Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Saturday, September 16, 2017

Mengenal Apa Itu Want, Need, Demand dan Utility

Mengenal Apa Itu Want, Need, Demand dan Utility - Secara ringkas, informasi mengenai kebutuhan pelanggan bagi penyedia pelayanan kesehatan adalah upaya untuk menciptakan penawaran program yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Sehingga, kepuasan pelanggan dapat tercapai. Dengan demikian, pembahasan tentang permintaan dan penawaran, serta kepuasan menjadi bahasan yang penting bagi penyedia pelayanan kesehatan dalam melaksanakan fungsinya.
Pengertian Want, Need, Demand dan Utility
Menurut Septo P. Arso (2009), kebutuhan (need) diartikan sebagai keadaan kurangnya atau tidak adanya pemenuhan kebutuhan secara mendasar. Kebutuhan menyatakan tuntutan dasar manusia. Sedangkan keinginan (want) diartikan sebagai hasrat terhadap pemenuhan yang lebih lanjut setelah merasakan kebutuhan. Keinginan biasanya bersifat subjektif dan bersifat individual. Permintaan (demand) adalah hasrat terhadap produk yang dapat memenuhi keinginan yang telah didukung dengan kemampuan dan kemauan untuk membayar. 

Pengertian permintaan (demand) tidak terpisah dari arti kebutuhan (need) dan keinginan (want). Kebutuhan (need) adalah sesuatu yang dirasa kurang dari diri manusia itu sendiri, keinginan (want) adalah sesuatu yang dirasa kurang karena lingkungan, dan permintaan (demand) adalah keinginan yang disertai dengan daya beli. Demand merupakan ungkapan permintaan dari keinginan dan kebutuhan (Irawan dkk., 1996)
Mengenal Apa Itu Want, Need, Demand dan Utility
Mengenal Apa Itu Want, Need, Demand dan Utility

Menurut Philip Kotler (2002), definisi dari kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan permintaan (demand) adalah sebagai berikut:

1. Kebutuhan (needs) dimana manusia merasa kekurangan. Kebutuhan (needs) adalah keinginan manusia atas barang dan jasa yang perlu dipenuhi untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Needs menggambarkan kebutuhan dasar manusia seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan lainnya. Needs menjadi wants jika kebutuhan tadi telah menjurus pada satu keinginan tertentu yang dapat memberikan kepuasan. Kebutuhan dibagi menjadi dua, yaitu perceived needs dan expressed needs. Perceived needs atau kebutuhan yang dirasakan adalah hasrat atau keinginan yang dimiliki oleh semua orang dimana kebutuhan ini menunjukkan kesenjangan antara tingkat keterampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Sedangkan expressed needs atau kebutuhan yang diekspresikan yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu untuk ditunjukkan dalam tindakan.

2. Keinginan (wants) adalah kebutuhan (needs) yang dibentuk oleh budaya dan kepribadian individu.

3. Permintaan (demand) adalah keinginan yang didukung daya beli. Demand atau permintaan adalah jumlah dari suatu barang yang mau dan mampu dibeli pada berbagai kemungkinan harga, selama jangka waktu tertentu, dengan anggapan berbagai hal lain tetap sama (ceteris paribus). Mau dan mampu disini memiliki arti betapapun orang berkeinginan atau membutuhkan sesuatu, kalau ia tidak mempunyai uang atau tidak bersedia mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membeli, maka keinginan itu tetap keinginan dan belum disebut permintaan. Namun ketika keinginan/kebutuhan itu disertai kemauan dan kemampuan untuk membeli dan didukung oleh uang yang secukupnya untuk membayar harga disebut permintaan.

Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa permintaan (demand) tidak terpisah dari kebutuhan (need) dan keinginan (want). Kebutuhan (need) berawal dari keinginan (want). Sedangkan permintaan atau demand merupakan kebutuhan (need) yang telah didukung dengan daya beli. 

Cara Mengukur Need, Demand dan Utility
Pengukuran need bertujuan untuk menggali dan mengetahui selera pasar terhadap suatu produk. Sedangkan pengukuran demand dapat membantu produsen mengetahui penggunaan atau pemanfaatan produk oleh pasar secara real, karena demand merupakan realisasi dari need.

Walaupun demikian, pengukuran need saja atau demand saja belum mampu mengukur kebutuhan konsumen terhadap produk yang akan digunakan untuk realisasi penjualan di masa mendatang. Sehingga setelah dilakukan pengukuran need, perlu juga dilakukan pengukuran demand.

Cara Pengukuran Need dan Demand
Pengukuran Need dan Demand dapat dilakukan baik pada individu maupun organisasi. Cara pengukuran untuk need dan demand pada tingkat individu tentunya berbeda dengan pengukuran pada tingkat organisasi.

Pengukuran need terhadap individu tidak dapat dilakukan dengan observasi. Hal ini dikarenakan need merupakan sesuatu yang masih ada dalam benak konsumen dan belum terealisasikan sehingga akan sangat sulit jika pengukuran need dilakukan dengan observasi. Cara pengukurannya adalah dengan melakukan indepth interview terhadap konsumen atau melalui kuisioner.

Need dapat diukur baik sebelum maupun setelah penggunaan produk. Berbeda dengan demand, pengukurannya harus dilakukan setelah penggunaan produk. Demand dapat diukur dengan menggunakan metode observasi maupun wawancara.

Bagi organisasi, pengukuran need dan demand tentu penting untuk realisasi penjualan produk. Pengukurannya dapat dilakukan dengan melihat data dan catatan laporan penjualan perusahaan.

Cara Pengukuran Utility
Pengukuran utility dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung.

a. Metode Langsung
Pengukuran utility secara langsung dapat dilakukan dengan melakukan wawancara atau kuisioner kepada konsumen yang telah menggunakan suatu produk. Pertanyaan tentu berkenaan dengan penggunaan atau pemanfaatan produk tersebut. Jawaban dari wawancara atau kuisioner secara ordinal.

b. Metode Tidak Langsung
Secara tidak langsung, pengukuran utility dilakukan 2 kali, yaitu pertama mengukur harapan konsumen terhadap produk, kemudian mengukur kenyataan atau realitas penggunaan produk tersebut. Jika secara realnya lebih baik dari harapan, berarti konsumen sangat puas. Harapan sama dengan kenyataannya, berarti konsumen puas. Sebaliknya jika harapan lebih besar dari kenyataannya, maka konsumen dapat dikatakan tidak puas.

Bentuk Kurva Demand dan Elastisitasnya

1. Bentuk Kurva Demand
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa permintaan adalah suatu kemauan dan kemampuan pembeli untuk dapat membeli produk (barang atau jasa) tertentu. Untuk dapat membeli produk yang diinginkan tersebut maka terdapat banyak sekali hal yang mampu mempengaruhi permintaan. Pada pembahasan sebelumnya juga telah dijelaskan mengenai hukum permintaan bahwa “Permintaan terhadap barang atau jasa cenderung turun apabila harga barang atau jasa tersebut meningkat, dan sebaliknya, permintaan terhadap suatu barang atau jasa meningkat apabila harga barang atau jasa tersebut turun (Ceteris paribus)”. Hukum tersebut menekankan pada kondisi terjadinya permintaan yang ada dalam dunia ekonomi dan akan menunjukkan seperti apa gambaran situasinya dalam kurva permintaan.

Menurut Sadono Sukirno (2009) dalam bukunya dengan judul Teori Pengantar Mikro Ekonomi, yang dimaksud kurva permintaan adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan antara harga suatu barang tertentu dengan jumlah barang yang diminta para pembeli. Jadi, permintaan dapat digambarkan pada dua hal yang telah disebutkan, yaitu harga dan jumlah barang yang diminta dalam kondisi ceteris paribus.Berikut adalah contoh dari pembentukan kurva permintaan.

Tabel 2.1 Permintaan Terhadap Buku Tulis pada Berbagai Tingkat Harga
Permintaan Terhadap Buku Tulis pada Berbagai Tingkat Harga

Dari tabel tersebut, akan dapat digambarkan kurva permintaan seperti berikut:
Kurva Permintaan Permintaan Terhadap Buku Tulis

Gambar 2.1 Kurva Permintaan Permintaan Terhadap Buku Tulis 

Sumber : Sadono Sukirno, Teori Pengantar Mikro Ekonomi

Dari gambar dalam kurva permintaan tersebut, titik P, Q, R, S, T adalah titik temu dari tiap kondisi tingkat harga buku tulis yang ada pada saat tersebut dengan jumlah permintaan yang terjadi. Umumnya bentuk kurva akan menurun dari kiri atas ke kanan bawah akibat hubungan harga dengan jumlah yang memang memiliki hubungan terbalik. Jika salah satu variabel naik (misal, harga), maka akan terjadi penurunan pada variabel lainnya (jumlah barang yang diminta).

2 Elastisitas Demand
Elastisitas permintaan harga menunjukkan seberapa besar perubahan permintaan atas suatu barang sebagai akibat dari perubahan haga barang/jasa itu sendiri. Elastisitas permintaan harga dapat diketahui melalui nilai koefisien elastisitas permintaan (Ed) yang berkisar diantara nol sampai tak terhingga atau 0 ≤ Ed ≥ 1. Nilai koefisien elastisitas permintaan didapatkan dari penghitungan presentasi perubahan jumlah barang yang diminta dibagi dengan presentasi perubahan harga.

Berdasarkan tingkat elastisitasnya, elastisitas permintaan harga dapat dibedakan menjadi 5 yaitu:

a. Tidak elastis sempurna (Ed= 0)

Kurva Tidak Elastis Sempurna


Gambar 2.2 Kurva Tidak Elastis Sempurna 

Permintaan disebut tidak elastis sempurna apabila koefisien elastisitas bernilai 0. Dalam hal ini artinya adalah berapapun perubahan harga yang terjadi tidak mempengaruhi dan tidak merubah kuantitas atau jumlah permintaan barang/jasa. Jumlah barang/jasa yang diminta akan tetap saja walaupun harga mengalami kenaikan atau penurunan.Secara matematis %∆Q = 0, berapapun %∆P. Dengan demikan, kurva permintaannya berbentuk vertikal atau sejajar dengan sumbu harga (P). kurva berbentuk vertikal ini berarti bahwa berapapun harga yang ditawarkan, kuantitas barang/jasa tetap tidak berubah.

Kasus permintaan tidak elastis sempurna terjadi apabila konsumen dalam membeli barang tidak lagi memperhatikan harganya, tetapi lebih memperhatikan pada seberapa besar kebutuhannya dan kegunaan barang tersebut. Peningkatan harga akan menyebakan meningkatnya total pendapatan. Contohnya adalah obat pada waktu sakit dan membeli lukisan karya pelukis terkenal yang telah meninggal. Konsumen membeli obat ketika sakit lebih mempertimbangkan kebutuhannya akan obat agar dapat cepat sembuh, bukan kepada harganya. Sama halnya dengan pembelian lukisan karya pelukis yang telah meninggal, berapapun harga yang ditawarkan si pelukis tidak dapat menambah kuantitas dari lukisan tersebut.

b. Tidak elastisitas (0 < Ed< 1)
Kurva Tidak Elastis
Gambar 2.3 Kurva Tidak Elastis 

Permintaan disebut tidak elastis apabila koefisien elastisitas bernilai kurang dari 1 atau diantara 0 dan 1.Dalam hal ini artinya adalah prosentase perubahan harga adalah lebih besar daripada prosentase perubahan jumlah barang/jasa yang diminta.Perubahan harga yang terjadi hanya diikuti perubahan jumlah atau kuantitas permintaan barang/jasa yang relatif lebih kecil.Secara sistematis %∆Q < %∆P. Dengan kata lain, perubahan harga kurang begitu berpengaruh pada perubahan permintaan.

Contoh permintaan tidak elastis ini dapat terjadi diantaranya pada produk kebutuhan pokok,seperti beras dan bensin. Dalam kondisi yang normal, setiap orang akan tetap membutuhkan beras sebagai makanan pokok walaupun harga beras naik. Sebaliknya jika harga beras turun, hal itu tentu tidak akan menambah pola konsumsi beras karena konsumen memiliki keterbatasan yaitu rasa kenyang. Sama halnya dengan kebutuhan bensin. Jika harga bensin naik, tingkat penurunan penggunaannya tidak sebesar tingkat kenaikan harganya. Hal ini dikarenakan para pengendara kendaraan bermotor tetap membutuhkan bensin untuk mengisi bahan bakar kendaraannya agar dapat bisa berpergian. Namun jika harga bensin turun, para pengendara motor tidak mungkin berpergian terus-menerus dan menikmati penurunan harga bensin tersebut. Karakteristik produk yang seperti itu mengakibatkan permintaan menjadi tidak elastis.

c. Elastisitas uniter (Ed= 1)

Kurva Elastisitas Uniter
Gambar 2.4 Kurva Elastisitas Uniter 
Permintaan disebut elastis uniter apabila koefisien elastisitas bernilai 1. Dalam hal ini artinya adalah berapapun perubahan harga pengaruhnya sebanding terhadap perubahan jumlah atau kuantitas barang/jasa yang diminta dengan prosentase perubahan yang sama. Secara sistematis, %∆Q = %∆P.

Jika harga berubah turun sebesar 10% maka jumlah barang/jasa yang diminta juga akan berubah menjadi naik sebesar 10%. Jadi perubahan permintaan dibandingkan perubahan harga adalah 1 : 1. Sebagai contoh sebuah toko menjual penggaris merek tertentu. Suatu saat harga penggaris tersebut naik menjadi Rp 1.500,00 dari harga awal Rp 1.000,00.Semula dalam sehari penggaris mampu terjual 10 buah, namun setelah harga penggaris naik, penggaris hanya terjual 5 buah. Harga penggaris naik sebesar Rp 500,00 dari harga semula Rp 1.000,00. Jadi proporsi kenaikannya adalah 500/1000 = 1/2. Sedangkan jumlah permintaan turun sebesar 5 buah dari jumlah permintaan semula sebanyak 10 buah. Jadi proporsi penurunan jumlah permintaannya adalah 5/10 = 1/2. Dari contoh tersebut dapat disimpulkan, bahwa proporsi kenaikan harga penggaris sebesar 1/2 dari harga semula sebanding dengan proporsi penurunan jumlah permintan sebesar 1/2 dari jumlah permintaan semula, sehingga didapatkan nilai koefisien elastisitasnya adalah satu.

Kasus permintaan elastisitas uniter sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, kalaupun terjadi sebenarnya hanyalah secara kebetulan. Permintaan elastisitas uniter lebih sebagai pembatas antara permintaan elastis dan tidak. Contoh barang/jasa yang elastisitasnya uniter sebenarnya tidak dapat disebutkan secara spesifik, sehingga belum tentu ada produk yang dapat dikatakan memiliki elastisitas yang uniter.


d. Elastis (Ed> 1)

Kurva Elastis

Gambar 2.5 Kurva Elastis 

Permintaan disebut elastis apabila koefisien elastisitas bernilai lebih dari 1. Dalam hal ini artinya adalah prosentase perubahan jumlah atau kuantitas barang/jasa lebih besar daripada prosentase perubahan harga. Perubahan harga yang terjadi diikuti oleh perubahan jumlah atau kuantitas permintaan barang/jasa dalam jumlah yang lebih besar. Secara sistematis %∆Q > %∆P. Dengan kata lain, perubahan harga berpengaruh cukup besar pada perubahan jumlah permintaan.

Kasus permintaan elastis terjadi apabila permintaan peka terhadap perubahan harga. Hal ini dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan terjadi pada produk yang mudah dicari subsitusinya. Sehingga ketika harganya naik, konsumen akan dengan mudah menemukan produk penggantinya. Contohnya adalah barang-barang mewah, seperti mobil, alat-alat elektronik, pakaian, dan lain-lain.

e. Elastis sempurna (Ed= ∞)

 Kurva Elastisitas Sempurna

Gambar 2.6 Kurva Elastisitas Sempurna 

Permintaan disebut elastis sempurna apabila koefisien elastisitas bernilai tak terhingga. Dalam hal ini artinya adalah pada suatu harga tertentu pasar sanggup membeli semua barang yang ada di pasar. Berapa pun banyaknya barang yang ditawarkan oleh penjual pada harga tersebut, semuanya akan dapat terjual. Namun setiap kenaikan harga, tidak peduli seberapa kecil, akan menyebabkan permintaan turun ke nol yang dapat mengakibatkan total pendapatan menurun drastis. Secara sistematis %∆P= 0. Bentuk kurva permintaannya horizontal atau sejajar dengan sumbu jumlah barang/jasa yang diperjualbelikan (Q).

Kasus permintaan elastis sempurna terjadi apabila suatu harga barang/jasa bersifat komoditi, yaitu barang/jasa yang memiliki karakteristik dan fungsi yang sama walaupun dijual di tempat yang berbeda tetap akan mempunyai harga yan sama. Contohnya adalah membeli isi stapler merek J dan K yang rata-rata berharga Rp 2500. Jika kita ke toko untuk membeli isi stappler, kita cenderung tidak akan memperhatikan perbedaan merek. Satu-satunya yang sering dijadikan bahan perbandingan adalah harga. Kita akan membeli isi stappler yang harganya paling murah atau pada harga rata-rata yang diterima oleh pasar. Akibatnya, bagi toko dan produsen yang menjual isi stappler diatas harga rata-rata permintaan akan barangnya akan turun ke nol karena semua isi stappler fungsinya sama, meskipun harganya berbeda-beda.

Untuk menunjukkan perbandingan antara jenis elastisitas permintaan dapat dimisalkan ada suatu produk yang harganya naik dari Rp 5.000,00 menjadi Rp 7.500,00 yaitu kenaikan harga sebesar 50%. Maka elastisitas yang terjadi adalah :


Kurva Perbandingan Jenis Elastisitas Permintaan


4 Faktor yang Mempengaruhi Permintaan dan Elastisitas Permintaan
Menurut Jaesron (2003), permintaan konsumen terhadap suatu barang tidak hanya dipengaruhi oleh harga dari barang lain, selera dan sebagainya. Secara matematis hal itu dapat dirumuskan dalam formula sebagai berikut:

Qx= f(x)cp

Menurut Gulton (1996), tingkat harga suatu barang berpengaruh terhadap besarnya jumlah yang dibeli oleh seseorang. Makin mahal harga suatu barang, maka akan berkurang jumlah yang dibeli dengan syarat keadaan yang lain- lain tidak berubah (cateris paribus). Jika rumus diatas diuraikan dengan beberapa variabel, maka didapatkan hasil formula sebagai berikut:



Qx = Jumlah barang X yang diminta

Px = Harga barang X per unit

Ax = Advertensi barang

Dx = Desain barang

Ox = Outlet (tempat menjual ) barang X

Ic = Income (pendapatan) konsumen

Tc = Taste (selera atau cita rasa) konsumen

Ec = Expectation (harapan, perkiraan atau ramalan) konsumen

Py = Harga barang Y per unit

Ay = Advertensi barang Y

Dy = Desain barang Y

Oy = Outlet (tempat menjual) barang Y

N = Number (jumlah) penduduk

W = Weather (cuaca)

G = Government (kebijakan pemerintah)

Terdapat empat kelompok variabel didalam persamaan fungsional tersebut, yakni variabel strategis, variabel konsumen, variabel pesaing, dan variabel lain. Kelompok variabel strategis berisi variabel-variabel yang dapat dikendalikan oleh produsen. Kelompok variabel konsumen berisi variabel-variabel yang berhubungan dengan konsumen. Kelompok variabel pesaing berisi variabel-variabel yang berhubungan dengan pesaing. Terakhir, kelompok variabel lain berisi variabel-variabel yang bukan sebelas variabel pertama, yang juga ikut mempengaruhi permintaan. 

Sementara itu, empat belas variabel yang ada disisi kanan persamaan diatas terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama terdiri dari satu variabel saja, yakni Px atau harga barang X. Variabel ini sudah kita kenal dengan baik. Jika Px berubah, jumlah yang diminta akan berubah pula, sementara kurva permintaan tidak akan bergeser kekiri maupun kekanan. Kelompok kedua terdiri dari semua variabel yang lain, selain Px dan berjumlah tiga belas. Ketiga belas variabel ini, jika berubah akan menyebabkan kurva permintaan bergeser atau dengan kata lain akan menyebabkan terjadinya perubahan permintaan. Diantara ketiga belas variable ini, terdapat empat variabel yang telah kita kenal diatas, yakni pendapatan perkapita konsumen (Ic), selera konsumen (Tc), perkiraan konsumen (Ec) dan harga barang lain (Py), baik barang substitusi maupun barang komplementer.

Faktor yang Mempengaruhi Permintaan 

a. Tingkat pendapatan per kapita (per capita income) masyarakat
Hampir untuk setiap orang dan hampir untuk setiap barang, semakin besarnya pendapatan selalu berarti semakin besarnya permintaan.

b. Cita rasa atau selera (taste) konsumen terhadap barang itu
Cita rasa atau selera masyarakat terhadap segala sesuatu itu, pada lazimnya, senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Jika saja pada suatu waktu selera masyarakat terhadap sepeda motor meningkat, misalnya sudahlah pasti bahwa jumlah sepeda motor yang diminta masyarakat akan bertambah pula, sekalipun harganya tidak turun, maka hal yang sebaliknyalah yang terjadi, yakti jumlah sepeda motor yang diminta akan merosot, sekalipun harga jualnya tidak naik.

c. Harga barang lain (prices of related goods), terutama barang pelengkap (complementary goods) dan barang pengganti (subtitution goods)
Misalnya terjadi kenaikan harga daging ayam di suatu daerah, sedangkan masyarakat di daerah itu amat suka makan daging ayam (artinya daging ayam adalah produk penting). Kenaikan harga daging ayam itu akan menyebabkan konsumen mengurangi permintaannya akan daging ayam dan sebagai gantinya mereka akan membeli pengganti atau substitusinya, yakni daging sapi. Demikianlah permintaan akan daging sapi tiba-tiba meningkat sekalipun para produsennya tidak menurunkan harga. Sebaliknya, jika harga daging ayam turun, orang akan meninggalkan konsumsi daging sapi dan kembali mengonsumsi daging ayam kesukaan mereka. Demikianlah permintaan akan daging sapi itu menurun sekalipun para produsennya tidak menaikkan harga jual. Permintaan akan daging sapi itu merosot memang bukan disebabkan oleh perubahan harga daging sapi itu sendiri, melainkan oleh turunnya harga produk pengganti (substitusinya), yakni daging ayam. 

Hal yang sebaliknya terjadi pada dua barang yang berhubungan komplementer atau saling melengkapi. Contohnya seperti sepeda motor dan bensinnya. Sepeda motor dan bensin merupakan pelengkap yang baik satu sama lain sehingga yang satu tidak akan dapat dipakai tanpa adanya yang lain. Misalkanlah barang yang sedang dianalisis adalah sepeda motor. Kenaikan harga bensin akan menyebabkan masyarakat lebih sedikit membeli bensin. Akibatnya pembelian mereka terhadap sepeda motor pun menurun pula. Sebaliknya jika harga bensin turun, orang akan jadi lebih banyak membeli bensin. Akibatnya permintaan masyarakat terhadap sepeda motor akan meningkat.

d. Harapan atau perkiraan konsumen (consumer expectation) terhadap harga barang yang bersangkutan
Yang dimaksud dalam hal ini adalah ekspektasi konsumen terhadap harga barang di masa mendatang, yakni apakah harga itu akan naik, turun, atau tetap. Perkiraan itu amat menentukan. Misalkan kita sedang menganalisis permintaan akan mobil. Jika para konsumen mengira bahwa harga mobil akan naik bulan depan, permintaan mobil sekarang akan tiba-tiba naik karena mereka akan segera membeli sebelum harga barang itu betul-betul naik nanti.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Menurut Faried Wijaya (1991) selain harga barang itu sendiri, faktor-faktor lain yang menentukan permintaan individu maupun pasar adalah :

1. Selera konsumen
Perubahan selera konsumen yang lebih menyenangi barang tersebut misalnya, akan berarti lebih banyak barang yang akan diminta pada setiap tingkat harga. Jadi, permintaan akan naik atau kurva permintaan akan bergeser kekanan. Sebaliknya, berkurangnya selera konsumen akan barang tersebut menyebabkan permintaan turun yang berarti kurva permintaan bergeser kekiri. Misalnya, saat ini handphone blackberry sedang trend dan banyak yang beli, tetapi beberapa tahun mendatang mungkin blackberry sudah dianggap kuno.

2. Banyaknya konsumen pembeli
Bila volume pembelian oleh masing-masing konsumen adalah sama, maka kenaikan jumlah konsumen di pasar akan menyebabkan kenaikan permintaan, sehingga kurvanya bergeser ke kanan. Penurunan jumlah atau banyaknya konsumen akan menyebabkan penurunan permintaan. Misalnya, ketika flu burung dan flu babi sedang menggila, produk masker pelindung akan sangat laris. Contoh lain, Pada bulan puasa (ramadhan) permintaan blewah, timun suri, cincau, sirup, esbatu, kurma, dan lain sebagainya akan sangat tinggi dibandingkan bulan lainnya.

3. Pendapatan konsumen
Pengaruh perubahan pendapatan terhadap permintaan mempunyai dua kemungkinan. Pada umumnya pengaruh pendapatan terhadap permintaan adalah positif dalam arti bahwa kenaikan pendapatan akan menaikkan permintaan. Hal ini terjadi apabila barang tersebut merupakan barang superior atau normal. Ini seperti efek selera dan efek banyaknya pembeli yang mempunyai efek positif. Pada kasus barang inferior, maka kenaikkan pendapatan justru menurunkan permintaan. Misalnya, orang yang punya gaji dan tunjangan besar dia dapat membeli banyak barang yang dia inginkan, tetapi jika pendapatannya rendah, maka seseorang mungkin akan mengirit pemakaian barang yang dibelinya agar jarang beli.

4. Harga barang lain yang bersangkutan
Barang lain yang bersangkutan biasanya merupakan barang subsitusi (pengganti) atau barang komplementer (pelengkap). Suatu barang disebut sebagai barang substitusi yang lain jika barang tersebut dapat menggantikan fungsi barang lain tersebut. Harga barang pengganti dapat mempengaruhi permintaan barang yang dapat digantikannya. Jika harga barang pengganti bertambah murah maka barang yang digantikannya akan mengalami penurunan permintaan, begitu pula sebaliknya. Sedangkan barang pelengkap adalah suatu barang yang selalu digunakan bersamaan dengan barang lainnya. Kenaikan atau penurunan permintaan barang pelengkap selalu sejalan dengan perubahan permintaan barang yang dilengkapinya. Misalnya, jika roti tawar tidak ada atau harganya sangat mahal maka meises, selai dan margarine akan turun permintaannya.

5. Ekspektasi (perkiraan harga-harga barang dan pendapatan di masa depan)
Ekspektasi para konsumen bahwa harga-harga akan naik di masa depan mungkin menyebabkan mereka membeli barang tersebut sekarang untuk menghindari kemungkinan akibat adanya kenaikan harga tersebut. Demikian juga halnya jika konsumen memperkirakan bahwa pendapatannya akan naik dimasa depan. Sebaliknya, terjadi penurunan permintaan bila para konsumen memperkirakan bahwa di masa depan harga-harga akan naik atau pendapatannya akan turun. Misalnya adanya berita tentang kenaikan bbm/bensin, kenaikan sembako maka orang akan membeli lebih banyak untuk menimbunnya.

Faktor yang Mempengaruhi Elastisitas Permintaan

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi ED yang menyebabkan terjadinya perbedaan nilai elastisitasnya, yaitu sebagai berikut:

a. Adanya barang subtitusi
Barang subtitusi adalah barang yang memiliki manfaat dan kegunaan yang hampir sama dengan barang dengan utamanya. Misalnya, jagung adalah subtitusi beras. Barang subtitusi ada yang biasa ada juga yang disebut subtitusi dekat. Barang subtitusi dekat adalah barang yang fungsi dan kegunaannya sama, hanya mungkin berbeda merek, kemasan, dan pelayanan. Misalnya, beras cianjur dengan beras raja lele. Makin banyak subtitusi suatu barang, maka semakin besar kemungkinan pembeli untuk bertindak dari barang utama seandainya terjadi kenaikan atau penurunan harga. Secara teoritis, bila suatu barang memiliki substitusi, maka permintaannya cenderung elastis, (ED) > 1, yaitu manakala harga naik sebesar 1%, maka permintaan akan barang tersebut akan turun diatas 1% demikian juga sebaliknya. 

Dengan demikian komoditas yang bersubstitusi cenderung memiliki elastisitas lebih tinggi daripada komoditas yang tidak memiliki substitusi. Contohnya jika hari ini harga beras naik 20% di pulau Jawa, jumlah beras yang diminta akan turun sedikit karena permintaan terhadap beras tersebut inelastis. Lain halnya dengan permintaan akan daging sapi. Jika pada suatu saat banyak sapi yang mati karena wabah penyakit sehingga menyebabkan kenaikan harga daging sapi, maka orang dapat saja beralih ke daging kambing, daging ayam atau daging lainnya. Hal ini dikarenakan daging sapi memiliki elastisitas permintaan terhadap harga yang tinggi.

Permintaan komoditas yang tidak banyak mempunyai komoditas pengganti bersifat tidak elastis karena jika harga komoditas tersebut naik, para pembelinya sulit mendapatkan pengganti, oleh karenanya tetap akan membeli komoditas tersebut. Sehingga permintaannya tidak berkurang. Sebaliknya jika harga komoditas tersebut turun, permintaannya tidak banyak bertambah karena tidak banyak tambahan pembeli yang beralih dari membeli komoditas yang bersaingan dengan komoditas tersebut.

b. Persentase pendapatan yang digunakan atau jenis barang
Seorang konsumen akan memberikan porsi yang besar dari pendapatannya untuk membeli barang yang biasa digunakan sehari-hari (sudah menjadi kebutuhan), sementara untuk barang yang masih bisa ditunda porsi dari pendapatan untuknya kecil. Jadi, bila barang yang dimaksud tersebut adalah barang yang dibutuhkan atau dengan kata lain sebagaian besar pendapatan dipergunakan untuk mendapatkan barang yang dimaksud. Maka semakin elastislah permintaannya. 

Sebagai contoh perbandingan antara naiknya harga sebuah mobil menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan kenaikan harga tali sepatu yang dua kali lipat juga, memberikan dampak perubahan permintaan yang berbeda karena elastisitas permintaan terhadap kedua komoditas tersebut berbeda. Permintaan tali sepatu bersifat inelastis karena bagian pendapatan yang digunakan untuk membeli sepatu relatif lebih kecil. Sedangkan permintaan mobil bersifat elastis karena bagian pendapatan untuk membeli mobil relatif besar. Dengan demikian adanya perubahan harga mobil akan membuat orang menunda untuk membeli mobil dibandingkan beli sepatu karena lebih terlihat nyata besar harga yang dikeluarkan untuk membeli komoditas tersebut.

c. Jangka waktu analisis/ perkiraan atau pengetahuan konsumen
Dalam jangka pendek terjadi perubahan harga tidak secara otomatis menyebabkan terjadinya permintaan. Hal ini disebabkan perubahan yang terjadi di pasar belum diketahui oleh konsumen sehingga dalam jangka pendek permintaan cenderung tidak elastis. Jadi, ketika mengetahui terjadi perubahan harga masyarakat setempat tidak langsung mengetahui jika tidak datang langsung ke pasar atau ada seseorang yang memberi tahunya.

d. Tersedianya sarana kredit
Meskipun harga barang telah diketahui naik, sementara pendapatan tidak mencukupi, permintaan harga barang tersebut akan tetap bila ada fasilitas kredit dari penjual atau produsen. Sebaliknya, bila harga barang yang dimaksud turun maka permintaan atas barang tersebut tidak akan naik bila fasilitas naik untuk barang subtitusi ada. Dengan demikian bila terdapat fasilitas kredit, maka elastisitas cenderung inelastis atau elastis sempurna.

Sebagai contoh konsumen akan membeli HP Blackberry yang harganya memang mahal. Bagi konsumen yang tidak memiliki banyak modal untuk membeli sedangkan kebutuhan akan penggunaannya tinggi, maka konsumen tersebut akan mencari fasilitas kredit untuk membelinya. Dengan demikian, permintaan terhadap HP Blackberry cenderung inelastis.

e. Masa pakai dari produk
Dimana semakin lama pakai suatu produk tertentu akan memberikan kemungkinan penundaan pembelian produk itu oleh konsumen untuk keperluan penggantian, hal ini sering menyebabkan elastisitas permintaan untuk produk yang bermasa pakai lama akan semakin elastis.

Contoh pada barang konsumsi seperti buah atau sayur dengan masa pakai produk yang pendek, maka konsumen tidak akan menunda pembelian sehingga elastisitas permintaannya semakin tidak elastis. Sedangkan untuk produk buku atau barang lain dengan masa pakai produk yang panjang, konsumen dapat menunda pembeliaan sehingga elastisitas permintaan akan lebih elastis.

f. Derajat kepentingan kebutuhan konsumen terhadap produk
Dimana semakin tinggi derajat kepentingan atau kebutuhan konsumen terhadap produk tertentu, elastisitas permintaan dari produk itu semakin inelastis. Dalam situasi ini sering tampak bahwa elastisitas permintaan untuk produk-produk untuk yang memenuhi kebutuhan primer (seperti: beras, pasta gigi, sabun) pada umumnya inelastis, dibandingkan produk-produk kebutuhan sekunder (seperti: mobil, telepon genggam, laptop) yang pada umumnya lebih elastis.

g. Derajat kejenuhan pasar pada produk
Dimana semakin tinggi derajat kejenuhan pasar bagi suatu produk tertentu, elastisitas permintaan terhadap produk itu menjadi semakin inelastis. Dalam situasi ini, meskipun harga diturunkan, tetapi karena pasar dari produk itu telah jenuh, maka tidak akan mempengaruhi permintaan terhadap produk itu.

Misalnya pada sebuah produk pakaian wanita dengan model A yang terkenal pada periode 2011, tingkat kejenuhan konsumen terhadap produk pakaian model A akan lebih tinggi dan beralih pada model B yang lebih terbaru atau new arrival. Dari hal tersebut, semakin tinggi tingkat kejenuhan pasar terhadap suatu barang maka permintaan semakin elastis.

h. Range penggunaan produk
Semakin lebar atau semakin luas range penggunaan dari suatu produk tertentu akan menyebabkan elastisitas permintaan untuk produk itu menjadi semakin elastis. Penggunaan yang semakin luas dari suatu produk tertentu (seperti: kertas, plastik, alumunium, kaca) akan memberikan peluang munculnya beragam produk sejenis diluar di pasar, sehingga kenaikan harga pada produk tertentu dapat tersubstitusi oleh konsumen dengan produk-produk alternatif.

Misalnya pada produk air minum dalam kemasan. Kebutuhan akan air minum ini sangatlah banyak karena tubuh butuh banyak cairan. Jadi jelas range penggunaan produk ini sangatlah luas. Sebagai asumsi jika suatu air minum X mengalami kenaikan harga, tentunya ini akan sangat mempengaruhi jumlah permintaan. Mungkin konsumen akan mencari air minum merek lain yang harganya lebih murah mengingat kebutuhannya yang banyak serta didukung banyak munculnya produk serupa di pangsa pasar ini. Jadi jelas dalam kondisi ini terjadi elastisitas akibat range penggunaan produk. Semakin tinggi range penggunaan produk maka akan semakin elastis permintaannya. Contoh lain Ketumbar yang digunakan sebagai bumbu dapur, permintaannya cenderung kurang elastis meskipun harganya berubah, karena penggunaannya tidak terlalu banyak.

Utility

1. Pengertian Utility
Utility dalam teori ekonomi memiliki arti nilai guna. Nilai guna dirasakan oleh konsumen setelah menikmati barang/jasa. Seberapa besar nilai guna yang dirasakan konsumen tersebut tergantung pada tingkat kepuasan konsumen. Kotler (1997) dalam Anonim (2009) mendefinisikan kepuasan konsumen sebagai sebuah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesan terhadap kinerja ( hasil) suatu produk dengan harapan sebelumnya. 

Windu (2013) dalam artikelnya menuliskan bahwa nilai guna atau utility terbagi menjadi dua, yaitu total utility dan marginal utility. Total utility adalah jumlah kepuasan total yang dinikmati konsumen akibat mengkonsumsi sejumlah barang/jasa. Sedangkan Marginal Utility adalah tambahan kepuasan yang dinikmati konsumen akibat adanya tambahan barang/jasa yang dikonsumsi.

2 Hukum Utility
Dalam pembahasan mengenai nilai guna, juga dikenal hukum nilai guna yang berbunyi sebagai berikut:

“Semakin banyak suatu barang yang dikonsumsi oleh seseorang semakin besar nilai guna total yang akan diperolehnya, tetapi tingkat pertambahan nilai guna marjinal yang akan diperoleh akan semakin kecil. Suatu saat nilai guna marjinalnya akan mencapai nol dan nilai guna total akan mencapai maksimum. Apabila penambahan konsumsi barang tersebut dilanjutkan, maka nilai guna marjinalnya akan negatif dan nilai guna total akan menurun.”

Hipotesis teori nilai guna atau lebih dikenal sebagai hukum nilai guna marginal menurun menyatakan bahwa tambahan nilai guna yang akan diperoleh seseorang dari mengkonsumsi suatu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebut terus menerus menambah konsumsinya ke atas barang tersebut. Hal ini merujuk pada Hukum Gossen I ( The Law of Diminishing Returns) yang berbunyi:

“ Semakin banyak suatu barang dikonsumsi,maka tamabahan kepuasan yang diperoleh setiap satuan tambahan yang dikonsumsikan akan menurun “.

Pada hakikatnya hipotesis tersebut menjelaskan bahwa pertambahan yang terus menerus dalam mengkonsumsi suatu barang tidak secara terus menerus menambah kepuasan yang dinikmati orang yang mengkonsumsinya. Pada permulaannya setiap tambahan konsumsi akan mempetinggi tingkat kepuasan orang tersebut. Misalnya, apabila seseorang yang berbuka puasa atau baru selesai berolah raga memperoleh segelas air, maka ia memperoleh sejumlah kepuasan dari padanya, dan jumlah kepuasan itu akan menjadi bertambah tinggi apabila ia dapat meminum segelas air lagi.

Kepuasan yang lebih tinggi akan diperolehnya apabila dia diberi kesempatan untuk memperoleh gelas yang ketiga. Pertambahan kepuasan ini tidak terus berlangsung. Katakanlah pada gelas yang kelima orang yang berpuasa atau olahragawan itu merasa bahwa yang diminumnya sudah cukup banyak dan sudah memuaskan dahaganya. Kalau ditawarkan gelas keenam dia akan menolak, karena dia merasa lebih puas meminum lima gelas air daripada enam gelas air. Ini bermakna pada gelas yang keenam tambahan nilai guna adalah negatif, nilai guna total daripada meminum enam gelas adalah lebih rendah dari nilai guna yang diperoleh dari meminum lima gelas. 

3. Cara Mengukur Utility
Menurut Kotler (2000), Alat untuk mengukur kepuasan pelanggan/ konsumen berkisar dari yang primitif sampai canggih, dengan menggunakan beberapa metode diantaranya:

1. Sistem keluhan dan saran
Pengukuran kepuasan dengan cara ini dapat dilakukan dengan meletakkan fasilitas seperti kotak saran, costumer service bebas pulsa, maupun media sosial yang sudah banyak digunakan diberbagai kalangan saat ini.

2. Survei kepuasan pelanggan
Perbedaan cara pengukuran ini dengan sistem keluhan dan saran adalah pada gaya komunikasinya. Dimana dengan sistem survey memungkinkan pelanggan bertatap muka secara langsung untuk menyampaikan penilaiannya terhadap pengalamannya menggunakan suatu produk barang/jasa.

3. Pembelanja siluman (Ghost Shopping)
Pembelanja disini adalah seseorang yang berpura-pura menjadi pelanggan dan melaporkan berbagai temuan penting di lapangan maupun dalam lingkup karyawan dari sebuah perusahaaan barang/jasa.

4. Analisis pelanggan yang hilang (Lost Customer Analiysis)
Cara pengukuran kepuasan dengan metode ini dilakukan dengan cara mencari informasi dan menghubungi kembali pelanggan yang telah beralih menjadi pelanggan produk barang/jasa lain.

Konsekuensi dari Hukum Marginal Utility
Marginal utility adalah alat yang digunakan dalam Nilai Guna (Utility) Kardinal. Marginal utility (kepuasan marginal) adalah pertambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat adanya pertambahan atau pengurangan penggunaan satu unit barang tertentu. 

Dalam marginal utility terdapat sebuah hukum marginal utility yaitu Law of Diminishing Marginal Utility. Hukum tersebut berisi, “apabila tambahan nilai guna yang akan diperoleh dari seseorang dari mengkonsumsi suatu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebut terus menerus menambah konsumsinya dan pada akhirnya tambahan nilai guna tersebut akan menjadi negatif.”

Hukum Penurunan Daya Guna (The Law of Dimishing Marginal Utility) awalnya akan bertambah besar dengan penambahan satu unit konsumsi, kemudian penambahan konsumsi selanjutnya akan menambah total daya guna yang semakin kecil (marginal utilitynya turun), sehingga akhirnya tercapai kekenyangan. Artinya semakin banyak seseorang mengkonsumsi suatu barang, makin berkuranglah daya guna yang dapat diberikan barang tersebut baginya.

Perubahan marginal utility suatu barang dipengaruhi oleh perubahan harga barang dan perubahan pendapatan konsumen. Perubahan harga suatu barang akan mengubah nilai marjinal utility dari barang yang mengalami perubahan harga tersebut, apabila harga suatu barang makin naik maka nilai marginal rupiah akan semakin rendah dan sebaliknya apabila suatu barang mengalami penurunan harga maka nilai marginal utility akan semakin tinggi. 

Beberapa pakar ekonomi telah mengembangkan gagasan mengenai konsep nilai guna. Dari hasil penelitian Herman Heinrich Gossen mengenai nilai guna total dan nilai guna marjinal yang terkandung dalam hukum Gossen I, nilai guna total adalah kepuasan total yang di nikmati oleh konsumen dalam mengkonsumsi sejumlah barang tertentu secara keseluruhan sedangkan nilai guna marjinal atau kepuasan marjinal adalah tambahan kepuasan yang dinikmati dari setiap tambahan barang atau jasa yang di konsuminya. 

Sebagai contoh Andi adalah seorang yang sangat menyukai es krim. Dia membeli 6 buah es krim sekaligus. Es krim pertama nikamatnya bukan main karena merupakan es krim kesukaan Andi, kemudian es krim kedua makin terasa enak dan kepuasan Andi meningkat. Es krim ke tiga masih terasa enak meskipun tidak seenak es krim pertama , dan sampai pada akhirnya es krim ke 6 mulai terasa tidak enak lagi. Situasi ini dapat kita lihat pada tabel di bawah ini.

Tabel dan Grafik Nilai Guna Total dan Nilai Guna Marjinal
Gambar 2.8 Tabel dan Grafik Nilai Guna Total dan Nilai Guna Marjinal 
Menurut Hukum Gossen I 
Sumber: Ekonomi jilid satu, Alam S.


Teori nilai guna dapat menerangkan mengenai wujud kelebihan kepuasan yang dinikmati oleh konsumen, dalam analisis ekonomi kelebihan kepuasan tersebut lebih dikenal dengan surplus ekonomi. Surplus konsumen menunjukkan adanya perbedaan antara kepuasan yang didapat oleh seseorang pada saat mengonsumsi barang atau jasa dengan pembayaran yang harus ia lakukan untuk mendapatkan produk atau jasa tersebut. Kepuasan yang diperoleh seseorang selalu lebih besar dari pembayaran yang dilakukan. Surplus konsumen ini sangat berkaitan dengan nilai guna marginal yang semakin sedikit. Misal pada barang ke-n yang dibeli, nilai guna marginalnya sama dengan harga. Dengan demikian, karena nilai guna marginal barang ke-n lebih rendah dari barang sebelumnya, maka nilai guna marginal barang sebelumnya lebih tinggi dari harga barang tersebut, dan perbedaan harga yang terjadi merupakan surplus konsumen. 

Sebagai contoh seseorang anak ingin membeli es krim. Ia pun menyediakan uang sebanyak Rp 10.000,00. Namun, ternyata di pasarang harga es krim yang ingin ia beli Rp 6.000,00, sehingga terdapat selisih antar uang yang telah disediakan dengan harga es krim tersebut di pasaran yakni sebanyak Rp 4.000,00. Inilah yang disebut dengan surplus konsumen. 

Tabel 2.2 Surplus Konsumen yang Dinikmati Konsumen

urplus Konsumen yang Dinikmati Konsumen

Pada kolom tabel yang kedua menunjukkan jumlah uang yang disediakan oleh konsumen dan kolom ketiga adalah harga yang berlaku dipasaran, serta kolom ke empat adalah surplus konsumen yang ia terima. Pada saat pembelian pertama dan kedua, konsumen memberikan harga lebih tinggi terhadap es krim yang ingin ia beli daripada harga es krim tersebut di pasaran, sehingga ia memperoleh surplus konsumen. Namun, pada pemebelian ke-3 dan ke-4 ia tidak memperoleh surplus konsumen karena uang yang ia sediakan dengan harga es krim tersebut dipasaran sama atau lebih kecil. Surplus ekonomi ini apabila dapat pula digambarkan dengan grafik.

afik Surplus Konsumen
Gambar 2.9 Grafik Surplus Konsumen 
Sumber: Sadono Sukirno (2010)

Pada grafik tersebut digambarkan bahwa konsumen bersedia membeli suatu barang seharga A, Namun ternyata dipasaran harga barang tersebut sebesar P. Pada harga tersebut jumlah barang yang dibeli konsumen sebanyak Q. Surplus konsumen yang ia terimapun sebesar APB. 

Demikianlah materi tentang Mengenal Apa Itu Want, Need, Demand dan Utility yang sempat kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Teori Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage Theory) yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar…!!!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Mengenal Apa Itu Want, Need, Demand dan Utility

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...