Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Thursday, September 7, 2017

Laba Ditahan, Deviden Dan Saham

Laba Ditahan, Deviden Dan Saham  - Laba ditahan merupakan modal yang berasal dari dalam perusahaan yaitu kumpulan laba dan rugi sampai saat tertentu sesudah dikurangi deviden yang dibagi dan jumlah yang dipindahkan ke rekening modal. Laba rugi ini dapat berasal' dari laba rugi usaha, laba rugi kegiatan yang tidak rutin dan koreksi atas laba tahun-tahun lalu, bila rekening laba ditahan menunjukkan saldo debit maka disebut defisit 
1. Laba Di Tahan 
Laba ditahan merupakan elemen modal perseroan terbatas dan merupakan modal yang berasal dari dalam perusahaan yaitu kumpulan laba dan rugi sampai saat tertentu sesudah dikurangi deviden yang dibagi dan jumlah yang dipindahkan ke rekening modal. Laba rugi berasal dari laba rugi usaha, laba rugi kegiatan yang tidak rutin seperti laba penjualan aktiva tetap, dan koreksi atas laba tahun-tahun lalu. Apabila rekening laba ditahan menunjukkan saldo debit maka disebut defisit. 

Laba Ditahan, Deviden Dan Saham
Laba Ditahan, Deviden Dan Saham 

Laba ditahan dapat digunakan untuk beberapa tujuan sebagai berikut:
  1. Pembagian deviden. 
  2. Pembelian treasury stock. 
  3. Pembatasan laba ditahan untuk tujuan-tujuan tertentu (appropriations). 
  4. Rekapitalisasi. 
  5. Penyerapan kerugian.
Pencatatan laba ditahan hendaknya dipisahkan dari modal disetor agar dapat diketahui sumber masing-masing modal. Walaupun laba ditahan itu sebagian jumlahnya sudah dibatasi penggunaannya, tetapi keduanya tetap termasuk dalam jumlah laba ditahan. 
Dalam neraca jumlah laba ditahan terdiri dari dua golongan rekening yaitu: 
  • Laba ditahan yang masih bebas 
  • Laba ditahan yang sudah mempunyai tujuan penggunaan. 
Apabila perusahaan mengadakan kuasi reorganisasi di mana defisit yang ada dihapuskan dengan cara menurunkan nilai nominal saham, maka laba yang diperoleh sesudah adanya reorganisasi semu harus diberi tanda sehingga dapat diketahui bahwa laba ditahan itu merupakan hasil usaha sesudah adanya reorganisasi semu.

2. Deviden 
Yang dimaksud dengan deviden adalah pembagian kepada pemegang saham perseroan terbatas yang sebanding dengan jumlah lembar yang dimiliki. Biasanya deviden dibagikan dengan interval waktu yang tetap, tetapi kadang-kadang diadakan pembagian deviden tambahan pada waktu yang bukan biasanya. Apabila deviden yang dibagikan itu berbentuk selain uang tunai maka akan dicatat dengan judul yang sesuai. Jika digunakan istilah deviden saja, maka yang dimaksudkan adalah deviden kas. 

Deviden yang dibagi oleh perusahaan bisa mempunyai beberapa bentuk sebagai berikut: 
  1. Deviden kas. 
  2. Deviden aktiva selain kas (property devidends). 
  3. Deviden utang (scrip devidends). 
  4. Deviden likuidasi. 
  5. Deviden saham. 
Pembagian deviden kepada para pemegang saham dapat berakibat sebagai berikut: 
  1. Pembagian aktiva perseroan dan suatu penurunan dalam jumlah modal perseroan terbatas seperti dalam hal deviden kas, aktiva selain kas atau deviden likuidasi. 
  2. Timbulnya suatu utang dan suatu penurunan dalam jumlah modal perseroan terbatas seperti dalam hal deviden utang atau deviden kas yang sudah diumumkan tetapi belum dibayar. 
  3. Tidak ada perubahan dalam aktiva, utang atau jumlah modal perseroan terbatas, tetapi hanya menimbulkan perubahan komposisi masing-masing elemen dalam modal perseroan terbatas seperti dalam hal deviden saham. 
Dalam rangka pembagian deviden dari suatu perusahaan terdapat tiga tanggal yang perlu diperhatikan yaitu :

(a) Tanggal pengumuman 
Tanggal pengumuman adalah tanggal direksi PT mengumumkan adanya pembagian deviden dengan suatu jumlah tertentu untuk setiap lembar saham yang beredar. Pada tanggal ini dicatat adanya utang deviden, dan laba ditahan didebit. 

(b) Tanggal pendaftaran 
Pada tanggal pendaftaran atau pencatatan tidak ada jurnal yang dibuat. Pada tanggal ini catatan mengenai nama-nama pemegang saham ditutup. Pemegang saham yang namanya terdaftar dalam perusahaan berhak menerima deviden. Apabila sesudah saham didaftarkan, kemudian dijual maka pembeli tidak berhak menerima deviden yang dibagi itu karena nama yang terdaftar adalah pemegang saham lama. Saham yang dijual sesudah didaftarkan disebut “stock ex devidends”. 

(c) Tanggal pembayaran
Pada tanggal pembayaran deviden yang terutang dilunasi dan dicatat dengan mendebit rekening utang deviden dan mengkredit rekening aktiva. Apabila deviden yang dibagi itu berbentuk saham sendiri maka jurnal pencatatannya berbeda. 

3. Deviden Kas 
Deviden yang paling umum dibagikan oleh perseroan terbatas adalah dalam bentuk kas. Yang penting adalah bahwa perusahaan sebelum membuat pengumuman adanya deviden kas apakah jumlah uang kas yang ada mencukupi untuk pembagian deviden tersebut. Jurnal untuk mencatat pembagian deviden kas ini dibuat pada tanggal pengumuman dan pembayaran. Selanjutnya disajikan contoh, PT Millenia Utama pada tanggal 20 Desember 2006 mengumumkan pembagian deviden sebesar Rpl .000,- untuk setiap lembar saham biasa dan akan dibayar tanggal 20 Januari 2007 kepada pemegang saham yang terdaftar pada tanggal 10 Januari 2007. Saham biasa yang beredar sebanyak 1.000 lembar. 

Jurnal yang dibuat oleh PT Millenia Utama untuk mencatat pembagian deviden di atas adalah sebagai berikut: 

Tanggal Pengumuman (20 Desember 2006) 
Laba ditahan                      Rpl.000.000,- 
Utang deviden kas             Rpl.000.000,- 

Tanggal Pembayaran (20 Januari 2007) 
Utang deviden kas              Rpl.000.000,- 
Kas                                      Rpl.000.000,- 

Dalam neraca yang disusun pada tanggal 31 Desember 2006, utang deviden kas dilaporkan dalam kelompok utang lancar karena segera akan dilunasi.

4. Bentuk Deviden Lain 
Kadang-kadang deviden dibagikan dalam bentuk aktiva selain kas, deviden dalam bentuk ini disebut property devidends. Aktiva yang dibagikan bisa berbentuk surat-surat berharga perusahaan lain yang dimiliki oleh perseroan terbatas, barang dagangan atau aktiva-aktiva lain. Pemegang saham akan mencatat deviden yang diterimanya ini sebesar harga pasar aktiva tersebut. Akan tetapi perseroan terbatas yang membagi property devidends akan mencatat deviden ini sebesar nilai buku aktiva yang dibagikan. Sebagai ilustrasi di bawah ini diberikan contoh pembagian deviden aktiva selain kas sebagai berikut: 

PT Sejahtera Millenia mempunyai 10.000 lembar saham PT Tamma, dengan harga perolehan sebesar Rpl.100.000,-. Saham PT Sejahtera Millenia yang beredar sebanyak 10.000 lembar. Pada tanggal 15 Desember 2005 diumumkan pembagian property devidens di mana setiap lembar saham PT Sejahtera Millenia akan menerima deviden 1 lembar saham PT Tamma, pembagiannya pada tanggal 15 Januari 2006. Harga pasar saham PT Tamma pada tanggal 15 Januari 2006 sebesar Rpl25,- per lembar. Jurnal yang dibuat oleh PT Sejahtera Millenia sebagai berikut: 

Bentuk Deviden Lain

Selanjutnya adalah deviden utang (scrip devidends) yang timbul apabila laba ditahan itu saldonya mencukupi untuk pembagian deviden, tetapi saldo kas yang ada tidak cukup. Oleh karena itu, perusahaan akan mengeluarkan scrip devidends yaitu janji tertulis untuk membayar jumlah tertentu di waktu yang akan datang. Scrip devidends dapat berbunga atau tidak. Selanjutnya disajikan contoh, PT Sinar Sentosa mengumumkan pembagian scrip devidens sebesar Rpl.000.000,- bunga 10% jatuh tempo 3 bulan kemudian. Jurnal yang dibuat oleh PT Sinar Sentosa sebagai berikut: 

Laba ditahan                    Rpl00.000,- 
Utang deviden scrip        Rpl00.000,- 

Ketika jatuh tempo, scrip dan bunganya dilunasi dengan jurnal sebagai berikut: 
Utang deviden scrip               Rpl00.000,- 
Biaya bunga                            2.500,- 
Kas                                          Rpl02.500,- 

Perhitungan; 
Biaya bunga = 3/12 x 10% x Rpl00.000,- = Rp2.500,-. 

Berikutnya adalah deviden likuidasi adalah deviden yang sebagian merupakan pengembalian modal. Deviden likuidasi ini dicatat dengan mendebit rekening pengembalian modal yang dalam neraca dilaporkan sebagai pengurang modal saham. Dalam perusahaan yang memiliki wasting assets yang tidak akan diganti, bisa membagi deviden likuidasi secara periodik. Biasanya modal yang dikembalikan adalah sebesar deplesi yang diperhitungkan untuk periode tersebut. Apabila perusahaan membagi deviden likuidasi, maka para pemegang saham harus diberitahu mengenai berapa jumlah pembagian laba dan berapa yang merupakan pengembalian modal, sehingga para pemegang saham bisa mengurangi rekening investasinya. 

Kemudian deviden saham yaitu pembagian tambahan saham, tanpa dipungut pembayaran kepada para pemegang saham, sebanding dengan saham-saham yang dimilikinya.

Deviden saham bisa dibagikan sebagai berikut: 
1. Deviden saham berupa saham yang jenisnya sama, misalnya deviden saham biasa untuk memegang saham biasa, atau deviden saham prioritas untuk pemegang saham prioritas, disebut deviden saham biasa. 

2. Deviden saham berupa saham yang jenisnya berbeda, misalnya deviden saham prioritas untuk pemegang saham biasa atau deviden saham biasa untuk pemegang saham prioritas, disebut deviden saham spesial. 

Ada beberapa keadaan atau alasan-alasan yang membenarkan pembagian deviden saham, antara lain: 

1. Keinginan pimpinan perusahaan untuk menahan laba secara tetap yaitu dengan mengkapitalisasi sebagian laba ditahan. Akibat adanya deviden saham ialah menaikkan jumlah modal disetor yaitu dengan cara membebani rekening laba ditahan dan dikreditkan ke rekening modal saham. 

2. Untuk dapat membagi deviden tanpa pembagian aktiva yang diperlukan untuk modal kerja atau ekspansi. 

3. Untuk menaikkan jumlah lembar saham yang beredar, sehingga harga pasarnya akan menurun. Akibatnya yang lain adalah untuk mendorong perdagangan saham. 

Deviden saham ini berbeda dengan pemecahan saham. Karena dalam pemecahan saham tidak ada perubahan struktur modal. Tetapi dalam deviden saham terjadi perubahan struktur modal, walaupun jumlah modal keseluruhan tidak berubah. Dalam deviden saham, nilai nominal per lembar tidak berubah, tetapi dalam pemecahan saham, nilai nominal sahamnya berubah. Sebagai ilustrasi pembagian deviden saham, berikut disajikan contoh sebagai berikut: 


5. Batasan Laba Ditahan 
Laba ditahan itu berasal dari kumpulan laba rugi perusahaan baik yang rutin, tidak rutin atau yang merupakan koreksi laba tahun-tahun sebelumnya. Deviden yang dibagikan dibebankan ke rekening laba ditahan. Dari waktu ke waktu dapat dilakukan pembatasan terhadap laba ditahan dengan maksud untuk menjaga agar tidak semua saldo ditahan diminta sebagai deviden.

Pembatasan ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu 
1. Membuat jurnal untuk mencatat pembatasan laba ditahan, sehingga jumlah laba ditahan terdiri dari dua rekening yaitu rekening laba ditahan yang masih bebas dan laba ditahan yang dibatasi, 

2. Tidak membuat jurnal pembatasan laba ditahan. Dalam cara ini pembatasan-pembatasan yang ada dilaporkan dalam neraca dengan suatu keterangan atau catatan kaki. 

Agar pengeluaran obligasi dapat lebih menarik kreditur, biasanya dengan perjanjian yang mewajibkan perusahaan untuk membuat dana pelunasan obligasi yang disimpan oleh pihak ketiga. Dana ini bisa merupakan setoran periodik dengan jumlah tertentu, atau mungkin juga jumlahnya tidak  sama. Untuk mengimbangi adanya dana pelunasan obligasi, biasanya laba ditahan juga diminta untuk dibatasi penggunaannya. Pembatasan laba ditahan dibuat dalam jumlah yang sama dengan jumlah dana pelunasan obligasi. Bila obligasi yang beredar itu merupakan obligasi berseri, jumlah pembatasan laba ditahan tidak harus sama dengan jumlah dana pelunasan obligasi. Pembatasan laba ditahan ini dibuat selama obligasi masih beredar, sesudah obligasi yang beredar itu dilunasi, pembatasan yang sudah dilakukan dihapuskan dan dikembalikan ke rekening laba ditahan. Jurnal yang dibuat untuk membatasi laba ditahan adalah sebagai berikut: 

Pembatasan laba ditahan dapat juga dilakukan tanpa jurnal seperti di atas, tetapi dengan memberi keterangan untuk menunjukkan jumlah yang dibatasi penggunaannya. Perusahaan yang mempunyai rencana untuk memperluas kegiatannya, dapat membatasi laba ditahan supaya tetap bisa ditahan dalam perusahaan. Sesudah ekspansi dilakukan berarti tujuan pembatasan laba ditahan itu sudah tercapai maka laba ditahan yang dibatasi dihapuskan dan dikembalikan ke rekening laba ditahan. 

Pembatasan laba ditahan untuk tujuan perluasan perusahaan dapat ditunjukkan dalam rekening-rekening sebagai berikut: 
  1. Laba ditahan untuk investasi pabrik. 
  2. Laba ditahan untuk modal kerja. 
  3. Laba ditahan untuk pembelian mesin. 
Sesudah tujuan pembatasan ini tercapai, rekening yang dibatasi dikembalikan ke rekening laba ditahan, berarti jumlahnya dapat diminta sebagai deviden. Untuk menjaga agar jumlah tersebut dapat tetap menjadi modal perusahaan maka perusahaan dapat membagi deviden saham. 

Untuk menjaga kemungkinan timbulnya kerugian di masa yang akan datang pimpinan perusahaan dapat membatasi laba ditahan dan mencatatnya dalam rekening-rekening sebagai berikut: 
  1. Laba ditahan untuk ketidakpastian. 
  2. Laba ditahan untuk kemungkinan turunnya harga persediaan. 
  3. Laba ditahan untuk kemungkinan kerugian dalam sengketa hukum. 
  4. Laba ditahan untuk asuransi sendiri. 
Seperti dalam tujuan pembatasan yang lain, pembatasan untuk kemungkinan kerugian di masa yang akan datang ini dapat dikerjakan dengan membuat jurnal atau dengan memberi keterangan tanpa jurnal. 

6. Nilai Buku Per Lembar Saham (Book Value Per Share) 
Yang dimaksud nilai buku saham adalah jumlah rupiah yang menjadi milik tiap-tiap lembar saham dalam modal perusahan. Nilai buku ini adalah jumlah yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham pada waktu pembubaran likuidasi perusahaan, jika aktiva dapat dijual sebesar nilai bukunya. Apabila saham yang beredar itu hanya satu macam, yaitu saham biasa maka nilai buku per lembar saham dihitung sebagai berikut: 


Apabila ada modal saham dipesan, maka jumlahnya ditambahkan pada modal dan jumlah lembarnya ditambahkan pada jumlah lembar yang beredar. Jika ada treasury stock, maka jumlahnya dikurangkan pada modal dan jumlah lembarnya dikurangkan pada jumlah lembar yang beredar. 

Apabila saham yang beredar itu terdiri dari saham biasa dan preferen, maka pertama kali harus dihitung dulu bagian modal yang menjadi milik saham preferen. Sisa modal yang ada menjadi bagian saham biasa. Nilai buku per lembar saham preferen adalah bagian modal saham preferen dibagi dengan jumlah lembar saham preferen yang. beredar. Nilai buku per lembar saham biasa adalah bagian modal saham biasa dibagi dengan jumlah lembar saham preferen yang beredar.

Untuk menghitung bagian modal yang menjadi milik saham preferen perlu dipertimbangkan hal-hal berikut: 

a. Nilai likuidasi yaitu jumlah yang akan dibayarkan kepada pemegang saham preferen pada saat perusahaan dilikuidasi. Nilai ini bisa di bawah nominal, sama dengan nominal atau lebih besar dari nominal. 

b. Hak deviden. Saham preferen mungkin mempunyai hak-hak tertentu, misalnya hak atas laba ditahan sesuai dengan perjanjian tentang deviden. Dalam keadaan seperti ini, maka laba ditahan sebesar jumlah yang sesuai dengan perjanjian akan dihubungkan dengan saham preferen. Kadang-kadang saham preferen itu bersifat kumulatif atau berpartisipasi, jika keadaannya seperti ini maka harus dihitung berapa besarnya laba ditahan yang harus diperhitungkan terhadap saham preferen. 

Sebagai ilustrasi perhitungan nilai buku saham preferen dan biasa, berikut ini diberikan beberapa contoh, yang dasarnya adalah modal PT Sejahtera per 31 Desember 2005 sebagai berikut: 


Nilai likuidasi saham preferen Rpl.100,-. Saham preferen adalah kumulatif dan deviden yang belum dibayar adalah sejak tahun 2001. Perhitungan nilai buku saham sebagai berikut: 





Preferen = Rpl.800.000,- : 1.000 lembar  = Rpl.800,- 
Biasa= Rp4.950.000,- : 10.000 lembar  = Rp495,- 


7. Laba Per Lembar Saham (EARNINGS PER SHARE) 
Laba per lembar saham adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk tiap lembar saham yang beredar. Informasi mengenai laba per lembar saham dapat digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk menentukan deviden yang akan dibagikan. Informasi ini juga berguna bagi investor untuk mengetahui perkembangan perusahaan. Apabila deviden yang dibayarkan pada setiap lembar saham dibandingkan dengan pendapatan  per lembar saham dalam periode yang sama, maka akan diperoleh persentase pembayaran (pay out percentage/deviden payout ratio). 

Perhitungan laba per lembar saham yaitu: 

1. Laba per saham dasar adalah jumlah laba pada suatu periode yang tersedia untuk setiap saham biasa yang beredar dalam periode pelaporan Laba per saham dasar dihitung dengan membagi laba atau rugi bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa (laba bersih residual) dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar dalam suatu periode. Laba bersih residual adalah laba bersih (setelah dikurangi beban pajak, pos luar biasa dan hak pemegang saham minoritas) dikurangi dengan deviden saham utama yang melipuri: 
  • Deviden saham utama (preferen) bukan kumulatif yang diumumkan pada periode yang bersangkutan 
  • Deviden saham utama (preferen) kumulatif yang terkumulasi pada periode yang bersangkutan, baik deviden tersebut sudah atau belum diumumkan. 
Rumus LPS dasar adalah: 

rumus Laba per saham dasar

Apabila terdapat transaksi yang mengubah jumlah saham biasa, maka jumlah rata-rata tertimbang saham biasa harus disesuaikan.

Contoh transaksi yang mengubah jumlah saham biasa adalah: 
  1. Pembagian deviden saham biasa dan saham bonus. 
  2. Penerbitan hak memesan lebih dulu (rights issue) untuk pemegang saham lama. 
  3. Pemecahan saham (stock splits). 
  4. Penggabungan saham. 
Berikut ini contoh perhitungan LPS dasar. 
PT Millenia mempunyai modal saham biasa yang beredar dalam tahun 2005 sebanyak 1.000 lembar. Pendapatan bersih dalam tahun 2005 sebesar Rpl.500.000,-. Semua saham sudah beredar sejak awal tahun 2005 dan tidak ada saham preferen. Pendapatan per lembar saham PT Millenia untuk tahun 2005 sebesar: 

contoh perhitungan LPS dasar

2. Laba per saham dilusi adalah jumlah laba pada suatu periode yang tersedia untuk setiap saham biasa yang beredar selama periode pelaporan dan efek lain yang asumsinya diterbitkan bagi semua efek x, berpotensi saham biasa yang sifatnya dilutif yang beredar sepanjang periode pelaporan.  perhitungan laba per saham dilusi, laba bersih residual dan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa beredar harus disesuaikan dengan memperhitungkan dampak dari semua efek berpotensi saham biasa yang dilutif. Yang dimaksud dilusi adalah pengurangan terhadap laba perlembar saham yang diakibatkan oleh anggapan bahwa convertible securities sudah ditukarkan atau options dan warrants sudah digunakan atau saham-saham lain sudah dikeluarkan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu.

Adapun contoh efek berpotensi saham biasa adalah:
  1. Efek utang (debt security) atau instrumen ekuitas selain saham biasa yang dapat ditukar dengan saham biasa.
  2. Waran atau opsi saham, yaitu instrumen keuangan yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli saham biasa dengan harga tertentu dan dalam periode (jangka waktu) tertentu.
  3. Kebijakan kepegawaian yang memberikan hak kepada karyawan untuk menerima saham biasa sebagai bagian dari remunerasi atau hak untuk membeli saham dengan syarat tertentu.
  4. Saham yang akan diterbitkan saat terpenuhinya kondisi-kondisi tertentu yang dimuat dalam suatu perjanjian, seperti kontrak pembelian usaha atau aktiva lain.
Perhitungan laba per saham dilusian pada dasarnya sama dengan perhitungan LPS dasar. Perbedaannya terletak pada hal-hal berikut:
  1. Laba bersih yang diperhitungkan adalah laba bersih residual ditambah deviden dan bunga (dihitung setelah pajak) dan disesuaikan dengan perubahan penghasilan dan beban yang disebabkan konversi efek berpotensi saham biasa.
  2. Jumlah rata-rata saham biasa yang beredar ditambah rata-rata tertimbang saham biasa yang akan beredar dengan asumsi semua efek berpotensi saham biasa yang dilutif dikonversikan menjadi saham biasa.
Demikianlah materi tentang Laba Ditahan, Deviden Dan Saham yang sempat kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Utang Jangka Panjang (Long Term Debt) yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar…!!!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Laba Ditahan, Deviden Dan Saham

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...