Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Saturday, September 16, 2017

Teori Rostow

Teori Rostow - Dari proses dan perubahan pola pikir masyarakat tentang pembangunan, pembangunan dapat dikatakan berhasil bila memenuhi syarat yaitu adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabilitas, namun pembangunan juga harus berkesinambungan serta adanya pemerataan sumber daya, maksudnya dampaknya pembangunan dapat diminimalisir yaitu minimalisisr kerusakan sosial serta meminimalisir terjadinya kerusakan alam. (Budiman Arief, 2000:8) Hal ini diperlukan karena orientasi pembangunan bukan hanya untuk saat ini, namun untuk dimasa yang akan datang atau dalam arti sustainable development atau pembangunan yang berkelanjutan. Untuk itu perlu kiranya memberikan suatu kritikan moral atas teori pembangunan.

Review Teori Rostow
Teori pembangunan dari Rostow ini sangat populer dan paling banyak mendapatkan komentar dari para ahli. Teori ini pada mulanya merupakan artikel Rostow yang dimuat dalam Economics Journal (Maret 1956) dan kemudian dikembangkannya lebih lanjut dalam bukunya yang berjudul The Stages of Economic Growth (1960). Menurut pengklasifikasian Todaro, teori Rostow ini dikelompokkan ke dalam model jenjang linear (linear stages mode/).

            Rostow pulalah yang membuat distingsi antara sektor tradisional dan sektor kapitalis modern. Frasa-frasa ini terkenal dengan terminologi ‘less developed’, untuk menyebut kondisi suatu negara yang masih mengandalkan sektor tradisional, dan terminologi ’more developed’ untuk menyebut kondisi suatu negara yang sudah mencapai tahap industrialisasi dengan mengandalkan sektor kapitalis modern.

            Dalam hal prekondisi untuk meningkatkan ekonomi suatu negara, penekanannya terdapat pada keseluruhan proses di mana masyarakat berkembang dari suatu tahap ke tahap yang lain. Tahap-tahap yang berbeda ini ditujukan untuk mengidentifikasi variabel-variabel kritis atau strategis yang dianggap mengangkat kondisi-kondisi yang cukup dan perlu untuk perubahan dan transisi menuju tahapan baru yang berkualitas. Teori ini secara mendasar bersifat unilinear dan universal, serta dianggap bersifat permanen. Pembangunan, dalam arti proses, diartikan sebagai modernisasi yakni pergerakan dari masyarakat pertanian berbudaya tradisional ke arah ekonomi yang berfokus pada rasional, industri, dan jasa. Untuk menekankan sifat alami ‘pembangunan’ sebagai sebuah proses, Rostow menggunakan analogi dari sebuah pesawat terbang yang bergerak sepanjang lintasan terbang hingga pesawat itu dapat lepas landas dan kemudian melayang di angkasa.

Teori Rostow
Teori Rostow

Pembangunan, dalam arti tujuan, dianggap sebagai kondisi suatu negara yang ditandai dengan adanya: a) kemampuan konsumsi yang besar pada sebagian besar masyarakat, b) sebagian besar non-pertanian, dan c) sangat berbasis perkotaan. Sebagai bagian teori modernisasi, teori ini mengkonsepsikan pembangunan sebagai modernisasi yang dicapai dengan mengikuti model kesuksesan Barat. Para pakar ekonomi menganggap bahwa
teori pertumbuhan ekonomi ini merupakan contoh terbaik dari apa yang diistilahkan sebagai ‘teori modernisasi’.
Menurut Rostow, proses pertumbuhan ekonomi bisa dibedakan ke dalam 5 tahap :
Masyarakat tradisional (the traditional society),
  1. Prasyarat untuk tinggal landas (the preconditions for take-off),
  2. Tinggal landas (the take-off),
  3. Menuju kekedewasaan (the drive to maturity), dan
  4. Masa konsumsi tinggi (the age of high mass-consumption)
Dasar pembedaan tahap pembangunan ekonomi menjadi 5 tahap tersebut adalah: Karakteristik perubahan keadaan ekonomi, sosial, dan politik yang terjadi.

Menurut Rostow, pembangunan ekonomi atau proses transformasi suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat moderen merupakan suatu proses yang multidimensional. Pembangunan ekonomi bukan hanya berarti perubahan struktur ekonomi suatu negara yang ditunjukkan oleh menurunnya peranan sektor pertanian dan peningkatan peranan sektor industri saja.

Menurut Rostow, disamping perubahan seperti itu, pembangunan ekonomi berarti pula sebagai suatu proses yang menyebabkan antara lain: perubahan orientasi organisasi ekonomi, politik, dan sosial yang pada mulanya berorientasi kepada suatu daerah menjadi berorientasi ke luar.
·         perubahan pandangan masyarakat mengenai jumlah anak dalam keluarga, yaitu dari menginginkan banyak anak menjadi keluarga kecil.
·         perubahan dalam kegiatan investasi masyarakat, dari melakukan investasi yang tidak produktif (menumpuk emas, membeli rumah, dan sebagainya) menjadi investasi yang produktif.
·         perubahan sikap hidup dan adat istiadat yang terjadi kurang merangsang pembangunan ekonomi (misalnya penghargaan terhadap waktu, penghargaan terhadap pertasi perorangan dan sebagainya).

1) Masyakarat Tradisional
            Masyarakat yang fungsi produksinya terbatas yang ditandai oleh cara produksi yang relatif masih primitif (yang didasarkan pada ilmu dan teknologi pra-Newton) dan cara hidup masyarakat yang masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kurang rasional, tetapi kebiasaan tersebut telah turun temurun. Tingkat produktivitas per pekerja masih rendah, oleh karena itu sebagian besar sumberdaya masyarakat digunakan untuk kegiatan sektor pertanian. Dalam sektor pertanian ini, struktur sosialnya bersifat hirarkhis yaitu mobilitas vertikal anggota masyarakat dalam struktur sosial kemungkinannya sangat kecil. Maksudnya adalah bahwa kedudukan seseorang dalam masyarakat tidak akan berbeda dengan nenek moyangnya.

            Sementara itu kegiatan politik dan pemerintah pada masa ini digambarkan Rostow dengan adanya kenyataan bahwa walaupun kadang-kadang terdapat sentralisasi dalam pemerintahan, tetapi pusat kekuasaan politik di daerah-daerah berada di tangan para tuan tanah yang ada di daerah tersebut. Kebijaksanaan pemerintah pusat selalu dipengaruhi oleh pandangan para tuan tanah di daerah tersebut.
2) Tahap Prasyarat Tinggal Landas

            Tahap prasyarat tinggal landas ini didefinisikan Rostow sebagai suatu masa transisi di mana masyarakat mempersiapkan dirinya untuk mencapai pertumbuhan atas kekuatan sendiri (selfsustained growth). Menurut Rostow, pada tahap ini dan sesudahnya pertumbuhan ekonomi akan terjadi secara otomatis.

Tahap prasyarat tinggal landas ini mempunyai 2 corak.
  1. Pertama adalah tahap prasyarat lepas landas yang dialami oleh negara-negara Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika, di mana tahap ini dicapai dengan perombakan masyarakat tradisional yang sudah lama ada.
  2. Kedua adalah tahap prasyarat tinggal landas yang dicapai oleh negara-negara yang born free (menurut Rostow) seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, di mana negara¬negara tersebut mencapai tahap tinggal landas tanpa harus merombak sistem masyarakat yang tradisional. Hal ini disebabkan oleh sifat dari masyarakat negara-negara tersebut yang terdiri dari imigran yang telah mempunyai sifat-sifat yang dibutuhkan oleh suatu masyarakat untuk tahap prasyarat tinggal landas.
            Seperti telah diungkapkan di muka, Rostow sangat menekankan perlunya perubahan-perubahan yang multidimensional, karena ia talk yakin akan kebenaran pandangan yang menyatakan bahwa pembangunan akan dapat dengan mudah diciptakan hanya jika jumlah tabungan ditingkatkan. Menurut pendapat tersebut tingkat tabungan yang tinggi akan mengakibatkan tiangkat investasi tinggi pula sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi yang dicerminkan oleh kenaikan pendapatan nasional. Namun menurut Rostow pertumbuhan ekonomi hanya akan tercapai jika diikuti oleh perubahan-perubahan lain dalam masyarakat. Perubahan-perubahan itulah yang akan memungkinkan terjadinya kenaikan tabungan can penggunaan tabungan itu sebaik-baiknya.

            Perubahan-perubahan yang dimaksudkan Rostow misalnya kemampuan masyarakat untuk menggunakan ilmu pengetahuan moderen dan membuat penemuan-penemuan baru yang bisa menurunkan biaya produksi. Disamping itu harus ada pula orang-orang yang menggunakan penemuan baru tersebut untuk memodernisir cara produksi dan harus didukung pula dengan adanya kelompok masyarakat yang menciptakan tabungan dan meminjamkannya kepada wiraswasta (entrepreneurs) yang inovatif untuk meningkatkan produksi dan menaikkan produktivitas. Singkatnya, kenaikan investasi yang akan menciptakan pembangunan ekonomi yang lebih cepat dari sebelumnya bukan semata-mata tergantung kepada kenaikan tingkat tabungan, tetapi juga kepada perubahan radikal dalam sikap masyarakat terhadap ilmu pengetahuan, perubahan teknik produksi, pengambilan resiko, dan sebagainya.
            Selain hal-hal di atas, Rostow menekankan pula bahwa kenaikan tingkat investasi hanya mungkin tercipta jika terjadi perubahan dalam struktur ekonomi. Kemajuan di sektor pertanian, pertambangan, dan prasarana harus terjadi bersama-sama dengan proses peningkatan investasi. Pembangunan ekonomi hanya dimungkinkan oleh adanya kenaikan produktivitas di sektor pertanian dan perkembangan di sektor pertambangan. Menurut Rostow, kemajuan sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam masa peralihan sebelum mencapai tahap tinggal landas. Sementara itu pembangunan prasarana, menurut Rostow, bisa menghabiskan sebagian besar dari dana investasi. Investasi di bidang prasarana ini mempunyai 3 ciri yaitu tenggang waktu antara pembangunannya dan pemetikan hasilnya (gestation period) sangat lama, pembangun¬annya harus dilakukan secara besar-besaran sehingga memerlukan biaya yang banyak, dan manfaat pembangunannya dirasakan oleh masyarakat banyak. Berdasarkan sifatnya ini, maka pembangunan prasarana terutama sekali harus dilakukan pemerintah.

Selain hal-hal yang diungkapkan di atas, Rostow juga menunjukkan bentuk perubahan dalam kepemimpinan pemerintahan dari masyarakat yang mengalami transisi. Untuk menjamin terciptanya pembangunan yang teratur, suatu kepemimpinan baru haruslah mempunyai sifat nasionalisme yang reaktif (reactive nationalism) yaitu bereaksi secara positif atas tekanan¬tekanan dari negara maju. Rostow yakin bahwa tanpa adanya tekanan atau hinaan dari negara¬negara maju, modernisasi yang terjad Tahap Tinggal Landas

3) Tahap tinggal landas
            pertumbuhan ekonomi selalu terjadi. Pada awal tahap ini terjadi perubahan yang drastis dalam masyarakat seperti revolusi politik, terciptanya kemajuan yang pesat dalam inovasi, atau berupa terbukanya pasar-pasar baru. Sebagai akibat dari perubahan¬perubahan tersebut secara teratur akan tercipta inovasi-inovasi dan peningkatan investasi. Investasi yang semakin tinggi ini akan mempercepat laju pertumbuhan pendapatan nasional dan melebihi tingkat pertumbuhan penduduk. Dengan demikian tingkat pendapatan per kapita semakin besar.


Rostow mengemukakan 3 ciri utama dan negara-negara yang sudah mencapai masa tinggal landas yaitu:
  1. Terjadinya kenaikan investasi produktif dari 5 persen atau kurang menjadi 10 persen dari Produk Nasional Bersih (Net National Product= NNP).
  2. Terjadinya perkembangan satu atau beberapa sektor industri dengan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi (leading sectors).
  3. Terciptanya suatu kerangka dasar politik, sosial, dan kelembagaan yang bisa menciptakan perkembangan sektor modern dan eksternalitas ekonomi yang bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi terus terjadi. Di sini juga termasuk kemampuan negara tersebut untuk mengerahkan sumber-sumber modal dalam negeri, karena kenaikan tabungan dalam negeri peranannya besar sekali dalam menciptakan tahap lepas landas. Inggris dan Jepang, misalnya mencapai masa tinggal landas tanpa mengimpor modal (bantuan luar negeri) sama sekali.

            Menurut Rostow  perkembangan sektor pemimpin (leading sector) berbeda¬beda untuk setiap negara. Di Inggris, tekstil katun merupakan sektor pemimpin pada masa tinggal landasnya, sedangkan perkembangan jaringan jalan kereta api memegang peranan yang sama di Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Kanada, dan Rusia. Di Swedia, sektor pemimpin adalah industri kayu, di Jepang sutera, dan Argentina adalah industri substitusi impor barang-barang konsumsi.

            Berdasarkan pada kenyataan tersebut, Rostow mengambil kesimpulan bahwa untuk mencapai tahap tinggal landas tidak satu sektor ekonomipun yang baku untuk semua negara yang bisa menciptakan pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, suatu negara tertentu tidak bisa hanya sekadar mencontoh pola perkembangan sektor pemimpin negara-negara lain. Namun demikian, ada 4 faktor penting yang harus diperhatikan dalam menciptakan sektor pemimpin yaitu:
  • Harus ada kemungkinan untuk perluasan pasar bagi barang-barang yang diproduksi yang mempunyai kemungkinan untuk berkembang dengan cepat.
  • Dalam sektor tersebut harus dikembangkan teknik produksi yang modern dan kapasitas produksi harus bisa diperluas.
  • Harus tercipta tabungan dalam masyarakat dan para pengusaha harus menanamkan kembali keuntungannya untuk membiayai pembangunan sektor pemimpin.
  • Pembangunan dan transformasi teknologi sektor pemimpin haruslah bisa menciptakan kebutuhan akan adanya perluasan kapasitas dan modernisasi sektor-sektor lain.

4) Tahap Menuju Kekedewasaan
           Tahap menuju kedewasaan ini diartikan Rostow sebagai masa di mana masyarakat sudah secara efektif menggunakan teknologi moderen pada hampir semua kegiatan produksi. Pada tahap ini sektor-sektor pemimpin baru akan muncul menggantikan sektor-sektor pemimpin lama yang akan mengalami kemunduran. Sektor-sektor pemimpin baru ini coraknya ditentukan oleh perkem¬bangan teknologi, kekayaan alam, sifat-sifat dari tahap lepas landas yang terjadi, dan juga oleh kebijaksanaan pemerintah. Dalam menganalisis karakteristik tahap menuju ke kedewasaan, Rostow menekankan analisisnya kepada corak perubahan sektor-sektor pemimpin di beberapa negara yang sekarang sudah maju. la juga menunjukkan bahwa di tiap-tiap negara tersebut jenis-jenis sektor pemimpin pada tahap sesudah tinggal landas adalah berbeda dengan yang ada pada tahap tinggal landas. Di Inggris, misalnya, industri tekstil yang telah mempelopori pembangunan pada tahap tinggal landas telah digantikan oleh industri besi, batu bara dan peralatan teknik berat. Sedangkan di Amerika Serikat, Perancis, dan Jerman di mana pembangunanjaringanjalan kereta api memegang peranan penting pada tahap tinggal landas, telah digantikan oleh industri baja dan industri peralatan berat pada tahap menuju ke kedewasaan.

Selanjutnya Rostow mengemukakan pula karakteristik non-ekonomis dari masyarakat yang teiah mencapai tahap menuju ke kedewasaan sebagai berikut:
  • Struktur dan keahlian tenaga kerja mengalami perubahan. Peranan sektor industri semakin penting, sedangkan sektor pertanian menurun.
  • Sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami perubahan. Peranan manajer professional semakin penting dan menggantikan kedudukan pengusaha-pemilik.
  • Kritik-kritik terhadap industrialisasi mulai muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap dampak industrialisasi.
5) Tahap Konsumsi Tinggi

Tahap konsumsi tinggi ini merupakan tahap terakhir dari teori pembangunan ekonomi Rostow. Pada tahap ini perhatian masyarakat telah lebih menekankan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat bukan lagi kepada masalah produksi.

Pada tahap ini ada 3 macam tujuan masyarakat (negara) yaitu:
  1. Memperbesar kekuasaan dan pengaruh ke luar negeri dan kecenderungan ini bisa berakhir pada penjajahan terhadap bangsa lain.
  2. Menciptakan negara kesejahteraan (welfare state) dengan cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan yang lebih merata melalui sistem pajak yang progresif.
  3. Meningkatkan konsumsi masyarakat melebihi kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan) menjadi meliputi pula barang-barang konsumsi tahan lama dan barang-barang mewah.
Beberapa Kritik terhadap Teori Rostow
Beberapa kritik yang muncul terhadap teori Rostow ini antara lain berkaitan dengan adanya tumpang tindih tahapan, periode jangka waktu tahap tinggal landas yang meragukan, adanya masyarakat yang tidak melalui tahap tradisional.

Berikut beberapa gambaran kritik yang dilontarkan terhadap Teori pertumbuhan ekonomi menurut Rostow:

  • Teori Rostow dianggap terlalu sederhana;
  • Rostow menyebut tentang tabungan dan investasi namun tidak mengklarifikasi mengenai perlunya infrastruktur keuangan untuk menyalurkan tabungan yang ada ke dalam investasi;
  • Bahwa investasi yang dimaksud Rostow belum tentu akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi;
  • Rostow tidak memasukkan unsur-unsur lain sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Perlunya infrastruktur lainnya seperti sumber daya manusia (pendidikan), jalan-jalan, jalur kereta api, jaringan-jaringan komunikasi;
  • Teori Rostow tidak menjelaskan bahwa efisiensi dari penggunaan investasi apakah ditujukan untuk aktivitas-aktivitas produksi ataukah untuk penggunaan lainnya;
  • Bahwa pernyataan Rostow mengenai ekonomi negara-negara di dunia akan saling mempelajari satu sama lain dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk pembangunan pada kenyataannya belum pernah terjadi.
  • Argumentasi Rostow tentang pertanian sebagai ciri keterbelakangan tidak beralasan.
  • Rostow berargumentasi bahwa tahapan pertumbuhan ekonomi di Eropa akan juga terjadi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
  • Bahwa sejarah pada kenyataannya tidak akan berulang dengan cara yang sama. Dengan kata lain, bahwa setiap pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia tidak selalu sama, tetapi justru punya karakteristik masing-masing.

CRITICAL REVIEW ATAS TEORI ROSTOW
Teori modernisasi berkembang di Amerika pada tahun 1950-an, yang diprakarsai oleh kaum intelektual sebagai respon dari perang dunia ke-2. Teori ini terlibat pada perang dingin antara ideologi sosialisme dengan kapitalisme (Fakih, 2001:53). Ideologi ini ditawarkan kepada para negara yang baru merdeka untuk dijadikan sebuah pedoman dalam pembangunan di negara-negara yang baru merdeka. Negara-negara yang baru merdeka menjadi bahan perebutan untuk penerapan ideologi ini sehingga para negara penganut sosialisme dan kapitalisme ini berlomba dalam merebut hati negara-negara yang baru merdeka untuk menerapkan ideologi mereka.
Pada mulanya teori modernisasi merupakan sebuah gagasan tentang perubahan sosial. Kajian modernisasi ini ditekankan pada negara dunia ke-tiga yang mengkaji tentang perubahan sosial yang terjadi di dunia ke-tiga tersebut. Modernisasi sebagai gerakan sosial yang bersifat revolusioner(perubahan cepat dari tradisi ke modern), berwatak kompleks, sistematik, menjadi gerakan global yang mempengaruhi manusia, melalui proses yang bertahap, dan bersifat progresif (Fakih, 2001:53-54). Huntington (dalam Suwarsono dan So, 1994:21)  mengatakan bahwa teori modernisasi merupakan anak dari metofora teori evolusi. Teori evolusi menjelaskan bahwa perubahan sosial pada dasarnya merupakan gerakan searah, linier, progresif dan perlahan-lahan, membawa perubahan pada masyarakat dari primitif ke modern, dan membuat masyarakat memiliki bentuk dan strukur serupa (homogenitas).

Modernisasi Pembangunan melalui Pertumbuhan Ekonomi Rostow
Pertumbuhan ekonomi yang diterangkan oleh Rostow merupakan perubahan secara bertahap. Rostow menjelaskan modernisasi melalui pertumbuhan ekonomi yang bertahap, yaitu ada lima tahap. Tahapan yang dilukiskan oleh Rostow seperti penerbangan pesawat yaitu masyarkat tradisional, prasyarat tinggal landas, tinggal landas, dewasa, dan konsumsi tinggi. Tahapan masyarakat tradisional merupakan tahapan dasar dimana Rostow mencirikan adanya ikatan kekeluargaan (gemeinschaft), pertanian merupakan salah satu sumber mata pencaharian penduduknya, kentalnya upacara-upacara adat, dan pembuatan monumen atau candi. Prasyarat tinggal landas merupakan tahapan kedua, pada tahapan ini adalah proses transisi masyarakat. Proses ini dicirikan oleh Mulai menerapkan ilmu pengetahuan modern, peningkatan penggunaan modal dalam pertanian dan pertambangan, penanaman modal digunakan untuk membangun infrastruktur, adanya pendanaan terhadap enterprenenur  yang inovatif, dan adanya elite-elite baru (Jhingan, 2008:142).

Tahapan setelah prasyarat tinggal landas yaitu tinggal landas. Tahap tinggal landas ini merupakan tahapan yang penting, dimana pertumbuhan pada masa normal yaitu adanya suatu kesiapan untuk menuju modern dari tahapan sebelumnya yaitu tradisional. Syarat tinggal landas menurut Rostow ada tiga yaitu, kenaikan laju investasi netto dari 5% dan melebihi 10% persen dari pendapatan nasional, pengembangan sektor-sektor penting dengan pertumbuhan ekonomi, dan kerangka budaya yang mendorong ekspansi. Investasi diperlukan pada tahap tinggal landas untuk mengantisipasi pertumbuhan penduduk di dunia ketiga sehingga output per kapita perlu ditingkatkan. Pengembangan sektor-sektor penting merupakan tulang punggung untuk menyokong pertumbuhan ekonomi disini mulai berkembangnya sektor-sektor manufaktur dan didukung oleh transportasi untuk menyokong pendistribusiannya. Kerangka budaya yang mendorong ekspansi yaitu pada tataran sosial politik, yaitu masyarakat mempunyai keinginan untuk mempermodern perekonomiannya melalui penguatan di bidang sosial, ekonomi, dan budaya (Jhingan, 2008:144-147). Tahap tinggal landas adalah tahapan dimana seorang penumpang pesawat menyiapkan segalanya untuk segera terbang lepas landas sehingga saat ini merupakan saat-sat yang penting.

Tahap kedewasaan diamana masyarakat telah dengan efektif menerapkan serentetan teknologi modern terhadap keseluruhan sumber daya. Kedewasaan Ditandai dengan penerapan secara efektif teknologi, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, munculnya leading sector yang baru, struktur dan keahlian tenaga kerja mengalami perubahan yaitu tenaga kerja yang terdidik menginisiasi untuk mendapatkan jaminan sosial, sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami perubahan, masyarakat merasa bosan dengan industrialisasi dan menginginkan perubahan lebih jauh. Tahap yang terakhir yaitu era konsumsi tinggi, hal ini ditandai oleh mobilitas penduduk dari daerah pinggiran ke pusat kota, pemakaian barang-barang konsumen tahan lama di sektor rumah tangga, pemakaian sarana transportasi seperti mobil dan motor yang meningkat, dan upaya pemenuhan kesejahteraan melalui jaminan sosial. Negara yang mengalami konsumsi tingga adalah Amerika Serikat pada tahun 1920 diikuti Inggris pada tahun 1930-an, Jepang dan eropa barat pada tahun 1950-an.

Kritik Terhadap Pembangunan melalui Pertumbuhan Ekonomi Rostow
Teori modernisasi yang dikembangkan Rostow melalui metafora pertumbuhan ekonomi dilakukan secara bertahap. Tahapan-tahapan yang bersifat linear ini seperti perkembangan manusia dimana adanya suatu kelahiran menjadi anak-anak yang tidak tahu apa-apa kemudian dewasa dan masa tua yang terakhir mati. Proses yang bersifat ssistematis pada teori pertumbuhan Rostow ditemukan beberapa kritik mengenai tahapan-tahapan tersebut. Pada tahap masyarakat tradisional, tidak semua negara harus melewati tahap ini karena negara seperti Amerika, Kanada dan Australia tidak melalui tahap dari masyarakat tradisional. Negara tersebut merupakan negara pra kondisi atau pra syarat tinggal landas yang di warisi oleh inggris sehingga mereka tidak melalui tahapan masyarakat tradisional.

Terdapatnya kesemuan dari batas-batas pra syarat tinggal landas ke tinggal landas. Yaitu pada masa tingga landas masih banyak pengembangan pertanian untuk memupuk modal, sehingga tidak jelasnya batas-batas antara pra syarat tinggal landas dengann tinggal landas. Tahapan antar tahapan ini terlihat tumpang tindih karena tidak terlihat batas-batas atau waktu dari tahapan tersebut. Tahap tinggal landas menurut Rostow diibaratkan dengan tahapan yang penting namun, tahapan tinggal landas juga merupakan tahapan yang kritis. Pada tahapan diperlukan investasi sebesar 5% sampai 10% untuk menyokong pendapatan nasional, hal ini menandakan terbukanya keran aliran dana asing. Terbukanya keran aliran dana asing ini dapat membuat ketergantungan terhadap negara tersebut karena Rostow membayangkan bahwa tahapan-tahapan ini berjalan mulus saja, beliau tidak memerhatikan faktor-faktor lain seperti krisis global yang dapat mempengaruhi negara-negara penerima aliran dana asing tersebut. Kemudian jadwal tinggal landas yang tidak pasti, pada contoh kasus di India yang ditargetkan tinggal landas pada tahun 1932 namun baru diterbitkan pada tahun 1952 sedangkan Rostow menargetkan untuk tinggal landas memerluka waktu dua dasawarsa (Jhingan, 2008:151).


Tahapan yang begitu linear ini tidak harus dilakukan secara bertahap Rostow menilai pembangunan dengan bertahap sedangkan ada pembangunan pada salah satu negara yang tidak melalui tahap-tahap tersebut. Teori ini juga tidak memerhatikan kedaan sosial-budaya dari masyarakat dunia ke-tiga, teori ini diterapkan pada negara-negara dunia pertama, sedangakan antara negara dunia pertama dan dunia ke-tiga memiliki pengalaman yang berbeda. Negara dunia ke-tiga mempunyai pengalaman-pengalaman kolonialisme sedangkan negara duni pertama tidak mengalami pengalaman tersebut. Pada tahap tinggal landas di negara terbelakang bahwa Rostow berpendapat  penggangguran harus diatasi sehingga mengangkat pertumbuhan menuju swadaya (Jhingan, 2008:153). Penggangguran dapat disebabkan karena spread effect dari pertumbuhan ini tidak dapat menyebar pada seluruh lapisan sehingga ada golongan-golongan yang tertinggal sehingga menimbulkan pengangguran. Secara ideologis teori ini juga terlibat dalam perang dingin karena teori ini untuk merebut hati negara-negara terbelakang yang baru merdeka. Adanya induksi dari negara-negara yang sedang berkonflik untuk membuktikan kekuatan melalui ideologi-ideologi yang mereka tawarakan pada negara yang baru merdeka. Model teori pertumbuhan ekonomi Rostow ini merupakan bagian dari teori modernisasi. Teori yang mempunyai sifat pengujian sudah wajar apabila tiap teori mempunyai kritik tersendiri sehingga teori tersebut merupakan suatu diskursus.

Demikianlah materi tentang Teori Rostow yang sempat kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Macam-Macam Pasar Modal yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar…!!!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Teori Rostow

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...