Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Tuesday, August 29, 2017

Tata Cara Penghimpunan Dana Bank Syariah

Tata Cara Penghimpunan Dana Bank Syariah - Penghimpunan dana dari masyarakat yang dilakukan oleh bank konvensional adalah dalam bentuk Tabungan, Deposito dan Giro yang lazim disebut dengan dana pihak ketiga. Dalam bank syariah penghimpunan dana dari masyarakah dilakukan tidak membedakan nama produk tetapi melihat pada prinsip yaitu prinsip wadiah dan prinsip mudharabah. 

Apapun nama produk yang diperhatikan adalah prinsip yang dipergunakan atas produk tersebut, hal ini sangat terkait dengan porsi pembagian hasil usaha yang akan dilakukan antara pemilik dana / deposan (shahibul maal) dengan bank syariah sebagai mudharib. Untuk mengetahui lebih dalam tentang kedua prinsip tersebut, berikut dilakukan pembahasan masing-masing prinsip 

A. Penghimpunan Dana Prinsip Wadiah 

Wadiah dapat diartikan sebagai titipan dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penyimpan menghendakinya. Tujuan dari perjanjian tersebut adalah untuk menjaga keselamatan barang itu dari kehilangan, kemusnahan, kecurian dan sebagainya. Yang dimaksud dengan “barang” disini adalah suatu yang berharga seperti : Uang, Barang, Dokumen, Surat berharga, Barang lain yang berharga disisi Islam.  Bank sebagai penerima titipan tidak ada kewajiban untuk memberikan imbalan dan bank syariah dapat mengenakan biaya penitipan barang tersebut.

Atas kebijakannya bank syariah dapat memberikan “bonus” kepada penitip dengan syarat: 
  1. Bonus merupakan kebijakan (hak prerogatif) dari bank sebagai penerima titipan 
  2. Bonus tidak disyaratkan sebelumnya dan jumlah yang diberikan, baik dalam prosentase maupun nominal, tidak ditetapkan dimuka. 
Adapun rukun yang harus dipenuhi dalam transaksi dengan prinsip wadiah adalah : 
  • Barang yang dititipkan 
  • Orang yang penitipkan / penitip 
  • Orang yang menerima titipan/ penerima titipan 
  • Ijab Qobul 

Wadi`ah terdiri dari dua jenis yaitu: 
1. Wadiah Yad Al Amanah, dengan karateristik yaitu : merupakan titipan murni, barang yang dititipkan tidak boleh digunakan (diambil manfaatnya) oleh penitip, sewaktu titipan dikembalikan harus dalam keadaan utuh baik nilai maupun fisik barangnya, jika selama dalam penitipan terjadi kerusakan maka pihak yang menerima titipan tidak dibebani tanggung jawab, sebagai kompensasi atas tanggung jawab pemeliharaan dapat dikenakan biaya titipan. 

2. Wadiah Yad Ad Dhamanah dengan karakteristik yaitu : Merupakan pengembangan dari Wadi’ah Yad Al Amanah yang disesuaikan dengan aktifitas perekonomian. Penerima titipan diberi izin untuk menggunakan dan mengambil manfaat dari titipan tersebut (tidak idle). Penyimpan mempunyai kewajiban untuk bertanggung jawab terhadap kehilangan / kerusakan barang tersebut. Semua keuntungan yang diperoleh dari titipan tersebut menjadi hak penerima titipan. Sebagai imbalan kepada pemilik barang / dana dapat diberikan semacam insentif berupa bonus, yang tidak disyaratkan sebelumnya. Wadiah yad dhamanah dalam usaha Bank Islam dapat diaplikasikan pada Rekening giro (Current Account) dan Rekening Tabungan / Titipan (Saving Account), yaitu bank Islam boleh menggunakan uang itu dalam proyek berjangka pendek. Bank bertanggung jawab atas keselamatan uang itu dibawah konsep jaminan, begitu juga dengan rekening giro. Tapi peluang bagi bank untuk menggunakannya terbatas, karena pemilik barang bisa mengambil barangnya sewaktu-waktu melalui cek, karena itu bank boleh mengenakan bayaran atas rekening giro sebagai upah. Sedangkan untuk wadiah amanah dapat diaplikasikan pada custody. 

Aplikasi prinsip wadiah dalam perbankan adalah untuk produk tabungan wadiah dan giro wadiah 

1. Giro Wadi’ah 
Dalam Undang-undang no 10 tahun 1998, pasal 1 ayait 6 disebutkan yang dimaksud dengan giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan. 

Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional ditetapkan ketentuan tentang Giro Wadiah (Fatwa, 2006) sebagai berikut: 
  • a. Bersifat titipan 
  • b. Titipan bisa diambil kapan saja (on call) 
  • c. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank. 
Karakteristik dari giro wadiah antara lain: 
  • a. harus dikembalikan utuh seperti semula sehingga tidak boleh overdraft 
  • b. dapat dikenakan biaya titipan 
  • c. dapat diberikan syarat tertentu untuk keselamatan barang titipan misalnya menetapkan saldo minimum 
  • d. Penarikan giro wadi`ah dilakukan dengan cek dan bilyet giro sesuai ketentuan yang berlaku. 
  • e. Jenis dan kelompok rekening sesuai ketentuan yang berlaku, sepanjang tidak bertentang dengan syariah 
  • f. Dana wadi’ah hanya dapat digunakan seijin penitip 

2. Tabungan Wadi’ah 
Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek atau alat yang dapat dipersamakan dengan itu.  Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional ditetapkan ketentuan tentang Tabungan Wadiah (Fatwa, 2006) sebagai berikut: 
  • a. Bersifat simpanan 
  • b. Simpanan bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepakatan 
  • c. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank. 
B. Penghimpunan Dana Dengan Prinsip Mudharabah 

Istilah “mudharabah” merupakan istilah yang paling banyak digunakan oleh bank-Bank Islam. Prinsip ini juga dikenal sebagai “qiradh” atau “muqaradah”. Mudharabah adalah perjanjian atas suatu jenis perkongsian, dimana pihak pertama (shahib al’mal) menyediakan dana, dan pihak kedua (mudharib) bertanggung jawab atas pengelolaan usaha. Hasil Usaha dibagikan sesuai dengan nisbah (porsi bagi hasil) yang telah disepakati bersama secara awal. 

Dalam transaksi dengan prinsip mudharabah harus dipenuhi rukun mudharabah yaitu : 
  • 1. Shahibul maal / Rabulmal (pemilik dana / nasabah) 
  • 2. Mudharib (pengelola dana/ pengusaha / bank) 
  • 3. Amal ( Usaha / pekerjaan) 
  • 4. Ijab Qabul 

Dilihat dari segi kuasa yang diberikan kepada pengusaha, mudharabah terbagi menjadi 2 jenis, yaitu: 

1. Mudharabah Muthlaqah, (Investasi Tidak Terikat/Dana Syirkah Temporer) yaitu pihak pengusaha “diberi kuasa penuh untuk menjalankan proyek tanpa larangan / gangguan apapun” urusan yang berkaitan dengan proyek itu dan tidak terikat dengan waktu, tempat, jenis, perusahaan dan pelanggan.  Investasi tidak terbatas ini pada usaha perbankan syariah diaplikasikan pada tabungan, dan deposito. 

2. Mudharabah Muqaidah / Muqayyadah (Investasi Terikat) yaitu pemilik dana (shahibul maal) membatasi / memberi syarat kepada mudharib dalam pengelolaan dana seperti misalnya hanya untuk melakukan mudharaah bidang tertentu, cara, waktu dan tempat yang tertentu saja, Bank dilarang mencampurkan rekening investasi terbatas dengan dana bank atau dana rekening lainnya pada saat investasi. Bank dilarang untuk investasi dananya pada transaksi penjualan cicilan, tanpa penjamin atau tanpa jaminan. Bank diharuskan melakukan investasi sendiri (tidak melalui pihak ketiga). 

Dalam Investasi Terikat ini pada prinsipnya kedudukan bank sebagai agen saja, dan atas kegiatannya tersebut bank menerima imbalan berupa fee, 

Pola dalam Investasi Terikat dapat dilakukan dengan cara : 
  • a. Chanelling, apabila semua risiko ditanggung oleh pemilik dana, bank sebagai agent tidak menanggung risiko apapun 
  • b. Executing, apabila bank sebagai agen juga menanggung risiko, dan hal ini banyak yang menganggap bahwa Investasi Terikat Executing ini sudah tidak sesuai lagi dengan prinsip mudharabah 
Mudharabah adalah muamalat yang halal dalam Islam dan mempunyai syarat-syarat yang ditetapkan Islam (karakteristik transaksi mudharabah ) yaitu : 

1. Dana Mudharabah 
Dana Mudharabah yang dihimpun harus dalam bentuk uang tunai dan bukan piutang serta dinyatakan dengan jelas jumlahnya dan harus diserahkan kepada mudharib, untuk memungkinkannya melakukan usaha. 

2. Keuntungan 
Pembagian keuntungan harus didasarkan sesuai dengan nisbah yang disepakati pada awal dan dituangkan dalam akad. Apabila ditetapkan bahwa semua keuntungan untuk satu pihak saja, atau sejumlah uang masuk untuk salah satu pihak saja, tanpa persen pembagian, maka muamalat tersebut menjadi tidak sah. Nisbah keuntungan berdasarkan perjanjian yang disetujui pada awal kontrak dan tidak ada jaminan kepada shahibul maal bahwa shahibul maal akan memperoleh keuntungan. Dalam hal usaha yang dijalankan mengalami kerugian, dan kerugian tersebut bukan kesalahan / kelalaian mudharib, maka kerugian itu akan ditanggung oleh shahibul maal. Mudharib hanya akan  menanggung kerugian dari segi waktu dan tenaga saja. Jika suatu mudharabah mengalami kerugian, maka kerugian tersebut sepenuhnya ditanggung pemilik modal, dan pengusaha tidak mendapat apa-apa dari mudharabah itu. Dan jika tidak untung, maka pemilik modal hanya dapat kembali jumlah modalnya, dan pengusaha tidak mendapat apa-apa. 

3. Peranan Bank syariah dalam hal pencampuran harta dan ber mudharabah dengan pihak ketiga, merupakan hal penting dalam bidang operasinya. Karena bank adalah “badan perantara” antara unit kelebihan dan unit kekurangan, dimana dalam perantaraan itu amat diperlukan pandangan bahwa hubungan langsung antara kedua unit itu amat sukar diwudjudkan tanpa perantaraan bank karena sebab-sebab tertentu antara lain kemampuan beberapa unit kelebihan yang tidak mencukupi untuk menampung keperluan unit kekurangan yang memerlukan biaya berjuta-juta rupiah, tapi melalui tabung yang dikendalikan bank, maka keperluan itu dapat diatasi, Jika disebut “tabung”, maka dengan sendirinya pecampuran harta tidak dapat dielakkan, karena itu setiap nasabah dalam rekening investasi dan rekening simpanan wadi’ah harus paham bahwa uang mereka akan ditempatkan kedalam tabung yang bercampuran dengan uang orang lain, ini boleh dianggap sebagai hal biasa dalam muamalat bank. 

Prinsip-prinsip mudharabah mutalaqah ini dapat diaplikasikan dalam kegiatan usaha perbankan untuk produk tabungan mudharabah dan deposito mudharabah 

1. Tabungan Mudharabah 
Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek atau alat yang dapat dipersamakan dengan itu  Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional ditetapkan ketentuan tentang Tabungan Mudharabah (Fatwa, 2006) sebagai berikut: 

a. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul mal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana 

b. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai nacam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembang-kannya, termasuk didalamnya mudharabah dengan pihak lain 

c. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang 

d. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening 

e. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya 

f. Bank tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan 

2. Deposito Mudharabah 
Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dengan bank ybs 

Jenis deposito berjangka : 

1. Deposito berjangka biasa 
Deposito yang berakhir pada jangka waktu yang diperjanjikan, perpanjangan hanya dapat dilakukan setelah ada permohonan baru / pemberitahuan dari penyimpan 

2. Deposito berjangka otomatis (Automatic roll over) 
Pada saat jatuh tempo, secara otomatis akan diperpanjang untuk jangka waktu yang sama tanpa pemberitahuan dari penyimpan Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional ditetapkan ketentuan tentang Depsoito Mudharabah (Fatwa, 2006) sebagai berikut: 

a. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana 

b. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk didalamnya mudharabah dengan pihak lain. 

c. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang 

d. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening 

e. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. 

f. Bank tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan 


B. STANDAR AKUNTANSI 
Pengukuran, pengakuan, penyajian dan pengungkapan transaksi penghimpunan dana dengan prinsip mudharabah tercantum dalam PSAK 105 tentang Akuntansi Mudharabah, dimana bank sebagai pengelola dana atau mudharib dana sebagai berikut: 

1. Pengakuan dan Pengukuran 
25. Dana yang diterima dari pemilik dana dalam akad mudharabah diakui sebagai dana syirkah temporer sebesar jumlah kas atau nilai wajar aset nonkas yang diterima. Pada akhir periode akuntansi, dana syirkah temporer diukur sebesar nilai tercatatnya. 

26. Jika pengelola dana menyalurkan dana syirkah temporer yang diterima maka pengelola dana mengakui sebagai aset sesuai ketentuan pada paragraf 12 - 13. 

27. Pengelola dana mengakui pendapatan atas penyaluran dana syirkah temporer secara bruto sebelum dikurangi dengan bagian hak pemilik dana 

28. Bagi hasil mudharabah dapat dilakukan dengan menggunakan dua prinsip, yaitu bagi laba atau bagi hasil seperti yang dijelaskan pada paragraf 11. 

29. Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer yang sudah diumumkan dan belum dibagikan kepada pemilik dana diakui sebagai kewajiban sebesar bagi hasil yang menjadi porsi hak pemilik dana. 

30. Kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan atau kelalaian pengelola dana diakui sebagai beban pengelola dana. 

2. Penyajian 
36. Pemilik dana menyajikan investasi mudharabah dalam laporan keuangan sebesar nilai tercatat. 

37. Pengelola dana menyajikan transaksi mudharabah dalam laporan keuangan 
  • (a) dana syirkah temporer dari pemilik dana disajikan sebesar nilai tercatatnya untuk setiap jenis mudharabah; 
  • (b) bagi hasil dana syirkah temporer yang sudah diperhitungkan dan telah jatuh tempo tetapi belum diserahkan kepada pemilik dana disajikan sebagai kewajiban; dan 
  • (c) bagi hasil dana syirkah temporer yang sudah diperhitungkan tetapi belum jatuh tempo disajikan dalam pos bagi hasil yang belum dibagikan. 

3. Pengungkapan 
38. Pemilik dana mengungkapkan hal-hal terkait transaksi mudharabah, tetapi tidak terbatas, pada: 
  • (a) rincian jumlah investasi mudharabah berdasarkan jenisnya; 
  • (b) penyisihan kerugian investasi mudharabah selama periode berjalan; dan 
  • (c) pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah. 
39. Pengelola dana mengungkapkan hal-hal terkait transaksi mudharabah, tetapi tidak terbatas, pada: 
  • (a) rincian dana syirkah temporer yang diterima berdasarkan jenisnya; 
  • (b) penyaluran dana yang berasal dari mudharabah muqayadah; dan 
  • (c) pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah. 

C. PERLAKUKAN AKUNTANSI DAN CONTOH KASUS 

Semua penghimpunan dana Bank Syariah yang mempergunakan prinsip mudharabah mutlqah, seperti tabungan mudharabah, deposito mudharabah dibukukan pada unsur neraca dalam kelompok  sebelumnya “Investasi Tidak terikat” disempurnakan menjadi “Dana Syirkah Temporer”. Unsur Dana Syirkah Temporer ini, tidak dapat dikategorikan sebagai kewajiban dan tidak pula dapat diketagorikan sebagai ekuitas, karena sesuai prinsip syariah mudharabah, apabila terdapat kerugian yang bukan karena kelalaian mudharib, maka kerugian tersebut menjadi tanggungan pemilik dana / shahibul maal. Oleh karena itu dana mudharabah tersebut tidak harus dikembalikan oleh mudharib seluruhnya (seratus persen), dikembalikan setelah dikurangi dengan kerugian yang ditanggung oleh penggelolaan dana mudharabah tersebut, hal ini sangat berbeda dengan penghimpunan dana dengan prinsip wadiah (titipan), dimana penerima titipan harus mengembalikan dana tersebut kapan saja penitip penghendaki, sehingga prinsip ini dikategorikan sebagai kewajiban. Tidak dikategorikan dalam kelompok ekuitas, karena ekuitas adalah penyertaan modal dari pemegang saham. 

1. Akuntansi Penghimpunan Dana Wadiah 
Berikut diberikan beberapa contoh transaksi wadiah, baik giro wadiah maupun tabungan wadiah dan jurnal-jurnal yang dilakukan. 

Contoh : 

Pada tanggal 01 Agustus 2008 Diterima setoran tunai pembukaan giro wadiah atas nama Qohar sebesar Rp. 20.000.000,-- 

Atas transaksi tersebut bank syariah melakukan jurnal sebagai berikut:

Dr. Kas 20.000.000 
Cr. Giro Wadiah (rek giro Qohar) 20.000.000 

Dari jurnal diatas akan mengakibatkan perubahan Buku Besar dan posisi Neraca sebagai berikut: 

BUKU BESAR



2. Akuntansi Deposito Mudharabah 
Untuk memberikan gambaran yang lengkap akuntansi penghimpunan dana dengan prinsip mudharabah, berikut diberikan beberapa contoh transaksi deposito mudharabah dan tabungan mudharabah dan jurnal yang dilakukan 

Contoh : 
Pada tanggal 1 Agustus 2008 Bank Syariah menerima setoran tunai atas nama Maskaryo sebesar Rp.25.000.000,-- sebagai investasi deposito mudharabah untuk jangka waktu satu bulan dengan nisabah 65 untuk nasabah dan 35 untuk bank syariah. 

Atas transaksi tersebut bank syariah melakukan jurnal sebagai berikut: 

Dr. Kas 25.000.000 
Cr. Deposito Mudharabah (a/n Maskaryo) 25.000.000 

Dari transaksi tersebut akan mempengaruhi perubahan Buku Besar dan posisi Neraca sebagai berikut: 


Akuntansi Deposito Mudharabah


3. Akuntansi Tabungan Mudharabah 
Untuk memberikan gambaran akuntansi tabungan mudharabah berikut diberikan beberapa transaksi yang berkaitan dengan tabungan dan jurnalnya 

Contoh : 

03/08/2008 Diterima setoran kliring BG Bank BRI, pembukaan rekening tabungan mudharabah atas nama Zaenab sebesar Rp.10.000.000,- 

Atas transaksi tersebut bank syariah melakukan jurnal sebagai berikut: 
Dr. Bank Indonesia 10.000.000 
Cr. Titipan Kliring 10.000.000 

Saat danannya effektif (tidak ditolak): 
Dr. Titipan Kliring 10.000.000 
Cr. Rekening Tabungan (a/n Zaenab) 10.000.000 

Dari jurnal diatas akan mengakibatkan perubahan saldo Buku Besar dan posisi Neraca, serta rekening individu sebagai berikut: 

Akuntansi Tabungan Mudharabah
Demikianlah materi tentang Tata Cara Penghimpunan Dana Bank Syariah yang sempat kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Laporan Keuangan Bank Syariah yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Tata Cara Penghimpunan Dana Bank Syariah

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...