Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Saturday, August 5, 2017

Pengertian, Jenis-jenis dan Dasar Hukum Cek

Pengertian, Jenis-jenis dan Dasar Hukum CekPembayaran menggunakan cek pertama kali pada tahun 352 sebelum masehi di Romawi, namun baru tahun 1500 ditemukan bukti nyata adanya transaksi menggunakan cek di Belanda, kemudian berkembang ke Inggris sekitar tahun 1700-an. Salah satu bank memberikan nomor seri di sudut kanan atas cek agar bisa melacak keberadaan cek tersebut, dan dari sanalah asal kata "check". Peredaran cek antar bank menjadi masalah terbesar di Inggris saat itu, meskipun para kurir diberi tips untuk setiap pengambilan cek, namun tetap saja sistem itu membuang waktu dan bertele-tele. Untuk memecahkan masalah tesebut para kurir berkumpul di suatu tempat, istirahat dan saling bertukar cek dengan sesama kurir bank (dan tentu saja berbagi tips juga). Dari kegiatan para kurir tersebutlah lahir istilah 'Kliring' (clearinghouses).


Pengertian, Jenis-jenis dan Dasar Hukum Cek
Cek

Latar Belakang Penerbitan Cek
Pertumbuhan perdagangan dipengaruhi oleh tingkat kemampuan masyarakat, pada mulanya tingkat perekonomian dalam masyarakat yang masih primitif, setiap orang selalu berusaha untuk memproduksi segala apa yang menjadi kebutuhannya. Timbulnya uang sebagai alat tukar, mendorong berkembangnya perdagangan, yaitu dari perdagangan lokal, berubah menjadi perdagangan regional dan akhirnya berkembang menjadi perdagangan internasional atau perdagangan antarnegara.

Di dalam perdagangan antarnegara pada Abad ke-XV laju perdagangan masih terhambat oleh beberapa faktor antara lain :
a.       Sulitnya membawa uang tunai dari negara yang satu ke negara lain ketika pedagang akan ke negara lain untuk melakukan pembelian barang-barang dagangan yang tidak sedikit jumlahnya dan apalagi uang kertas pada waktu belum ada jadi masih menggunakan uang logam.
b.      Adanya resiko pengangkutan uang dan perampokan sebagai akibat situasi yang belum sepenuhnya aman. Sebagaimana berlangsungnya perang agama selama seratus tahun di Eropa.
c.       Mahalnya biaya pengangkutan terhadap uang tunai karena bahannya yang berat.

Setelah Indonesia merdeka, melalui Pasal II Aturan Peralihan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ini tetap berlaku, demikian pula ketentuan-ketentuan mengenai cek akhirnya berlaku juga bagi seluruh golongan bangsa Indonesia karena kebutuhan masyarakat dagang Indonesia.

Surat cek sebagai alat pembayaran tunai, mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia tidak hanya bagi golongan penduduk yang diperlakukan BW (Burgerlijke wetbook), tetapi juga berlaku bagi golongan penduduk Indonesia asli atas dasar penundukan diri secara suka rela. Oleh karena itu, di dalam perkembangannya, surat cek sebagai alat pembayaran tunai atau giral, pengganti uang chartal.

Dalam masyarakat dagang khususnya,alat pembayaran tunai secara giral semacam surat cek adalah lazim sekalipun kadang-kadang bentuknya tidak sesuai dengan ketentuan pasal 178 KUHD. Ini sejenis dengan surat cek yang berlaku dikalangan pedagang Tionghoa, yaitu kertas bon putih yang disebut Pe pyo. Berlakunya Pe pyo ini hanya terbatas dalam masyarakat yang saling mempercayai saja. Apabila terjadi sengketa penyelesaiannya sangat sulit. Jeis pembayarannya ini pada dasawarsa beredar di Kalimantan Barat dan Jambi.


1. Pengertian Surat Cek
Cek adalah suatu instruksi dari anda ke bank anda untuk mengirimkan uang dari rekening anda ke rekening orang lain ketika orang tersebut menyetorkan cek yang diterimanya.

Cek memungkinkan terjadinya transaksi tanpa harus membawa sejumlah besar mata uang. Penemuan cek merupakan inovasi terbesar yang dapat meningkatkan efisiensi sistem pembayaran. Sering kali, pembayaran dibuat bolak-balik saling membatalkan; tanpa cek, hal tersebut akan membuat pergerakan dari banyak mata uang. Dengan cek, pembayaran yang saling membatalkan dapat diselesaikan dengan pembatalan cek, dan tidak ada uang yang perlu dipindahkan. Akibatnya, penggunaan cek dapat munurunkan biaya transportasi yang terkait dengan sistem pembayaran dan meningkatkan efisiensi ekonomi. Keuntungan cek lainnya adalah dapat dituliskan berapa pun jumlahnya sampai sejumlah saldo yang ada di rekening, sehingga membuat transaksi dalam jumlah besar menjadi lebih mudah. Cek juga dapat mengurangi kerugian seandainya cek tersebut dicuri, dan karena cek memberikan bukti pembelian dengan nyaman.

Akan tetapi, terdapat dua permasalahan dengan sistem pembayaran berdasarkan cek, yaitu :
a.       Dibutuhkan waktu untuk mendapatkan cek dari satu tempat ke tempat lainnya, khususnya pada maalah yang serius jika anda akan membayar seseorang dengan lokasi berbeda yang membutuhkan pembayaran dengan cepat.
Kalau anda mempunyai rekening giro, biasanya bank membutuhkan waktu beberapa hari sebelum dapat menggunakan cek dari setoran yang kita simpan. Kalau anda membutuhkan uang tunai dengan segera, sifat pembayaran dengan cek dapat membuat anda frustasi.
b.      Kedua, semua pekerjaan administrasi yang dibutuhkan dalam proses cek juga mahal; diperkirakan saat ini bisa mencapai lebih dari $10 miliar per tahun untuk memproses semua cek yang ditulis di Amerika Serikat.
Surat cek merupakan warkat yang berisi perintah tidak bersyarat kepada bank-bank yang memelihara rekening nasabah untuk membayarkan suatu jumlah uang tertentu kepada orang tertentu atau orang yang ditunjuk olehnya atau pembawanya.

 Surat cek adalah surat yang memuat kata cek yang diterbitkan pada tanggal dan tempat tertentu, di mana penerbit memerintahkan tanpa syarat kepada bankir untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada pemegang atau pembawa di tempat tertentu.

Menurut hukum surat berharga yang diatur dalam KUHD surat cek berbeda dengan wesel, walaupun kedua-duanya dapat dibayar dan atas penglihatan. Istilah cek sering didengar, tetapi masih sedikit masyarakat umum yang terlibat langsung dalam massalah transaksi dan teknis pembayaran atau dalam dunia niaga. Akibatnya masyarakat kurang mengetahui dengan pasti tentang apakah cek itu sebenarnya.

Menurut Samiadji Soerjotjaroko, S.H., cek adalah suatu surat yang memuat tanda tangan dari orang yang mengeluarkan cek tersebut (penarik) Pasal 178 KUHD. Dr. Lucas dalam bukunya Cheque Giro Enbinnlandsehe Clearing memberikan definisi bahwa cek adalah perintah pembayaran (kepada bank) dari orang yang membawanya atau orang yang namanya tersebut dalam cek sejumlah uang yang tertera di atasnya.

Yang dimaksud dengan orang yang menandatanganinya menurut Dr. Lucas, yaitu sudah tentu orang yang mempunyai simpanan uang dalam bentuk rekening giro di bank.

1. Dasar Hukum Cek
Dasar hukum pengaturan cek diatur dalam Pasal 178 sampai dengan 229 KUH Dagang. Di samping itu, ada tambahan penjelasan yang dimuat dalam Surat Edaran Bank Indonesia. Dalam Pasal 178 KUH Dagang.

2.Syarat Cek
Berdasarkan dasar hukum tersebut telah ditentukan syarat untuk cek sebagai surat berharga, yakni :
a.       Harus terdapat perkataan cek dalam bahasa yang dipakai untuk merumuskan bunyi cek tersebut.
b.      Surat cek harus berisi surat perintah tak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu.
c.       Nama orang yang membayar (tertarik) harus selalu suatu bank.
d.      Penunjukkan tempat pembayaran.
e.       Penyebutan tanggal dan tempat penarikan cek.
f.       Tanda tangan orang yang menarik cek.

 Dengan demikian, jika syarat-syarat di atas di dalam Pasal 179 Ayat (1) KUH Dagang dikatakan merupakan syarat mutlak dan jika salah satu tidak disebutkan maka surat tersebut tidak dapat dikatakan sebagai cek. Akan tetapi, dalam Pasal 179 Ayat 2, 3, dan 4 KUH Dagang, cek dapat memiliki kekhususan, sebagai berikut :
a.       Tempat pembayaran tidak disebutkan secara tegas maka tempat pembayaran dianggap tempat yang disebutkan di samping nama si tertarik.
b.      Penunjukkan tidak ada maka cek harus dibayar ditempat nama kantor besar (pusat) dari tertarik berada.
c.       Jika disebutkan tempat mana cek ditarik maka tempat yang disebutkan disamping nama si penarik dianggap selaku tempat itu.

3. Karakteristik Cek yang di Keluarkan Perbankan

4.      Manfaat Cek
a.       Manfaat cek bagi pemilik rekening (nasabah):
1)      Sebagai alat pencatatan dan pembukuan transaksi penarikan dana di bank
2)      Sebagai alat pengawasan jumlah dana yang tersedia di bank
3)      Sebagai alat penarik dana dari bank
4)      Sebagai alat pembayaran kepada pihak lain
b.      Manfaat cek bagi bank :
1)      Sebagai alat pembayaran
2)      Sebagai alat pemindahbukuan dari satu rekening ke rekening lainnya
3)      Sebagai dokumen pembukuan
c.       Manfaat cek bagi pihak ketiga, yaitu pihak yang memegang cek:
1)      Sebagai alat untuk menyelesaikan hutang piutang dengan pihak lain
2)      Sebagai alat pembayaran, pengganti alat pembayaran yang sah

5. Tenggang Waktu Cek
Adapun tenggang waktu dari cek adalah 70 hari sejak tanggal penarikannya, apabila setelah 70 hari cek yang bersangkutan tidak diuangkan maka penarik tidak wajib lagi menyediakan dana untuk cek yang bersangkutan.

Pasal 209 KUH Dagang, jika tiada penarikan kembali terjadi maka si tertarik (bank) boleh membayarnyapun setelah berakhirnya tenggang waktu itu. Jadi, cek tidak otomatis batal setelah masa tenggang 70 hari dilewatkan. Si penarik harus mengajukan surat pembatalan pada bank bertarik bila dia tidak menginginkan pembayaran lagi.

5. Jenis-jenis Cek
Dengan adanya ketentuan-ketentuan yang bersifat khusus, sehingga menyebabkan adanya beberapa jenis cek, sebagai berikut :
a.       Cek atas Tunjuk/Pembawa (aan toonder)
Dimana bank akan membayarkan kepada siapa saja yang datang untuk menguangkan cek tersebut kepadanya.
b.      Cek atas Nama (aan order)
Dimana bank akan membayarkan kepada orang yang namanya tercantum didalam cek yang bersangkutan.
c.       Cek atas Pembawa
Dimana bank akan memperlakukan cek semacam ini sebagai cek atas tunjuk, akan tetapi hal ini berbeda apabila sebutan pembawa di coret maka cek tersebut berlaku sebagai cek atas nama.
d.      Cek Mundur (postdated cheque)
Merupakan cek yang oleh penarikannya diberi tanggal akan datang, dengan demikian cek yang bersangkutan hanya dapat diuangkan pada tanggal yang telah dicantumkan dalam cek yang bersangkutan.
e.       Cek Silang (crossed cheque)
Merupakan cek yang diberikan tanda silang/garis miring yang sejajar pada bagian muka. tanda silang tersebut memberikan petunjuk kepada bank pembayar bahwa cek tersebut hanya dapat dibayarkan kepada suatu bank yang disebut diantara kedua garis silang sejajar. dengan demikian, cek silang hanyalah untuk disetorkan kedalam rekening saja, sehingga cek yang bersangkutan hanya dapat dikliringkan pada bank tersebut.


Sementara itu, dalam Pasal 204 Ayat 2 KUH Dagang ditentukan jenis cek silang, sebagai berikut :
1)      Secara umum, diberi tanda dua garis sejajar dan diantaranya tidak terdapat/tidak termuat sesuatu petunjuk/nama suatu bank maka cek tersebut hanya dapat dibayar oleh bank pembayar kepada setiap bank yang menyerahkannya/kepada nasabah bank pembayar yang menyerahkan cek itu.
2)      Secara khusus, antara dua garis sejajar terdapat nama suatu bank
Jadi, tujuan pemberian tanda silang pada cek, agar membatasi pihak-pihak yang dapat mencairkan dana atas cek yang disilang tersebut.
Dengan demikian, pemberian tanda silang dapat dilakukan oleh penarik maupun pemegang pada suatu cek. Dalam Pasal 214 Ayat 5 KUH Dagang, cek yang telah diberi tanda silang, tidak dapat dihapus. Oleh karena itu, setiap pencoretan atas tanda silang/pencoretan atas nama bank yang terdapat dalam kedua garis sejajar  dianggap sebagai tidak tertulis/tidak ada pencoretan.


B. Cek Kosong
Adalah cek yang pada saat diajukan kepada bank tertarik untuk diuangkan, tidak tersedia dana yang cukup pada rekening nasabah penarik cek tersebut. Dari pengertian tersebut, jelas bahwa nasabah yang bersangkutan hanya diperbolehkan menerbitkan surat cek yang jumlahnya maksimal sama dengan jumlah saldo giro yang ada, jika jumlah cek itu melebihi saldo giro yang ada, ia dikatakan cek kosong.
 Dengan demikian, apabila nasabah (pemegang rekening) tersebut melakukan penarikan cek kosong selama tiga kali berturut-turut dalam jangka waktu 6 bulan maka rekening harus segera ditutup dan penutupan harus dilaporkan kepada Bank Indonesia. Artinya, pemegang tersebut tidak boleh berhubungan dengan bank-bank yang ada baik di Indonesia maupun luar negeri.

Setiap pemegang hak atas cek mempunyai hak regres apabila tidak berhasil menguangkan cek yang diunjukkan kepada bank, karena bank menolak untuk membayarnya. Dengan Undang-Undang telah diberikan hak untuk menuntut para penghutang (penerbit, endosan, avails) cek untuk melakukan pembayaran asalkan cek yang dimaksud belum kadaluarsa.
1.      Bentuk-bentuk Surat Cek Khusus
a.       Surat cek atas pengganti penerbit
b.      Surat cek atas penerbit sendiri
c.       Surat cek untuk perhitungan orang ketiga
d.      Surat cek inkaso
e.       Surat cek berdomisili
2.      Mekanisme Pembukuan Cek

Mekanisme dari sebuah cek penerimaan cek tunai ditempatkan dalam penerimaan kas ditindak lanjuti dengan proses kliring/ingkaso setoran pemindahan bank , lalu pengeluaran cek tunai ditempatkan dalam pengeluaran bank ditindak lanjuti dengan proses rekonsiliasi bank di akhir bulan.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengertian, Jenis-jenis dan Dasar Hukum Cek

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...