Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Saturday, August 5, 2017

Pengertian, Dasar Hukum dan Waktu Penawaran Bilyet Giro

Pengertian, Dasar Hukum dan Waktu Penawaran Bilyet GiroSurat Giro atau Postgiro memiliki sejarah yang panjang dan membanggakan dalam sejarah finansial Eropa. Konsep dasar adalah sistem perbankan tidak berdasarkan cek, tetapi dengan transfer langsung di antara rekening. Jika kantor akuntan di sentralisasi, maka transfer di antara akun akan terjadi secara simultan. Uang bisa dibayarkan atau ditarik dari sistem dari kantor pos manapun, dan nantinya koneksi ke sistem perbankan komersial dibuat, seringnya dengan keyakinan dari bank lokal membuat akun sendiri di Postgiro.


Pengertian, Dasar Hukum dan Waktu Penawaran Bilyet Giro
Bilyet Giro

Pada pertengahan abad 20, kebanyakan negara di benua Eropa memiliki layanan pos giro. Sistem posgiro pertama ada di Austria di awal abad 19. Pada saat Posgiro Inggris diadakan, Posgiro Belanda telah distabilkan dengan baik dengan setiap orang dewasa memiliki akun posgiro dengan operasi posgiro yang besar dan digunakan dengan baik di negara Eropa lain kebanyakan dan Skandinavia. Istilah "bank" tidak digunakan pada saat itu juga untuk mendeskripsikan layanan tersebut. Instrumen pembayaran utama bank didasarkan dengan cek di mana memiliki perbedaan keseluruhan dengan model remiten "giro".

Latar Belakang Penerbitan Bilyet Giro
Dalam lalu lintas perdagangan, pihak-pihak dapat melakukan bermacam-macam transaksi, lalu timbulah hak dan kewajiban para pihak itu antara satu dengan yang lain. Transaksi juga bisa terjadi antara kedua belah pihak, dimana pihak yang satu akan menyerahkan sejumlah uang dan pihak yang lainnya mendapatkan perintah untuk menyimpan sejumlah uang tersebut. Mungkin juga dapat terjadi transaksi antara pihak yang satu dengan yang lain, agar pihak lain itu menyerahkan sejumlah uang kepada pihak yang ditunjuk dan sebagai imbalannya pihak pemberi amanat menyerahkan sejumlah uang kepada penerima amanat.

Perjanjian ini bermacam-macam wujudnya, misalnya perjanjian jual beli, pinjam meminjam uang, penyimpanan uang di bank, dan lain sebgainya. Dalam hal perjanjian, disepakati pula bagi orang yang berkepentingan melaksanakan pembayaran, dapat membayar dengan cara lain yang tidak sama seperti dengan cara pembayaran biasa, yaitu dengan pembayaran sejumlah uang kontan.

Bilyet giro ini kemudian dibawa oleh pemegangnya dan dijatuhkan kepada pihak ketiga yang namanya tersebut dalam bilyet giro itu, guna memperoleh pembayaran, yakni dalam bentuk booking transfer yang sesuai dengan isi perjanjian tersebut.

Pengertian Bilyet Giro
Bilyet giro adalah surat perintah dari nasabah kepada bank epnyimpan dana untuk memindahkan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening pemegang yang disebutkan namanya. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dikatakan bahwa bilyet giro merupakan surat yang berharga dapat dialihkan/ diperdagangkan serta ditukarkan dengan uamg seperti halnya cek. Jika bilyet giro tersebut tidak disebutkan tidak diisikan nama si penerima dana oleh penariknya, sehingga mudah untuk dialihkan dari tangan yang satu ke tangan yang lain.

Dengan demikian, pembayaran bilyet giro tidak dapat dilakukan dengan uang tunai dan tidak dapat dipindahtangankan melalui endosemen. Endosemen adalah penyerahan suatu surat atas tertunjuk oleh seseorang yang berhak/pemegang kepada orang lain dengan disertai pernyataan mengalihkan haknya atas surat yang ditulis pada surat tersebut. Istilah bilyet giro berasal dari kata bilyet dalam bahasa Belanda, artinya surat dan giro berasal dari bahasa Italia yang berarti simpanan nasabah pada bank yang pengambilannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek atau dengan pemindahbukuan. Jadi, bilyet giro adalah surat perintah pemindahbukuan yang berfungsi sebagai pembayaran karena itu bilyet giro disebut alat pembayaran.

Sebagai bahan perbandingan terhadap definisi bilyet giro dikemukakan versi-versi rumusan yang diberikan oleh Soesatio Reksodiprodjo dalam bukunya yang berjudul Pengguna Ekonomi Bank dan Kredit disebutkan bahwa bilyet adalah giro yang berarti alat untuk melunasi utang piutang melalui clearing. Adapun menurut Muhammad Amin, S.H. bilyet giro sebagai surat berharga model baru pada hakikatnya bilyet iro adalah surat perintah tanpa syarat dari nasabah suatu bank yang memelihara dananya karena tertarik. Perintah dimana bentuk dan isinya sudah distandardisasi untuk memindahbukukan sejumlah dana penarik kepada pihak penerima yang namanya telah disebutkan penerima yang memiliki rekening pada bank yang sama.

Atas dasar beberapa perumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa bilyet giro adalah suatu surat perintah pemindahbukuan tanpa syarat yang dikeluarkan oleh penerbit nasabah yang mempunyai rekening giro/yang ditujukan kepada tersangkut), dimana penerbit mempunyai rekening giro dengan permintaan agar sejumlah dana yang disediakan untuk kepentngan pemegang ata penerima yang tercantum dalam bilyet giro itu.

Dengan batasan pengertian diatas, dapat diketahui ada beberapa unsur yang antara lain:
a.       Bilyet giro adalah suatu perintah pemindahbukuan tanpa syarat dari penarik bilyet giro
b.      Penerbut bilyet giro haruslah nasabah yang mempunyai rekening giro.
c.       Tersangkut bilyet giro adalah bank yang memelihara rekening giro penerbit.
d.      Pemegang atau penerima bilyet adalah harus nasabah bank, baik bank yang sama maupun bank lain.
e.       Bilyet giro tidak dapat dilakukan dengan pembayaran uang tunai.

2. Dasar Hukum Bilyet Giro
Dasar hukum bagi bilyet giro diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 28/32/UPG, tanggal 4  Juli 1995 dan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor  28/32/Kep/Dir, tanggal 4 Juli 1995.

3. Syarat Bilyet Giro
Sama halnya dengan surat-surat berharga lainnya, surat aksep dan surat cek bilyet giro juga ada syarat-syarat formalnya. Adapun syarat-syarat formal bilyet giro sebgai berikut :
a.       Nama nomor seri dan bilyet giro tercantum pada formulir bilyet giro. Jika diperhatikan, klausul bilyet giro cukup dicantumkan pada formulir bilyet giro dan tidak perlu dicantumkan dalam teksnya.
b.      Perintah yang jelas tanpa syarat untuk memindahkan pemindahbukuan sejumlah dana atas beban saldo penarik yang harus tersedia pada saat berlakunya surat perintah yang terkandug dalam bilyet giro tersebut.
c.       Nama dan tempat bank tarik kepada perintah termaksud ditujukan. Nama bank tertarik atau tersangkut dimuat dalam bilyet giro.
d.      Nama pihak yang harus menerima pemindahbukuan dana secara administratif termaksud dan jika dianggap perlu, alamat dan nama pihak penerima dana harus ada. Artinya, bank tersangkut harus mengetahui apakah penerima dana itu adalah nasabah bank yang bersangkutan atau nasabah bank lain.
e.       Jumlah dana yang dipindahbukukan dapat ditulis baik berupa angkamaupun huruf.
f.       Tanda tangan penarik dan cap atau stempel badan usaha diperlukan jika si penarik merupakan suatu perusahaan berbentuk badan usaha.
g.      Tempat penarikan dan tanggalnya atau tempat dan tanggal penarikan. Tempat ini penting untuk mengetahui dimana perbuatan itu dilakukan.
h.      Tanggal mulai efektif berlakunya peraturan atau perintah dalam bilyet giro, tanggal efektif perlu disebutkan secara khusus.
i.        Nama bank dimana orang atau pihak yang harus menerima dana pemindahbukuan tersebut memelihara rekening sepanjang nama bank si penerima itu diketahui oleh penarik.

4. Waktu Penawaran Bilyet Giro
Tenggang waktu penawaran bilyet giro perlu ditetapkan, agar amanat atau perintah dalam bilyet giro yang bersangkutan tidak berlalul terus-menerus sehingga menyulitkan administrasinya. Adapun penetapan yang dimaksudkan adalah selama 70 hari terhitung sejak tanggal penarikannya.

Tenggang waktu penawaran ini sama dengan tenggang waktu penawaran pada surat cek, yaitu 70 hari terhitung sejak tanggal penerbitannya. Jika dibandingkan dengan surat cek, bilyet giro mempunyai dua macam tanggal penerbitan dan tanggal efektif, yang merupakan tenggang waktu dimana penerbit diberi kesempatan untuk mengusahakan dana untuk membayar dengan cara pemindahbukuan.
a.       Macam Tenggang Waktu
Tenggang waktu yang dikenal pada bilyet giro ada dua macam :
1)      Tenggang waktu dari tanggal penerbitan sampai pada tanggal efektif. Dalam hal ini diberikan kesempatan kepada penerbit untuk mempersiapkan dana guna membayar bilyet giro dengan pemindahbukuan.
2)      Tenggang waktu mulai tanggal efektif sampai berakhirnya waktu tenggang waktu 70 hari. Dalam hal ini kesempatan diberikan kepada pemegang untuk menawarkan kepada bank tesangkut guna pemindahbukuan dana.
b.      Bebas Materai
Karena tenggang waktu penawarannya 70 hari, baik surat cek maupun bilyet giro termasuk surat berharga jangka pendek, artinya surat berharga yang tenggang waktu peredarannya kurang dari tiga bulan.
Menurut ketentuan pasal 69 ayat (3) aturan Bea Materai 1921, surat berharga jangka pendek yang dapat dibayar dengan uang tunai dikenakan bea materai. Bilyet giro tidak dapat dibayar dengan unag tunai, melainkan hanya sebagai alat pemindahbukuan dana dari rekening giro ke rekening giro. Karena itu bilyet giro dibebaskan dari bea materai.

4. Karakteristik Bilyet Giro yang di Keluarkan Perbankan

Karakteristik Bilyet Giro yang di Keluarkan Perbankan
Karakteristik Bilyet Giro yang di Keluarkan Perbankan
5. Bilyet Giro Kosong
Bilyet giro kosong adalah bilyet giro yang diajukan kepada bank, namun dana nasabah pada bank tidak mencukupi untuk membayar atau memenuhi amanat pada bilyet giro yang bersangkutan. Jika saldo rekening yang bersangkutan tidak mencukupi, maka bilyet giro tersebut harus ditolak sebagai bilyet giro kosong.
Dalam menghadapi penarik cek kosong, pihak Bank mengeluarkan konsekwesinya antara lain: administrasi, perdata, pidana serta gabungan perdata dan pidana.
Sanksi terhadap penerbit bilyet giro kosong terutama terhadap penarikan bilyet giro kosong yang ketiga kalinya atau lebih, telah ditetapkan berdasarkan keputusan dengan moneter No. 53 Tahun 1962 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya, yang terakhir diatur kembali dengan surat edaran Bank Indonesia No.4/437 UPPB/Pbn, tanggal 5 Oktober 1971, yaitu pencantuman tentang nama-nama penarik bilyet giro kosong yang bersangkutan dalam daftar hitam dan larangan bagi bank-bank menerima nasabah-nasabah yang baru ataupun mempertahankan nasabah mereka yang namanya tercantum dalam daftar hitam tersebut.

6. Pengisian Bilyet Giro
a.       Harus jelas
Pengisian surat perintah kepada bank tertarik untuk melaksanakan apa yang diminta oleh nasabah harus lengkap, tegas, dan jelas, sebagaimana halnya pada surat-surat berharga lainnya.
Berhubung pengisian surat perintah pembayaran melalui pemindahbukuan tidak mutlah harus dilakukan oleh penerbit sendiri, maka bank tertarik yang menerima perintah termaksud yang telah diisi lengkap dan terdapat tanda tangan penarik yang sah. Tidak perlu memeriksa apakah pengisisan itu dilakukan oleh penarik sendiri atau bukan karena warkat tersebut tetap sah adanya. Kecuali jika terdapat pengisian yang sifatnya merupakan suatu perubahan amanat, maka perubahan termaksud harus disahkan oleh penarik yang bersangkutan.
b.      Di dalam praktik
Di dalam praktik sehari-hari, adakalanya terdapat bilyet giro yang tidak lengkap pengisiannya, misalnya nama si penerima dana atau nama nasabah bank penerima dana dikosongkan. Apabila terjadi hal yang demikian, maka sesuai dengan ketentuan menganai syarat-syarat formal bilyet giro tersebut. Hal ini berarti bahwa dana dapat dipindahkan ke bank mana saja untuk rekening si penerima.

Berdasarkan sifatnya bilyet giro digunakan sebagai alat pemindahbukuan di mana nama si penerima dana harus dicantumkan dan jika terdapat bilyet giro yang tidak tercantum nama penerima dana, maka warkat tersebut harus ditolak atau dikembalikan.

6. Kewajiban menyediakan dana oleh penerbit
c.       Saldo efektif
Apabila suatu rekening mempunyai saldo efektif yang cukup, barulah amanat pemindahbukuan dana dapat dilaksanakan. Saldo efektif adalah dana yang ada dalam rekening giro yang siap digunakan sewaktu-waktu bila diperlukan, sedikit-dikitnya sama dengan jumlah yang tersebut dalam bilyet giro. Yang diperhitungkan sebagai dana nasabah yang tersedia pada bank adalah saldo giro yang efektif dan/ atau saldo fasilitas kredit yang belum dipergunakan. Dalam hal ini, nasabah tersebut memperoleh fasilitas kredit dari bank berdasarkan perjanjian kredit yang dibuat sebelumnya.
d.      Kewajiban menyediakan dana sampai tanggal efektif
Dalam tenggang waktu antara penerbitan dan tanggal efektif, penerbit diberi kesempatan yang cukup lama untuk memenuhi kewajibannya mengusahakan dan menyediakan dana. Ditentukan adanya tanggal efektif dalam bilyet giro justru memberikan kesempatan pada penerbit untuk memenuhi kewajiban menyediakan dana bagi bilyet giro yang diterbitkannya.
e.       Akibat hukum
Ada kemungkinan bahwa penerbit tidak memenuhi kewajibannya setelah bilyet gironya, berarti tidak mempunyai saldo efektif yang cukup, maka dalam hal ini penerbit harus bertanggungjawab.
Ketentuan bilyet giro telah diatur oleh bank Indonesia dan tidak mengatur hak regres seperti surat wesel dan cek. Sebenarnya ketentuan semacam ini perlu bagi bilyet giro karena digunakan untuk kepentingan penerbit, pemegang bilyet giro yang jujur, dan pihak bank sendiri. Untuk itulah peraturan tentang bilyet giro di Indonesia perlu dilengkapi oleh bank Indonesia.

7. Keuntungan Penggunaan Bilyet Giro
a.       Bilyet Giro dapat post dated
Artinya dapat diberi tanggal lebih terhadap tanggal penarikannya. Pada Bilyet Giro terdapat tanggal penarikan dan terdapat pula tanggal efektif, yakni tanggal mulai berlakunya perintah pemindahbukuan yang tercantum dalam Bilyet Giro tersebut.
Selama tanggal efektif belum jatuh tempo, maka pemindahbukuan tidak akan dilakukan, yang tidak melebihi 3 (tiga) tahun sejak tanggal penerbitan. Tanggal penerbitan adalah tanggal diterbitkannya surat perintah pemindahbukuan.
b.      Bilyet Giro dapat dibatalkan setiap saat selama sebelum jatuh tanggal efektifnya atau belum dilaksanakan amanatnya oleh tertarik.
c.       Karena formulir Bilyet Giro telah distandarisasi bentuknya oleh Bank Indonesia, sehingga bila dilihat selintas bentuknya sama seperti cek (bahkan ada yang menamakan Bilyet Giro sebagai giro cek).
d.      Walaupun menurut ketentuan Bilyet Giro tidak dapat dipindahtangankan atau dialihkan hak tagihnya kepada pihak lain, tetapi kenyataannya penarik suatu Bilyet Giro sering tidak mencantumkan nama penerima dan nama bank dimana penerima dana mempunyai rekening. Sehingga Bilyet Giro sering dialihkan begitu saja hak tagihnya kepada pihak lain.
e.       Bilyet Giro sebagai warkat kliring, yaitu dapat diperhitungkan melalui kliring antar bank, sehingga mudah bagi pemegangnya untuk mencairkan dana.
1.      Mekanisme Pembukuan Bilyet Giro
Mekanisme giro dan bilyet giro kontek penerimaan giro akan dicatat setara dengan piutang dengan namagiro terima belum jatuh tempo.
Demikianlah Pengertian, Dasar Hukum dan Waktu Penawaran Bilyet Giro yang sempat kami berikan dan jangan lupa juga untukmenyimak materi  Pengertian, Jenis-jenis dan Dasar Hukum Cek

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pengertian, Dasar Hukum dan Waktu Penawaran Bilyet Giro

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...