Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Monday, August 28, 2017

Konsep Abc (Activity Based Costing)

Konsep Abc  (Activity Based Costing)Pengelompokkan aktifitas sejenis adalah proses pengumpulan aktifitas yang memiliki tingkat aktifitas dan klasifikasi penggerak aktifitas yang sama. 

Konsep Abc  (Activity Based Costing)
Konsep Abc  (Activity Based Costing)

Pengklasifikasan berdasarkan tingkat menempatkan aktifitas ke dalam satu dari empat kategori:

1.      Tingkat Unit (Unit level) merupakan aktivitas yang dilaksanakan setiap dihasilkannya sebuah produk. Contoh: jumlah pemakaian energi dan jam tenaga kerja, yaitu:
©     Jumlah pemakaian energi dan pemakaian jam tenaga kerja
©      Pemakaian bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung
Besarnya biaya aktivitas tergantung jumlah unit produk yang diproduksi

2.      Tingkat Batch (Bacth level) merupakan aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan setiap diproduksinya sekelompok (batch) produk. Besarnya biaya aktivitas ini tergantung jumlah batch namun jika dihubungkan dengan jumlah unit dalam setiap batch maka biaya ini bersifat tetap
Contoh: aktifitas  set-up, inspeksi, penjadwalan produksi dan penangan bahan baku

3.      Tingkat Produk (product level/sustaining) adalah aktivitas yang dilaksanakan untuk mendukung berbagai macam produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Pada aktivitas ini biaya cenderung naik jika jenis produksi yang dihasilkan bertambah

4.      Tingkat fasilitas (Facility  level) merupakan aktivitas yang mendukung proses manafaktur umum yang dilakukan oleh pabrik. Aktivitas ini  bermanfaat bagi organisasi secara umum namun tidak memberikan manfaat bagi setiap jenis produk secara langsung.

Pada aktifitas unit level, batch level, product level merupakan aktivitas yang berhubungan dengan produk karena aktivitas dapat dipecahkan berdasarkan rasio konsumsi. Aktivitas rasio konsumsi juga menggunakan cost driver yang sama untuk pengalokasian biaya à jadi seluruh aktivitas dalam setiap kelompok yang memiliki cost driver yang sama dikelompokkkan dalam sebuah kelompok.

Tujuan utama dilakukannya klasifikasi biaya adalah untuk membentuk homogeneous cost pool sehingga aktivitas dapat dibebankan kepada produkà jika telah terbentuk dapat dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh biaya untuk setiap aktivitas yang tergabung dalam bagian (pool) tersebut kemudian dibebankan kepada produk dengan menggunakan cost driver yang dipilih secara cermat.
   
Untuk aktifitas tingkat Fasilitas dan biaya merupakan aktivitas dan biaya yang dinikmati oleh seluruh produk yang dihasilkan à biaya ini diberlakukan sebagai biaya periodic dan merupakan biaya tetap yaitu biaya yang tidak disebabkan oleh berbagai macam cost driver seperti 3 kelompok aktivitas lainnya.
Perusahaan yang mengadopsi system ABC menggunakan penentuan harga pokok penuh (Full costing) dan alokasi biaya facility level pada tiap jenis produknya

Contoh soal:
PT Raja Mujair menggunakan system ABC untuk menentukan harga pokok Produknya. Perusahaan menghasilkan 2 jenis produk yaitu A dan B. Perusahaan tersebut membuat kedua produk tersebut dalam satuan kelompok (batch). Untuk meniadakan produk cacat dilakukan pengujian terhadap proses pembuatan produk tersebut. Aktivitas yang dilakukan dan biaya untuk melaksanakan aktivitas tersebut sebagai berikut :

No
Aktivitas
Biaya Aktivitas (dlm juta)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Penyusunan Program Pengujian
Pembuatan rangkaian kabel
Pengujian Produk
Penggabungan Batch
Desain Perekayasaan
Penanganan Bahan Baku
Penyisipan Chips
Pemasangan Kabel
Finishing
Rp. 3.000
Rp. 1.600
Rp. 2.750
Rp. 1.200
Rp. 1.300
Rp. 900
Rp. 2.250
Rp. 200
Rp. 300

Diminta : Klasifikasikan aktivitas dan biaya kedalam homogeneous pool

Jawab

Aktivitas
Cost Driver
Biaya Aktivitas

Kegiatan 1 à  Level (tingkat) Aktivitas Unit

Pengujian Produk
Penyisipan Chip
Jumlah Chip
Jumlah Chip
2.750.000.000
2.250.000.000

Kegiatan 2 à Level (tingkat) Aktivitas Bacth  

Penggabungan Batch
Jumlah Batch
1.200.000.000
Penanganan Bahan Baku
Jumlah Batch
900.000.000

Kegiatan 3 à Level (tingkat) Aktivitas Product

Penyususna Program Uji
Pembuatan Rangkaian kabel
Jumlah Produk
Jumlah Produk
3.000.000.000
1.600.000.000
Kegiatan 4
Perancangan Perekayasaan
Jumlah perubahan order
1.300.000.000

Kegiatan 5 à Level (tingkat) Aktivitas Facility

Penyelesaian /finishing
Pemasangan kabel
Jumlah biaya naker
Jumlah biaya naker
300.000.000
200.000.000


Setelah homogeneous cost pool dibentuk dilakukan perhitungan tarif dan pembebanan biaya OHP kepada masing-masing produk. Contoh untuk cost driver

Cost Driver
Produk A
Produk B
Jumlah
Jumlah Produksi
100.000
200.000
300.000
Jumlah komponen
600.000
1.400.000
2.000.000 (p1)
Jumlah produk
1
1
2
Jumlah Batch
200
200
400
Jumlah order
10
30
40
Biaya naker
Rp. 8.000
Rp. 12.000
Rp. 20.000 (dlm juta)

Dengan demikian Tarif Kegiatan  (Pool)

Pool  1 à  Unit Level

Pool  1
Tarif
5.000.0000.000/2.000.000
Rp. 2.500 per komponen
Pool 2 à Batch Level

Pool 2
Tarif
2.100.000.000/400
Rp. 5.250.000 per-batch
Pool 3 à Produc Level
Pool 3
Tarif
Rp. 4.600.000.000 / 2
Rp. 2.300.000.000

Pool 4
Tarif
Rp. 1.300.000.000/40
Rp. 32.500.000 per-order
Pool 4 à Facility level
Pool 5
Tarif
Rp. 500.000.000/20.000.000.000
Rp. 0,025 per rupiah biaya naker

Setelah menghitung tarif  tahap berikutnya adalah membebankan biaya overhead pada setiap jenis produk: perhitungan ini dilakukan dengan mudah yaitu perhitungan BOP per-unitnya

Uraian Aktivitas
Produk A
Produk B
Unit Level àBOP pool 1
(2500 x 600.000 (komponen))/100.000
(2500 x 1.400.000 (komponen))/200.000

Rp. 15.000


Rp. 17.500
Batch Level àBOP pool 2
(5.250.000x200 (batch))/100.000
(5.250.000x 200 (batch))/200.000

Rp.10.500


Rp.5.250
Produc Level àBOP pool 3
(2.300.000.000x1 (produc))/100.000
(2.300.000.000x1 (produc))/200.000

Rp. 23.000


Rp.115.000
Level àBOP pool 4
(32.500.000 x 10(order))/100.000
(32.500.000 x 30 (order))/200.000

Rp.  3.250


Rp.  4.875
Fasilitas Level àBOP pool 4
(0.025 x 8.000.000(order))/100.000
(0.025 x 12.000.000 (order))/200.000

Rp. 2.000


Rp. 1.500

Rp. 53.800
Rp. 40.650

Perbedaan Sistem
Konvensional
ABC
Permintaan/konsumsi BOP oleh setiap jenis produk hanya dijelaskan atas dasar based cost driver
Biaya variabel ditelusur secara tepat ke masing-masing produk

Pemilihan Cost Driver berdasarkan 2 faktor:
  1. Biaya pengukuran : dalam system ABC, perusahaan dapat menentukan dan memilih cost driver untuk menghitung tarif BOP dengan  informasi yang telah tersedia. Penggunaan homogeneus cost pool memberikan kemudahan memilih sebuah cost driver
  2. Derajad korelasi dan pengukuran tidak langsung: struktur informasi dapat dieksploitasi dengan cara yang lain untuk meminimumkan biaya perolehan cost driver contoh; Jam inspeksi dapat diganti dengan jumlah inspeksi sesungguhnya yang berhubungan dengan setiap jenis produk dan hal ini hanya dilakukan jika jam kerja yang digunakan per-inspeksi “sama” untuk setiap jenis produk.

Penentuan Harga Pokok Produk Dan Manajemen  Biaya Di Lingkungan Industri Maju

Perubahan lingkungan bisnis yang sangat kompleks diwarnai oleh karakteristik:
  1. Jenis Produk yang banyak (diversity)
  2. Produk yang dihasilkan bersifat trehnologi
  3. Persaingan yang ketat
Sehingga dibutuhkan kecermatan penentuan harga dengan ketelitian penentuan biaya produksi (costing)

Keterbatasan Penentuan Harga Pokok Konvensional
Akuntansi biaya saat ini mengunakan system konvensional yang dirancang berdasarkan kondisi perusahaan yang bersifat mekanis, untuk itu harus segera dirubah karena kondisi yang semakin kompleks, diantaranya:
  1. Tenaga kerja telah banyak diganti dengan mesin otomatis yang dikendalikan oleh komputer.
  2. Karyawan sangat terlatih untuk menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan tingkat kerusakan yang minimum, sehingga biaya kualitas dapat diminimalkan.
  3. Sebagian besar karyawan tidak lagi bekerja secara langsung di pabrik  dan lebih banyak terlibat kegiatan  lain yang mendukung  proses produksi, menangani kebutuhan manajemen akan informasi, merancang produk dan kegiatan yang berkaitan dengan pesaran produk.
  4. Minimisasi persediaan dengan menghilangkan persediaan produk dalam proses dan meminimumkan jumlah persedian bahan baku melalui Just In Time (JIT) system
  5. Biaya produksi tidak langsung jumlahnya menjadi berlipat dibandingkan jumlah biaya produksi tidak langsung pada masa sebelumnya
  6. Keputusan investasi modal (capital investment) lebih sulit dilakukan karena bentuk investasinya sebagian tidak lagi berupa investasi fisik, namun berupa investasi non fisik (intangible investment)

Mengapa harga Pokok konvensional menjadi tidak akurat?  Ketidak akuratannya terletak pada Biaya Overhead Pabrik (BOP).

Contoh
Untuk membuat produk X dan produk Y perusahaan mengeluarkan BOP Rp. 1.950.000.000,- BOP tersebut terdiri atas biaya bahan bakar minyak, biaya penyiapan mesin dan peralatan (set-up cost), biaya inspeksi (pemeriksaan), biaya energi dan biaya insentif tenaga kerja langsung. Secara Rinci informasi tentang biaya overhead sebagai berikut:
Jenis biaya tidak langsung
Penyebab terjadinya biaya cost driver
Tingkat konsumsi
Jumlah
Biaya
Produk X
Produk Y
Biaya BBM
Pemakaian BBM
10 Liter
20 liter
Rp. 600.000.000
Biaya setup
Kegiatan produksi
15 kali
25 kali
400.000.000
Biaya Inspeksi
Kegiatan inspeksi
20 kali
30 kali
500.000.000
Biaya energi
Pemakaian Mesin
25 JM
25 JM
250.000.000
Biaya TKL
Pemakaian TKL
10 JTKL
30 JTKL
200.000.000
TOTAL
1.950.000.000

Alokasi setiap produk sebagai berikut:
 10 liter + 20 liter = 30 liter
 Produk X  = 10/30 x Rp. 1.950.000.000 = Rp    650.000.000
 Produk Y  = 20/30 x Rp. 1.950.000.000 = Rp 1.300.000.000
Jika BOP dialokasikan kepada obyek biaya (produk) berdasarkan penyebab terjadinya setiap jenis biaya overhead pabrik, maka perbandingan alokasi untuk setiap jenis biaya tidak sama,.

Alokasi BOP kepada produk
Jumlah
Biaya
Perbandingan Tk. konsumsi
Alokasi ke
Produk X
Produk Y
Produk X
Produk Y
Rp. 600.000.000
1/3
2/3
200.000.000
400.000.000
400.000.000
3/8
5/8
150.000.000
250.000.000
500.000.000
2/5
3/5
200.000.000
300.000.000
250.000.000
½
½
125.000.000
125.000.000
200.000.000
1/4
3/4
50.000.000
150.000.000
1.950.000.000


725.000.000
1.225.000.000
  
Dari kedua model tersebut mana yang lebih akurat?
Untuk menjawabnya perlu dikaji biaya – biaya tersebut sebagai berikut:
©       Untuk biaya setup produk X mengkonsumsi kegiatan produksi sebayak 15 kali dan produk Y sebanyak 25 kali, jadi perbandingannya adalah 3 : 5 jadi jika produk X dibebani dengan biaya setup sebanyak 1/3 bagian dan Y sebanyak 2/3, apakah hal tersebut sudah tepat? Jawabannya  jelas kurang tepat dengan model 1 tersebut maka produk X akan dibebani dengan biaya yang kecil (sedikit) yaitu 1/3 x 400 juta = 133,33 juta padahal seharusnya 3/8 x 400 juta = 150 juta dan kebalikannya dengan produk Y
©       Untuk biaya inspeksi, biaya energi dan biaya insentif tenaga kerja langsung persoalannya sama yaitu alokasinya tidak tepat yaitu jika menggunakan perbandingan tk alokasi model 1
©       Impilkasi alokasi yang terlalu besar  dan kecil adalah merupakan indikasi ketidak akuratan perhitungan harga pokok yang dihasilkan  Jika info harga pokok tidak akurat, maka proses penentuan harga jual juga akan menghasilkan angka harga jual yang tidak akurat
©       Jika harga jual rendah dari harga normal maka perusahaan akan dirugikan karena marjin labanya kecil atau negatif.

Penentuan BOP pada Perusahaan Produk Tunggal

Akurasi pembebanan BOP hanya  menjadi persoalan jika perusahaan menghasilkan lebih dari satu produk. Prosesnya BOP per-unit dihitung dengan membagi seluruh biaya overhead dengan jumlah unit produk yang dihasilkan.

Proses perhitungan biaya produksi dapat dilihat pada tabal sebagai berikut:
Jenis Biaya
Biaya Produksi
Jumlah Produk
Biaya per-unit
Bahan baku
Rp. 3.000.000.000
100.000
Rp. 30.000
Tenaga Kerja
500.000.000
100.000
5.000
Overhead
1.500.000.000
100.000
15.000
total
5.000.000.000
100.000
50.000


Penentuan BOP pada Perusahaan Produk Beragam 

Pada perusahaan yang menghasilkan beragam produk maka proses alokasi dilakukan dengan terlebih dahulu menelusur cost drivers (yaitu faktor yang menyebabkan terjadinya biaya tersebut). Pada akuntansi konvensional Unit-based (volume related) cost drivers ini membebankan BOP kepada produk berdasarkan tarif pengguna fasilitas pabrik total (plant-wide) maupun tarif departemen

Contoh:
PT Hello memproduksi 2 jenis produk yaitu sepatu dan sandal dengan informasi sebagai berikut:
Aktivitas
Produk A
Produk B
Total
Unit yang di produksi
20.000
100.000

Biaya Utama
Rp. 50.000.000
Rp. 250.000.000
Rp. 300.000.000
JTKL
20.000
100.000
120.000
Jam Mesin
10.000
50.000
60.000
Jumlah kegiatan
20
30
50



Data per departemen
Total
Departemen 1
Departemen 2
Jam TK langsung
  • produk A
  • produk B
Total

4.000
76.000
80.000

16.000
24.000
40.000

20.000
100.000
120.000
Jam mesin
  • Produk A
  • Produk B
Total

4.000
16.000
20.000

6.000
34.000
40.000

10.000
50.000
60.000
BOP
·         Biaya Set up
·         Biaya Inspeksi
·         Biaya energi
·         Insentif TKL


Rp. 44.000.000
37.000.000
14.000.000
52.000.000
147.000.000

Rp. 44.000.000
37.000.000
70.000.000
26.000.000
177.000.000

Rp. 88.000.000
74.000.000
84.000.000
78.000.000
324.000.000

Biaya overhead ini dialokasikan ke departemen produksi dengan menggunakan metode langsung karena keempat ke 4 departemen jasa tidak salaing beinteraksi (biaya set up, biaya inspeksi, biaya energi dan insentif TKL) dengan ketentuan sebagai berikut:

1.      Biaya set up dialokasikan atas dasar jumlah aktivitas produksi dilaksanakan oleh setiap departemen produksià karena jumlah yang sama besar maka masing-masing departemen menerima alokasi yang sama sebesar 50% dari total biaya set up
2.      Biaya inspeksi dialokasikan ats dasar jumlah jam inspeksi yang digunakan oleh setiap departemen
3.      Biaya energi dialokasikan sesuai dengan jam mesin yang digunakan oleh setiap departemen
4.      Biaya insentif tenaga kerja dialokasikan sesuai denan proporsi jam tenaga kerja langsung yang digunakan oleh setiap departemen

Perhitungan tarif dan Pembebanan BOP Konvensional
(a)    Jika BOP menggunakan tarif BOP total maka dasar perhitungan tarif yang umum digunakan adalah Unit Based Cost driver. Dan dihitung sebagai berikut:

Tarif BOP = 324.000.000/60.000 = Rp. 5.400 per jam mesin
Atas dasar tarif tersebut maka harga pokok produk per – unit untuk masing-masing produk sebagai berikut:

      Produk A:
       Biaya Utama        =   (Rp.50.000.000/20.000)                           Rp.         2.500
       BOP                     =   (Rp. 5.400 x 10.000/20.000)                    Rp.        2.700
                                         Harga pokok per-unit                               Rp.        5.200

     Produk B:
       Biaya Utama        =   (Rp.250.000.000/20.000)                         Rp.      2.500
       BOP                     =   (Rp. 5.400 x 50.000/100.000)                  Rp.      2.700
                                         Harga pokok per-unit                               Rp.      5.200

(b)   Perusahaan dapat juga menggunakan tarif BOP per departemen. Karena perusahaan mengoperasikan 2 departemen produksi dua tarif dengan asumsi  departemen 1 di hitung atas dasar JTKL  dan tarif departemen 2 dihitung atas dasar jam mesin, sebagai berikut:

Tarif departemen 1            = Rp. 147.000.000/80.000  = Rp. 1.837,5 perjam TK
Tarif departemen 2            = Rp. 177.000.000/40.000 = Rp. 4.425 perjam mesin
Dengan tarif tersebut maka harga pokok per-unit masing-masing produk adalah sebagai berikut:

Produk A:
Biaya Utama =      (Rp. 50.000 / 20.000)                                      Rp. 2.500
BOP
* Departemen 1 = (Rp. 1.837,5 x 4.000)/20.000  =    367,5
* Departemen 2 =(Rp 4.425 x 6.000)/20.000       =  1.327,5
                                                                                                      Rp. 1.695
                              Harga Pokok Per Unit                                     Rp. 4.195

Produk B:
Biaya Utama =      (Rp. 250.000.000 / 100.000)                           Rp. 2.500
BOP
* Departemen 1 = (Rp. 1.837,5 x 76.000)/100.000          =  1.396,5
* Departemen 2 =(Rp 4.425 x 34.000)/100.000   =  1.504,5
                                                                                                      Rp. 2.901
                              Harga Pokok Per Unit                                     Rp. 5.401

Persoalan Akurasi

Jika perusahaan menggunakan tarif departemen maka alokasinya masih juga belum akurat, meskipun pembebanannya sudah mendekati tingkat kegiatan yang sesungguhnya.
Produk B mengkonsumsi jam tenaga kerja langsung sebanyak 19 kali (76.000/4.000) konsumsi oleh produk A dan mengkonsumsi jam mesin sebanyak 5,67 (34.000/6.000) konsumsi oleh produk A. Dengan demikian seharusnya produk B menerima alokasi biaya overhead dari departemen 1 sebanyak 19 kali alokasi ke produk A dan menerima alokasi biaya dari departemen 2 sebanyak 5,67 kali alokasi ke produk A dengan porsi alokasi sebesar itu maka harga pokok A per-unti turun menjadi Rp. 4.195 dan harga pokok B per-unit nail menjadi Rp. 5.401

Permasalahan Unit Based Cost Driver
1. Biaya overhead yang tidak terkait dengan unit produk à bila diamati  dari 4 biaya yang ada yaitu biaya set up, biaya inspeksi, biaya energi dan insentif TKL  maka 2 diantaranya yaitu set up dan inspeksi tidak berhubungan dengan jumlah unit produk yang di buat
2. Derajad keragaman Produk à disebabkan oleh perbedaan ukuran produk (product size), kompleksitas produk, jam setup  dan lain-lain.

Demikianlah materi seputar Konsep Abc  (Activity Based Costing) dan jangan lupa juga untuk menyimak materi tentang Konsep Just In Time (Jit).

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Konsep Abc (Activity Based Costing)

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...