000.000,-. PPh sebesar 15% dari laba bersih. 

Misalnya
B = Bonus 
P = Pajak. 

Perhitungan bonus masing-masing cara di atas sebagai berikut: 

a. Bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus dan PPH: 
B = 0,10 x Rp l.000.000,- 
B= Rp l00.000,-. 
PPh = 15% x (Rp l.000.000,- – Rp l00.000,-) 
PPh = Rp l35.000,- 

b. Bonus dihitung dari laba sesudah dikurangi PPH sebelum dikurangi dengan bonus: 
B = 0,10 (Rp l.000.000,- - P) 
P= 0,15 (Rp l.000.000,--B) 
P dalam persamaan pertama diganti dengan persamaan kedua, maka B dapat dihitung sebagai berikut: 

B = 0,10[Rp l.000.000,- – 0,15 (Rp l.000.000,- - B)] 
B = 0,10(RP1.000.000,- – Rp l50.000,- + 0,15B) 
B = Rp l00.000,- - Rpl5.000,- + 0,015 B 
B – 0,015 B = Rp 85.000,- 
       0,985 B = Rp 85.000,- 
B                  = Rp 86.294,40. 

PPh dihitung dengan mengganti B dari persamaan kedua sebagai berikut: 
P = 0,15 (Rp l.000.000,- – Rp 86.294,40) 
P= 0,15 x Rp 913.705,60 
P= Rp l37.055,84. 

Bonus dihitung dari laba sesudah dikurangi bonus dan PPh: 
B = 0,10 (Rp l.000.000,- – B – P) 
P= 0,15 (Rp l.000.000,- – B) 

P dalam persamaan pertama diganti dengan persamaan kedua, maka B dapat dihitung sebagai berikut: 
B = 0,10 [Rpl.000.000,- – B – 0,15 (Rp l.000.000,-- B)] 
B= 0,10 (Rpl.000.000,- – B – Rp l50.000,- + 0,15 B) 
B = Rp l00.000,- – 0,1 B – Rp l5.000,- + 0,015 B B + 0,10 B – 0,015 B = Rp 85.000,- 
1,0985 B = Rp 85.000,- 
B= Rp77.378,-. 

PPh dihitung dengan mengganti B dari persamaan kedua sebagai berikut:
P = 0,15 (Rpl.000.000,- - Rp77.378,-) = 0,15 (Rp922.622,-)
P = Rp l38.393,-.

Perhitungan jumlah yang masih akan dibayar untuk gaji dan upah, bunga, sewa, dan Iain-lain dilakukan dengan dasar waktu terjadinya biaya tersebut. Misalnya gaji pegawai dibayarkan tiap tanggal 5 bulan berikutnya. Jika gaji dan upah bulan Desember 2005 sebesar Rpl.200.000,- maka pada tanggal 31 Desember 2005 dibuat jurnal penye-suaian untuk mencatat utang gaji dan upah sebagai berikut:

Gaji dan upah                 Rpl.200.000,- 
Utang gaji dan upah       Rpl.200.000,- 

Prosedur yang sama digunakan juga untuk menghitung biaya-biaya lain yang masih akan dibayar.

- Pendapatan diterima di muka
Jumlah yang diterima dari langganan untuk barang-barang dan jasa-jasa yang akan diserahkan dalam periode yang akan datang dicatat sebagai pendapatan yang diterima di muka dan dilaporkan di bawah kelompok utang jangka pendek. Contoh dari pendapatan yang diterima di muka adalah uang muka yang diterima untuk langganan majalah/surat-surat kabar. Jumlah penerimaan ini merupakan pendapatan yang diterima di muka sampai majalah/surat kabarnya diserahkan pada pembeli.

Demikianlah materi tentang Utang Jangka Pendek yang sempat kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Taksiran Utang yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar…!!!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Utang Jangka Pendek (Short Term Debt)

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...