Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Thursday, September 14, 2017

Cara Cepat dan Mudah Mengerjakan Jurnal Penyesuaian

Cara Cepat dan Mudah Mengerjakan Jurnal Penyesuaian - Neraca saldo yang telah disusun setelah buku besar dan menjadi dasar dalam penyusunan laporan keuangan perusahaan tidak semuanya menunjukan nilai yang sebenarnya dari akun tersebut. Agar neraca saldo menyajikan keadaan yang sebenarnya dari tiap akun maka disusunlah jurnal penyesuaian. Jadi jurnal penyesuaian adalah jurnal yang dibuat pada akhir periode akuntansi yang berfungsi untuk menyesuaikan sedemikian rupa sehingga nillai- nilai dari harta, hutang, modal, pendapatan, dan beban, sehingga tersebut memperlihatkan nilai yang sebenarnya.
Sebagian besar pendapat dan hasil survei menyebutkan bahwa materi jurnal penyesuaian adalah yang dianggap paling sulit oleh siswa. Sebenarnya jurnal penyesuaian bukanlah sesuatu yang sulit, jika kita sudah paham betul dengan konsep penyusunannya serta sudah lancar mengerjakan pencatatan jurnal umum. Berikut ini akan coba saya jelaskan mengenai cara mudah mengerjakan jurnal penyesuaian.

Cara Cepat dan Mudah Mengerjakan Jurnal Penyesuaian
Cara Cepat dan Mudah Mengerjakan Jurnal Penyesuaian
Pengertian jurnal adjustment (jurnal penyesuaian)
Dalam akuntansi, jurnal penyesuaian adalah jurnal yang biasanya dibuat pada akhir periode akuntansi untuk mengalokasikan pendapatan dan pengeluaran untuk periode di mana mereka benar-benar terjadi. Prinsip pengakuan pendapatan adalah dasar dari pembuatan jurnal penyesuaian yang berkaitan dengan pendapatan diterima di muka dan masih harus dibayar berdasarkan akuntansi berbasis akrual. Mereka kadang-kadang disebut penyesuaian pada Hari Keseimbangan karena mereka dibuat pada hari penyeimbangan tersebut.

Berdasarkan prinsip pencocokan dalam akuntansi akrual, pendapatan dan biaya yang terkait diakui dalam periode akuntansi yang sama. Namun uang yang sebenarnya dapat diterima atau dibayarkan pada waktu yang berbeda.
Dalam menyusun jurnal penyesuaian disini saya membaginya ke dalam dua klasifikasi untuk proses penyusunannya, yaitu:
  1. Menyusun jurnal penyesuaian seperti mencatat jurnal umum biasa, hal ini lazim digunakan untuk menyesuaikan akun kas, beban yang masih harus dibayar/utang beban, pendapatan yang masih harus diterima/piutang pendapatan, dan penyusutan aktiva tetap.
  2. Menyusun jurnal penyesuaian seperti mencatat jurnal umum tapi dengan membalik posisi saldo dari akunnya, yang semula di debit menjadi di kredit dan sebaliknya. Hal ini lazim digunakan untuk menyesuaikan beban dibayar dimuka, pendapatan diterima dimuka, dan pemakaian perlengkaapan


Menyusun Jurnal Penyesuaian Seperti Mencatat Jurnal Umum Biasa
Dalam menyusun jurnal penyesuaian seperti jurnal umum biasa ini, kita hanya menganalisis setiap perubahan yang terjadi pada keterangan penyesuaian di akhir periode dan menyusun ayat jurnal penyesuaiannya seperti menyusun ayat jurnal umum.

1. Menyesuaikan Akun Kas
Penyebab akun kas belum menunjukan nilai yang sebenarnya karena umumnya uang kas perusahaan disimpan di Bank. Kondisi tersebut menyebabkan jumlah saldo yang dilaporkan oleh Bank seringkali terjadi dengan yang dicatat oleh perusahaan. Hal ini karena ada beberapa transaksi yang telah dicatat oleh Bank namun belum dicatat oleh perusahaan begitu juga sebaliknya. Penyebab- penyebab ini antara lain Bank telah mencatat pembebanan adminsitrasi dan pemberian pendapatan bunga, sedangkan perusahaan belum.

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut:
Tanggal 31 Desember 2011 bendahara perusahaan mencatat saldo kas di perusahaan sebesar Rp. 12.500.000,- pada saat yang bersamaan Bank mengirimkan laporan rekening koran perusahaan dan melaporkan bahwa rekening kas perusahaan di Bank sebesar Rp.13.200.000,-. Selisih tersebut disebabkan karena Bank telah mendebit rekening perusahaan sebesar Rp. 250.000,- sebagai administrasi bank dan mengkredit rekening perusahaan sebesar Rp. 950.000,- sebagai pendapatan giro. Susunlah jurnal penyesuaian dari transaksi tersebut!

Analisis:
Untuk penyesuaian tersebut di atas bisa ditempuh dengan dua cara namun jurnal penyesuaiannya sama seperti menyusun jurnal umum biasa.

Cara 1:
HItung selisih kas di perusahaan dan kas di Bank, yaitu Rp. 13.200.000 - Rp. 12.500.000,- sama dengan Rp. 700.000,-, Hal ini menyebabkan kas perusahaan bertambah. Saat menyusun jurnal umum kas bertambah di sebelah debit. Selanjutnya pencatatan beban administrasi bertambah di debitsebesar Rp. 250.000,- dan pendapatan bunga giro bertambah di kredit sebesar Rp. 950.000,- 

Jurnal Penyesuaiannya adalah:
Kas Rp. 700.000,-
Beban Administrasi Rp. 250.000,-
Pendapatan Bunga Rp. 950.000,-

Cara 2:
Menganalisis setiap perubahan transaksi dan pencatatan yang dilakukan Bank. Mencatat pembebanan administrasi bank sebesar Rp. 250.000,-,.Pencatatan bebab mengakibatkan beban bertambah dan kas berkurang.Beban Administrasi bertambah di debit dan kas berkurang di kredit masing- masing sebesar Rp. 250.000,-. Pencatatan penerimaan pendapatan bunga giro sebesar Rp. 950.000,-. Penerimaan pendapatan bunga berarti kas bertambah di debit dan pendapatan bertambah di kredit masing- masing sebesar Rp. 950.000,-

Jurnal Penyesuaiannya adalah:
Beban Administrasi Rp. 250.000,-
Kas Rp. 250.000,-
Kas Rp. 950.000,-
Pendapatan Bunga Rp. 950.000,-

Kita lihat disana terdapat akun kas di debit sebesar Rp. 950.000,- dan akun di kredit sebesar Rp. 250.000,- kita hitung selisihnya untuk mendapatkan saldo sebenarnya dari kas tersebut sehingga diperoleh saldo kas debit Rp. 700.000 (950.000 - 250.000) karena nilai debit lebih besar maka posisi kas akan di debit.

Jika diringkas maka Jurnal penyesuaiannya adalah sebagai berikut:
Kas Rp. 700.000,-
Beban Administrasi Rp. 250.000,-
Pendapatan Bunga Rp. 950.000,-
(Sama seperti cara yang pertama, silakan pakai cara yang paling dianggap mudah)

2. Menyesuaikan Beban Yang Masih Harus Dibayar
Pencatatan beban yang masih harus dibayar menyebabkan beban perusahaan bertambah dan hutang perusahaan bertambah. Penyesuaiannya sama persis dengan menysusun jurnal umum biasa. Untuk lebih jelasnya perhatikan dua contoh berikut:

Contoh 1:
Perusahaan membayar gaji ke karyawan sebesar Rp. 1.200.000 untuk 6 hari kerja setiap hari Sabtu. Tanggal 31 Desember 2011 jatuh pada hari Selasa.

Analisis:
Penghitungan beban gaji yang masih harus dibayar adalah mulai dari hari Selasa sampai dengan hari sabtu ada 5 hari kerja yang menjadi beban hutang perusahaan.

Perhitungannya adalah: 5/6 x Rp. 1.200.000,- = Rp. 1.000.000,-
Beban gaji bertambah di debit dan hutang gaji bertambah di kredit masing- masing sebesar Rp. 1.000.000,-

Jurnal Penyesuaiannya:
Beban Gaji Rp. 1.000.000
Hutang Gaji Rp. 1.000.000

Contoh 2:
Wesel bayar mempunyai nilai nominal Rp. 2.400.000,- dengan bunga 3 % per tahun, bunga dibayarkan tiap tanggal 1 September dan 1 Maret.

Analisis:
Transaksi tersebut mengakibatkan beban bunga dan hutang bunga dalam hal ini bunga yang muncul akibat adanya wesel bayar.

Perhitungannya adalah:
Hitunglah jumlah bulan yang terdekat dengan bulan Desember, dalam hal ini bulan September. Jumlah bulan dari September- Desember adalah 4 bulan. Jadi nominal beban dan hutang bunga yang dibayar adalah 4/12 x 3/100 x Rp. 2.400.000 = Rp. 24.000,-

Beban Bertambah di debit dan hutang bertambah di kredit.

Jurnal Penyesuaiannya:
Beban Bunga Rp. 24.000,-
Hutang Bunga Rp. 24.000,-

Catatan: Jika dalam soal di keterangan penyesuaian sudah ada nilai nominal berapa yang harus dibayar tidak perlu dihitung lagi langsung saja dibuat jurnal penyesuaiannya dengan dimasukkan nilai nominal tersebut. Sebagai contoh dalam keterangan penyesuaian terdapat keterangan gaji yang masih harus dibayarkan bulan ini sebesar Rp. 450.000, berarti langsung saja susun jurnal penyesuaiannya dengan mendebit beban gaji dan kredit hutang gaji senilai Rp. 450.000,- 


3. Menyesuaikan Pendapatan Yang Masih harus Diterima
Yang masih harus diterima berarti perusahaan mempunyai piutang terhadap pelanggan. Pencatatan yang masih harus diterima berarti akan mengakibatkan piutang perusahaan bertaambah dan pendapatan perusahaan bertambah. Mekanisme pencatatan dan penyesuaiannya sama halnya dengan penyesuaian terhadap beban yang masih harus dibayar.

Contoh 1:
Wesel tagih berbunga 12 % per tahun dengan nominal Rp. 3.600.000,- bunga diterima tiap tanggal 1 April dan 1 Oktober.

Analisis:
Sama halnya dengan pencatatan wesel bayar di atas, untuk menghitung bunga yang masih harus diterima, hitung jumlah bulan dari yang terdekat dengan bulan Desember, dalam hal ini adalah Oktober - Desember ada 3 bulan. Perhitungan nominal bunganya:

3/12 x 12/100 x Rp.3.600.000 = Rp. 108.000,- (nilai bunga yang masih harus diterima)
Piutang bunga bertambah di debit dan pendapatan bunga bertambah di kredit

Jurnal Penyesuaiannya:
Piutang bunga Rp. 108.000,-
Pendapatan bunga Rp. 108.000,-

Contoh 2:
Terdapat pekerjaan yang sudah diselesaikan dengan nilai jasa sebesar Rp. 2.500.000,- akan tetapi nilai tersebut belum diterima perusahaan.

Analisis:
Transaksi di atas akan berdampak pada bertambahnya piutang usaha di debit dan pendapataan jasa bertambah di kredit masing - masing Rp. 2.500.000,-

Jurnal Penyesuaiannya:
Piutang usaha Rp. 2.500.000,-
Pendapatan Jasa Rp. 2.500.000,-

4. Menyesuaikan Penyusutan Aktiva Tetap
Penyusutan terhadap aktiva tetap akan mengakibatkan beban penyusutan aktiva tetap dan akumulasi penyusutan aktiva tetap bertambah. Ingat akumulasi penyusutan aktiva tetap merupakan kontra akun dari aktiva tetap jadi setiap pertambahan aktiva tetap selalu di kredit. Kunci utama dalam penyusutan aktiva tetap ini adalah kita harus mengetahui dasar penyusutan nya apakah dari harga perolehan atau nilai buku daari aktiva tetap. Selain itu metode penyusutan yang dipakai juga perlu diketahui, karena ada banyak metode yang dipakai mulai dari prosentase, garis lurus, jumlah angka tahun, kapasitas produksi, dll. Pembahasan mengenai penyusutan aktiva tetap nanti akan dibahas tersendiri di postingan selanjutnya. Sebagai awalan daan yang umumnya dipakai adalah metode garis lurus dan prosentase dari nilai aktiva tetap.

Contoh 1: (Penyusutan berdasarkan prosentase harga perolehan aktiva tetap)
Kendaraan dengan harga perolehan Rp. 17.500.000,- dan akumulasi penyusutan sebesar Rp. 1.750.000,- disusutkan sebesar 10 % dari harga perolehannya.

Analisis:
Hitung nilai penyusutannya, yaitu: 10 % x Rp. 17.500.000,- = Rp. 1.750.000,-

Jurnal Penyesuaiannya:
Beban Penyusutan Kendaraan Rp. 1.750.000,-
Akumulasi Penyusutan Kendaraan Rp. 1.750.000,-

Jika soal tersebut nilai prosentase berdasarkan nilai buku, maka harus dihitung dulu nilai buku dari aktiva tersebut dengan cara menghitung selisih dari harga perolehan dengan nilai akumulasi penyusutan peralatan kemudian baru dikalikan prosentasenya. Ayat Jurnal penyesuaiannya sama cuman nominal saja yang berbeda.

Harga Perolehan diketahui dari nominal debit dari aktiva tetap di neraca saldo
Nilai Buku = Harga Perolehan - Akumulasi Penyusutan 

Contoh 2: (penyusutan menggunakan metode garis lurus)

Nilai Peralatan di Neraca Saldo di debit sebesar Rp.17.500.000. Perusahaan memperkirakan peralatan tersebut mempunyai umur manfaat selama 4 tahun dengan taksiran nilai sisa sebesar Rp. 2.500.000,-.

Perhitungan Penyusutannya jika dengan menggunakan metode garis lurus adalah:

Penyusutan = ( Harga perolehan - nilai sisa) dibagi umur ekonomis

(17.500.000 - 2.500.000)/ 4 = 15.000.000/4 = Rp. 3.750.000,-

Jurnal Penyesuaiannya:
Beban Penyusutan Peralatan Rp. 3.750.000,-
Akumulasi Penyusutan Peralatan Rp. 3.750.000,-

Demikian tadi sedikit penjelasan mengenai penyusunan jurnal penyesuaian yang klasifikasi pertama, yaitu menyusun jurnal penyesuaian yang langkahnya sama dengan menyusun jurnal umum biasa. Untuk penyusunan Jurnal penyesuaian yang klasifikasi kedua akan dibahas pada postingan selanjutnya.

Cara Cepat dan Mudah Mengerjakan Jurnal Penyesuaian (Bag. 2)
Pada postingan sebelumnya telah dibahas mengenai cara mudah menyusunjurnal penyesuaian seperti menyusun jurnal umum biasa. Postingan kali ini akan membahas tentang penyusunan jurnal penyesuaian dengan cara membalik posisi saldo dari akun pada neraca saldo yang semula di debit menjadi di kredit dan sebaliknya. Teknik penyusunan jurnal penyesuaian ini digunakan untuk mencatat pemakaian perlengkapan/ barang habis pakai, pencatatan beban dibayar di muka, dan penerimaan pendapatan diterima dimuka karena. Metode ini nanti akan dikenal dua pendekatan pencatatan yaitu pendekatan neraca/harta/ hutang dan pendekatan laba rugi/pendapatan/beban.

Menyesuaikan Pemakaian Perlengkapan/ Barang Habis Pakai
Selama tahun berjalannya operasi perusahaan umumnya membeli perlengkapan secara sekaligus ataupun berangsur. Nilai saldo perlengkapan di neraca saldo tersebut menunjukan nilai yang berasal dari saldo awal ditambah dengan pembelian- pembelian perlengkapan yang dilakukan selama operasi perusahaan. Jumlah tersebut belum menunjukan nilai yang sebenarnya dari perlengkapan karena belum diketahui berapa jumlah perlengkapan yang terpakai selama satu periode akuntansi ataupun jumlah perlengkapan yang tersisa di akhir periode. Untuk menyesuaikan perlengkapan ini kita harus teliti dengan pendekatan apa yang dipakai perusahaan dalam memperlakukan perlengkapan tersebut apakah dengan pendekatan neraca atau laba rugi. Sebagai gambaran jika di neraca saldo terdapat akun perlengkapan di debit maka perusahaan mencatatnya sebagai harta/ pendekatan neraca tetapi kalau di neraca saldo adalah beban perlengkapan maka pendekatan yang dipakai adalah laba rugi/beban.

Menyesuaikan perlengkapan, jika saat pencatatan dicatat sebagai perlengkapan/ pendekataan neraca/ harta
Cara mudah untuk menyesuaikan dengan pendekatan ini adalah dengan membalik posisi akun di neraca saldo, kita ketahui bahwa posisi perlengkapan di neraca saldo adalah di debit sehingga ketika penyusunan jurnal penyesuaiannya posisi perlengkapan dipindah ke posisi kredit sedangkan posisi di debit muncul akun baru yaitu beban perlengkapan (dalam jurnal penyesuaian pasangan akun harta adalah beban). Yang menjadi masalah disini adalah nilai/nominal yang akan dimasukkan ke dalam jurnal penyesuaian tersebut. Cara mudah untuk menghafalnya yaitu ingat pencatatannya menggunakan pendekatan Neraca/ Harta, ambil huruf terdepan dari kata Harta yaitu huruf H, kita analogikan ini dengan kata HABIS.Berarti nilai yang akan dimasukkan adalah nilai yang HABIS atau yang terpakai yaitu nilai saldo perlengkapan awal dikurangi dengan saldo perlengkapan yeng tersisa.

Contoh 1:
Tanggal 31 Desember terdapat saldo perlengkapan sebesar Rp. 3.650.000,- di debit. Berdasarkan catatan perusahaan ternyata nilai perlengkapan di akhir periode masih tersisa sebesar Rp. 2.500.000. 

Bagaimanakah Jurnal Penyesuaiannya.
Analisis:
Saldo Perlengkapan Debit Rp.3.650.000,-, 
Nilai yang disesuaikan: Perlengkapan -> Harta, H-> Habis/Terpakai = Rp.3.650.000 - Rp. 2.500.000 = Rp. 1.150.000,-
Penyesuaiannya: Balik posisi akun Debit -> Kredit, munculkan akun baru, pasangan akun harta dalam penyesuaian adalah beban-> Beban Perlengkapan untuk menggantikan posisi semula akun tersebut.

Jurnal Penyesuaiannya:
Beban Perlengkapan Rp.1.150.000,-
Perlengkapan Rp. 1.150.000,-

Catatan: Untuk nominal yang dicantumkan dalam penyesuaian tersebut tergantung pada keterangan catatan penyesuaian. Jika dalam catatan keterangan/ data penyesuaian sudah terdapat keterangan perlengkapan yang terpakai atau habis selama periode tersebut maka tidak perlu dihitung nilai yang habis seperti di atas tetapi langsung saja dimasukkan nilai yang habis pada catatan penyesuaian tersebut.

Contoh 2: 
Tanggal 31 Desember di neraca saldo terdapat akun perlengkapan di debit dengan nominal Rp. 3.200.000,- . Catatan fisik perusahaan menyatakan bahwa perlengkapan yang terpakai selama satu tahun adalah sebesar Rp. 2.200.000,-. 

Analisis:
Penyesuaiannya adalah langsung saja membalik posisi debet perlengkapan menjadi di kredit daan mengganti posisi debit dengan beban perlengkapan, nominalnya langsung saja dimasukkan data penyesuaian untuk perlengkapan yang terpakai.
Jurnal Penyesuaiannya:
Beban Perlengkapan Rp. 2.200.000,-
Perlengkapan Rp. 2.200.000,-

Menyesuaikan perlengkapan ketika pencatatan dicatat sebagai beban perlengkapan/ pendekatan laba rugi/ beban
Cara yang digunakan sama dengan yang di atas yaitu membalik posisi dari beban perlengkapan yang di debit menjadi ke kredit dan posisi di debit digantikan oleh pasangan akun dari beban yaitu harta dalam hal ini adalah perlengkapan. Yang menjadi permasalahan adalah berapa nominal yang akan dimasukkan ke jurnal penyesuaian. Kalau dengan pendekatan Neraca/ Harta kita mengambil H huruf awal dari Harta, yaitu H = habis, pendekatan laba rugi ini juga demikian, yaitu ambil huruf awal dari Beban, yaitu B kita analogikan dengan kata BERSISA/ Nilai Sisa/ nilai yang masih ada.

Mengacu pada contoh 1 dan 2 di atas, jika contoh 1 dalam neraca saldo perlengkapan di catat sebagai beban, dalam hal ini Beban Perlengkapan debit sebesar Rp.3.650.000,- dan perlengkapan yang tersisa/ masih ada sebesar Rp.2.500.000,-

Analisis:
Penyesuaiannya adalah membalik posisi saldo beban perlegkapan yang di debit menjadi di kredit, nilai yang disesuaikan adalah nilai sisa atau yang masih ada yaitu Rp. 2.500.000,-

Jurnal Penyesuaiannya:
Perlengkapan Rp. 2.500.000,-
Beban Perlengkapan Rp. 2.500.000,-
Untuk kasus contoh 2, kita terlebih dahulu harus menghitung nilai yang masih ada, karena yang diketahui adalah nilai yang terpakai yaitu Rp. 3.200.000 - Rp.2.200.000= Rp.1.000.000.

Jurnal Penyesuaiannya:
Perlengkapan Rp.1.000.000
Beban Perlengkapan Rp.1.000.000

Menyesuaikan Beban Di Dibayar Dimuka
Sama halnya dengan penyesuaian perlengkapan, penyesuaian beban dibayar dimuka ini juga dicatat dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan Neraca/Harta dan pendekatan Laba Rugi/Beban. Cara menyusun jurnal penyesuaiannya juga sama yaitu jika dicatat dengan pendekatan Neraca/Harta, ingat Harta, H-> Habis nilai yang dimasukkan nilai yang habis, sedangkan pendekatan Laba Rugi/Beban, Ingat Beban, B->Bersisa, nilai yang dimasukkan nilai yang tersisa, kemudian tinggal dibalik posisi saldo awalnya. 

Untuk membedakan beban dibayar dimuka ini dicatat sebagai harta atau beban sangatlah mudah, cukup diketahui pencatatannya di neraca saldo saat penjurnalan.
Jika dicatat sebagai harta cirinya adalah ..........dibayar dimuka,ex: iklan dibayar dimuka
Jika dicatat sebagai beban cirinya adalah beban......., ex:Beban Asuransi

Menyesuaikan Beban dibayar dimuka dicatat sebagai harta (pendektaan neraca)

Contoh:
Neraca saldo perusahaan "Zhavira" menunjukan nilai asuransi dibayar dimuka di debit sebesar Rp. 1.500.000, nilai tersebut merupakan nominal asuransi yang dibayarkan pada 1 November 2009 untuk masa 1 tahun. Jurnal penyesuaian yang disusun adalah......

Analisis:
Lihat akun yang ada pada neraca saldo yaitu asuransi dibayar dimuka, berarti pendekatan yang dipakai adalah Neraca/Harta, Harta, H-> Habis, berati nilai yang habis. Nilai yang habis disini adalah mulai dari tanggal pembayaran 1 November sampai dengan tanggal 31 Desember berarti ada 2 bulan, nominalnya 2/12 x Rp.1.500.000= Rp.250.000 (2/12, 2 menunjukan jumlah bulan yang habis, 12 merupakan jangka waktu beban selama 1 tahun=12 bulan)

Penyesuaiannya:
Asuransi dibayar dimuka debit dipindah ke kredit, dan munculkan akun baru pasangan dari harta yaitu beban di debit, Beban asuransi senilai nominal yang habis.
Jurnal Penyesuaiannya:
Beban asuransi Rp. 250.000
Asuransi dibayar dimuka Rp. 250.000

Menyesuaikan Beban dibayar dimuka dicatat sebagai beban (pendekatan laba rugi)

Contoh:
Nilai Beban Iklan di neraca saldo debit sebesar Rp. 1.600.000,-. beban iklan tersebut dibayar untuk 8 x penayangan, akan tetapi sampai dengan tanggal 31 Desember iklan baru tayang 3 x. Jurnal penyesuainnya adalah...

Analisis:
Lihat akun di neraca saldo yaitu beban iklan, berarti pencatatan dengan pendekatan laba rugi/beban, Beban, B-> Bersisa, berarti nilai yang sisa. NIlai yang sisa adalah total penayangan yang seharusnya yaitu 8 x tayang dikurangi dengan total tayangan iklan yang sudah terlaksana yaitu 3 x, nilai sisa = 8 x - 3 x = 5 x, nilainya yaitu 5/8 x Rp 1.600.000 = Rp.1.000.000.

Penyesuainnya:
Beban Iklan didebit dipindah ke kredit dan munculkan akun baru pasangan dari beban yaitu harta, Iklan dibayar dimuka di debit senilai yangmasih ada di atas.

Jurnal Penyesuaiannya:
Iklan dibayar di muka Rp. 1.000.000
Beban Iklan Rp. 1.000.000

Menyesuaikan Pendapatan Diterima dimuka
Menyesuaikan pendapatan diterima dimuka ini caranya sama dengan pencatatan beban dibayar dimuka dan pemakaian perlengkapan dengan dua metode pencatatan, yaitu pendekatan Neraca, bedanya kalau beban dibayar dimuka dianggap sebagai harta kalau pendapatan dicatat sebagai Hutang. Sedangkan pendekatan Laba rugi dicatat sebagai pendapatan untuk pendapatan diterima dimuka dan beban jika beban dibayar dimuka. 

Penyusunan jurnal penyesuaiannya pun sama yaitu tinggal membalik posisi saldo awalnya kemudian memunculkan akun pasangan baru dari pendapatan diterima dimuka, analogikan saja dapat= terima, maka kalau dicatat dengan pendekatan pendapatan maka muncul akun diterima dimuka, dan sebaliknya. Nilai yang dimasukkan untuk pendekatan Neraca/ Hutang, H-> Habis artinya nilai yang sudah habis menjadi pendapatan perusahaan, sedangkan untuk pendekatan pendapatan nilai yang dimasukkan nilai yang belum/nilai sisa.

Untuk membedakan pencatatan ini dicatat sebagai Hutang atau Pendapatan, caranya:
Jika dicatat sebagai hutang, cirinya.....................diterima dimuka, ex: iklan diterima dimuka
Jika dicatat sebagai pendapatan, cirinya pendapatan.........., ex:pendapatan sewa

Menyesuaikan Pendapatan diterima dimuka dengan pendekatan Neraca/Hutang

Contoh:
Tanggal 2 Agustus 2009 perusahaan menerima pendapatan atas sewa gedung untuk masa 1 tahun sebesar Rp. 3.000.000, ketika penerimaan pembayaran tersebut perusahaan mencatatnya sebagai sewa diterima dimuka

Analisis:
Pencatatan di neraca saldo adalah sewa diterima dimuka, dicatat sebagai hutang atau pendekatan neraca, Hutang, H-> Habis, nilai pendapatan yang habis/sudah menjadi pendapatan perusahaan dalam hal ini bulan Agustus sampai dengan 31 Desember yaitu 5 bulan, perhitungannya 5/12 x Rp. 3.000.000 =Rp. 1.250.000,- (5/12, 5 jumlah bulan yang habis, 12 jumlah bulan berlakunya pendapatan selama 1 tahun)

Penyesuaiannya:
Sewa diterima dimuka, Hutang posisi di kredit dipindah ke debit munculkan pasangan akun diterima dimuka, terima =dapat, pendapatan sewa kredit, nilai yang habis diatas.

Jurnal Penyesuaiannya:
Pendapatan Sewa Rp. 1.250.000
Sewa Diterima di Muka Rp. 1.250.000

Menyesuaikan Pendapatan diterima dimuka dengan pendekatan laba rugi/pendapatan.
Kita masih pakai contoh di atas, artinya ketika tanggal 2 Agustus 2009 menerima pendapatan sebesar Rp. 3.000.000, perusahaan mencatatnya sebagai pendekatan sewa.

Analisisnya:
Pencatatan di neraca saldo dan penjurnalan adalah pendapatan sewa, dicatat dengan pendekatan pendapatan/laba rugi berarti nilai yang disesuaikan adalah nilai yang sisa yaitu dari 1 Januari 2010 sampai dengan 31 Juli 2010 atau 7 bulan (12 bulan - 5 bulan = 7 bulan)
Perhitungannya 7/12 x Rp. 3.000.000 = Rp. 1.750.000 atau Rp. 3.000.000 - Rp.1.250.000 = Rp. 1.750.000

Penyesuaiannya:
Pendapatan sewa, pendapatan di kredit dipindah ke debit, munculkan akun pasangan pendapatan, dapat= terima, sewa diterima dimuka ke kredit.

Jurnal Penyesuaiannya:
Pendapatan Sewa Rp. 1.750.000,-
Sewa Diterima dimuka Rp. 1.750.000,-

Kesimpulan dan Catatan
1. Untuk mencatat jurnal penyesuaian pemakaian perlengkapan, beban dibayar dimuka, dan pendapatan diterima dimuka memiliki persamaan yaitu dua pendekatan pencatatan yaitu pendekatan Neraca (harta untuk perlengkapan dan beban dibayar dimuka, hutang untuk pendapatan diterima dimuka) dan pendekatan laba rugi (Beban untuk perlengkapan dan beban dibayar dimuka serta pendapatan untuk pendapatan diterima dimuka)

2. Nilai yang dimasukkan ke dalam jurnal penyesuain juga sama yaitu untuk pendekatan Neraca adalah nilai yang habis/terpakai/yang sudah menjadi pendapatan) sedangkan untuk pendekatan Laba rugi adalah nilai yang bersisa/masih ada/belum menjadi pendapatan.

3. Ayat penyesuaian yang disusun juga dengan cara memindahkan posisi saldo awal yang semula di debit menjadi di kredit dan sebaliknya kemudian munculkan akun baru yang merupakan pasangan dari akun tang bersangkutan.

4. Untuk menentukan jumlah bulan yang habis atau tersisa, jika transaksi dicatat tidak tepat tanggal 1 adalah jika transaksi terjadi sebelum tanggal 15 maka bulan paa tanggal tersebut dihitung contohnya transaksi terjadi tanggal 13 April, maka nilai yang habis adalah dari hulan april sampai dengan 31 Desember. Jika transaksi terjadi tanggal 15 atau setelahnya jumlah hulan yang habis dihitung dari bulan berikutnya, misalkan transaksi tanggal 18 September, maka bulan yang habis atau terpakai dihitung dari bulan Oktober sampai dengan 31 Desember.

Demikianlah materi tentang Cara Cepat dan Mudah Mengerjakan Jurnal Penyesuaian yang sempat kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Contoh Pengerjaan Soal Laporan Keuangan Perusahaan Dagang yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar…!!!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Cara Cepat dan Mudah Mengerjakan Jurnal Penyesuaian

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...