Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Monday, August 28, 2017

Fungsi Bank Syariah

Fungsi Bank Syariah - Para ahli mengatakan bahwa fungsi perbankan adalah mediasi bidang keuangan atau penghubung pihak yang kelebihan dana (surplus fund) dengan pihak yang kekurangan dana (difisit fund), karena secara umum bank menghimpun dana dari masyarakah (keuangan) dan menyalurkan dana (keuangan) kepada yang membutuhkan.Itulah sebabnya sering dikatakan fungsi bank sebagai mediasi bidang keuangan. Disamping sebagai mediasi keuangan bank memiliki fungsi penyedia jasa layanan, seperti transfer, inkaso, kliring dan sebagainya.

Dalam Undang-undang nomor 21 tahun 2008 tentang  perbankan syariah, pasal 4 dijelaskan fungsi bank syariah sebagai berikut:
  1. Bank Syariah dan UUS wajib menjalankan   fungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat.
  2. Bank  Syariah  dan  UUS  dapat  menjalankan  fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya  dan  menyalurkannya  kepada organisasi pengelola zakat.
  3. Bank Syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang berasal  dari  wakaf  uang  dan  menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif).
  4. Pelaksanaan fungsi sosial sebagaimana dimaksud pada    ayat (2) dan ayat (3) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Jika memperhatikan ketentuan tersebut, bank syariah dalam melaksanakan kegiatan usaha komersialnya memiliki fungsi yang tidak berbeda dengan fungsi bank konvensional, yaitu bidang keuangan saja. Seharusnya bank syariah memiliki kegiatan usaha yang lebih luas dari bank konvensional, bank syariah yang tidak membedakan bergerak dibidang sektor keuangan atau sektor riil sebagaimana yang telah dibahas dimuka yaitu dapat melaksanakan kegiatan usaha leasing (ijarah), anjak piutang (hawalah / Hiwalah), consumer financing (murabahah), modal ventura (musyarakah), pegadaian (rahn) yang dibagian besar secara konsep berkaitan langsung dengan sektor riil maka bank syariah memiliki fungsi sebagai manajer investasi, investor, jasa layanan dan sosial. Untuk memberikan gambaran yang lengkap dan rinci mengenai fungsi-fungsi tersebut berikut dilakukan pembahasan satu persatu fungsi itu.

Fungsi Bank Syariah
Fungsi Bank Syariah
A. Fungsi Manager Investasi.
Salah satu fungsi bank syariah yang sangat penting Bank Syariah adalah manager Investasi. Bank syariah merupakan manager investasi dari pemilik dana (shahibul maal) dari dana yang dihimpun dengan prinsip mudharabah (dalam perbankan lazim disebut dengan deposan atau penabung), karena besar-kecilnya imbalan (bagi hasil) yang diterima oleh pemilik dana, sangat tergantung pada hasil usaha yang diperoleh   (dihasilkan)   oleh   bank   syariah   dalam   mengelola dana (khususnya dana mudharabah). Hal ini sangat dipengaruhi oleh keahlian, kehati-hatian, dan profesionalisme dari bank syariah sebagai manajer investasi (pihak yang mengelola dana).

Bank syariah dapat menghimpun dana yang besar, kemudian dalam penyaluran dana dilakukan tidak efektif, kurang memperhatikan prinsip-prinsip kehati-hatian, sembarangan sehingga banyak yang macet atau banyak yang diketagorikan bermasalah (non performing), banyaknya penyaluran dana yang tidak melakukan pembayaran angsuran, maka membawa dampak hasil usaha yang diikuti aliran kas masuk (cash basis) hanya kecil atau sedikit yang diterima. Dengan adanya hasil usaha yang cash basis kecil maka pendapatan yang akan dibagi antara bank syariah dan shahibul maal juga kecil, yang akhirnya membawa dampak kecilnya bagi hasil yang diterima oleh pemilik dana (shahibul maal). Begitu sebaliknya penyaluran dana yang tidak besar, namun dilakukan dengan efektif, efesien dan produktif, dan kualitas penyaluran dana yang baik sehingga banyak debitur yang melakukan pembayaran angsuran atau pembayaran bagi hasil yang diterima dari nasabah pengelola dana (mudharib) banyak, akan membawa dampak pada hasil usaha yang akan dibagi antara bank syariah sebagai pengelola dana dan pemilik dana juga besar, yang mengakibatkan pendapatan bagi hsail diterima pemilik dana besar juga.

Dana yang dihimpun oleh bank syariah, hendaknya ditanamkan pada sektor yang produktif dan tidak melanggar syariah, karena sesuai konsep syariah apa yang dilakukan oleh Bank Syariah dalam  penyaluran dana akan membawa dampak atau risiko kepada pemilik dana (shahibul maal) dari dana yang dihimpun (deposan atau penabung). Hal ini sangat berbeda dengan Bank Konvensional, begitu deposan memberikan dana kepada Bank Konvensional dan dijanjikan bunga tertentu, deposan tidak menananggung risiko. Bank bisa menyalurkan dana atau tidak, mendapatkan pendapatan besar  atau kecil bahkan tidak memperoleh pendapatan sama sekali, deposan sebagai pemodal akan menerima bunga tetap yang diperjanjikan, dengan kata lain pemodal dalam aliran kapitalis tidak bersedia untuk menanggung risiko.

Besarnya penyaluran dana atau investasi yang dilakukan oleh Bank Syariah bukanlah suatu indikasi imbalan atau bagi hasil yang diterima  oleh  pemilik  dana  (deposan  atau  penabung)  besar,  tetapi kualitas dari penyaluran dana atau investasi yang dilakukan oleh bank syariah itulah yang mempunyai pengaruh terhadap imbalan atau bagi hasil yang diterima oleh pemilik dana yang dihimpun. Besarnya porsi pembagian hasil usaha (nisbah) tidak menjamin besarnya bagi hasil yang akan diterima oleh pemilik dana, karena bagi hasil tersebut sangat dipengaruhi oleh hasil usaha yang akan dibagikan (pendapatan operasi utama), hasil usaha yang akan dibagikan sangat dipengaruhi oleh pendapatan penyaluran dana yang diterima secara tunai (cash basis) oleh bank syariah sebagai pengelola dana (mudharib), pendapatan penyaluran dana dipengaruhi oleh kualitas aktiva produktif (penyaluran dana), kualitas aktiva produktif dipengaruhi oleh proses dan prinsip- prinsip penyaluran dana. Secara umum dikatakan bahwa indikasi keberhatian bank syariah sebagai manajer investasi adalah adanya trend kenaikan return bagi hasil dari waktu ke waktu dan adanya trend penurunan pembiayan bermasalah (non Performing Financing) dari waktu ke waktu. Kedua hal ini pemodal berhak untuk memperoleh informasinya sebagai salah satu bentuk transparansi Bank Syariah.

B. Fungsi Investor.
Dalam penyaluran dana, baik dalam prinsip bagi hasil (mudharabah dan musyarakah), prinsip Ujroh( Ijarah) dan prinsip jual beli (murabahah, salam dan istishna), bank syariah berfungsi sebagai investor (sebagai pemilik dana). Oleh karena sebagai pemilik dana maka dalam menanamkan dana dilakukan dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan dan tidak melanggar syariah, ditanamkan pada sektor- sektor produktif dan mempunyai risiko yang sangat minim. Keahlian, profesionalisme sangat diperlukan dalam menangani penyaluran dana ini, penerimaan pendapatan dan kualitas aktiva produktif yang sangat baik menjadi tujuan yang penting dalam penyaluran dana, karena pendapatan yang diterima dalam penyaluran dana inilah yang akan dibagikan kepada pemilik dana (deposan atau penabung mudharabah). Jadi fungsi ini sangat terkait dengan fungsi bank syariah sebagai manajer investasi.

Bank-bank Syariah menginvestasikan dana yang disimpan pada bank tersebut (dana pemilik bank maupun dana rekening investasi) dengan menggunakan alat investasi yang sesuai dengan Syari’ah. Investasi yang sesuai dengan Syari’ah tersebut meliputi akad Murabahah, akad Ijarah, akad Musyarakah, akad Mudharabah, akad Salam atau Istisna’, pembentukan perusahaan atau akuisisi pengendalian atau kepentingan lain dalam rangka mendirikan perusahaan, memperdagangkan produk. Hasil usaha yang diperoleh dibagikan kepada pihak yang memberikan kontribusi dana (shahibul maal), dan bank syariah menerima bagian keuntungan sebagai Mudharib sesuai yang disepakati antara pemilik dana dan bank sebagai pengelola, sebelum pelaksanaan akad.

Fungsi investor ini dapat dilihat dalam hal penyaluran dana yang dilakukan oleh bank syariah, baik yang dilakukan dengan mempergunakan prinsip jual beli maupun dengan menggunakan prinsip bagi hasil sendiri. Karena Bank Syariah melaksanakan fungsi sebagai investor maka Bank Syariah penyedia dana bersedia untuk menanggung risiko dari investasinya. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada saat Bank Syariah melakukan pengelolaan dana dengan prinsip bagi hasil, pendapatan dari hasil usaha sangat tergantung pada hasil usaha yang diperoleh nasabah sebagai pengelola dana. Untuk memberikan gambaran berikut diberikan ilustrasi.

Bank Syariah melakukan pembiayaan (investasi) mudharabah kepada Debitur sebesar Rp. 250 milyard. Nisbah (pembagian hasil usaha) untuk Bank Syariah 60 dan untuk debitur 40. Berdasarkan Nisbah Bank Syariah, proyeksi keuntungan (ekspektasi keuntungan) yang diharapkan sebesar Rp. 50 juta per bulan. Dengan berjalannya pelaksanaan akad mudharabah, ternyata dalam bulan yang bersangkutan debitur hanya memperoleh hasil usaha sebesar Rp. 75 juta, sehingga hasil usaha untuk bank syariah sebesar 60% x Rp. 75 juta = Rp. 45 juta. Sesuai ketentuan yang ada Bank Syariah hanya diperkenankan untuk mengakuan pendapatan bagi hasil sebesar Rp. 45 juta. Sisanya sebesar Rp. 5 juta tidak diperkenankan untuk ditagih.

Hal ini sangat berbeda dengan bank konvensional dimana sisa bunga yang belum dibayar merupakan hutang bunga. Misalnya bank memberikan modal sebesar Rp. 250 milyard, bunga yang harus dibayar sebesar Rp. 50 juta per bulan. Pada bulan yang bersangkutan nasabah hanya mampu membayar Rp. 45 juta maka sisanya sebesar Rp.5 juta, diakui sebagai piutang bungan (hutang bunga bagi nasabah).

Contoh lain dalam transaksi Murabahah yang perbayaran dilakukan dengan tangguh dan atas hutangnya tersebut nasabah tidak mampu untuk membayar sesuai waktunya, kemudian dilakukan penangguhan pembayaran (re-schedule) tidak diperkenankan untuk menambah kewajiban yang ditangguhkan jangka waktunya.

C. Fungsi Jasa perbankan
Dalam menjalankan fungsi ini, bank syariah tidak jauh berbeda dengan bank non syariah, seperti misalnya memberikan layanan kliring, transfer, inkaso, pembayaran gaji dan sebagainya, hanya saja yang sangat diperhatikan adalah adalah prinsip-prinsip syariah yang tidak boleh dilanggar. Bank syariah memberikan jasa transfer, inkaso, kliring dengan prinsip wakalah; menyediakan tempat  untuk menyimpan barang dan surat-surat berharga berdasarkan prinsip wadi’ah yad amanah; memberikan layanan letter of credit (L/C) dengan prinsip wakalah, memberikan layanan bank garansi dengan prinsip kafalah; melakukan kegiatan wali amanat dengan prinsip wakalah, memberikan layanan penukaran uang asing dengan prinsip sharf dan sebagainya. Bank-bank syariah juga menawarkan berbagai jasa-jasa keuangan lainnya untuk memperoleh imbalan atas dasar agency contract atau sewa dan pendapatan yang diperolah atas jasa keuangan tersebut merupakan pendapatan operasi lainnya dan tidak termasuk dalam perhitungan pembagian hasil usaha.

Pada awal berkembangan bank syariah, bank masyarakat yang beranggapan bahwa bank syariah hanya bank sosial, bank yang melayani kegiatan sosial saja, tidak ada kliring, tidak ada transfer tidak mengeluarkan cek atau bilyet giro dan sebagainya, namun dengan pemahaman dan penjelasan tentang bank syariah anggapan tersebut sudah tidak ada lagi.

D. Fungsi sosial
Dalam konsep perbankan syariah mengharuskan bank-bank syariah memberikan pelayanan sosial apakah melalui dana Qard (pinjaman kebajikan) atau Zakat dan dana sumbangan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Disamping itu, konsep perbankan Islam juga mengharuskan bank-bank syariah untuk memainkan peran penting di dalam  pengembangan  sumber  daya  manusianya  dan    memberikan

kontribusi bagi perlindungan dan pengembangan lingkungan. Fungsi ini juga yang membedakan fungsi bank syariah dengan bank konvensional, walaupun hal ini ada dalam bank konvensional biasanya dilakukan oleh individu-individu yang mempunyai perhatian dengan hal sosial tersebut, tetapi dalam bank syariah fungsi sosial merupakan salah satu fungsi yang tidak dapat dipisahkan dengan fungsi-fungsi yang lain. Bank syariah harus memegang amanah dalam menerima ZIS atau dana kebajikan lainnya dan menyalurkan kepada pihak-pihak yang berhak untuk menerimanya dan atas semua itu haruslah dibuatkan laporan sebagai pertanggungan jawab dalam pemegang amanah tersebut.

Dalam Undang-undang nomor 21 Tahun 2008, pasal 4 menjelaskan fungsi Bank Syariah sebagai berikut:
  • Bank Syariah dan UUS wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat.
  • Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat.
  • Bank Syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif).
  • Pelaksanaan  fungsi  sosial  sebagaimana  dimaksud pada ayat dan ayat (3) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


Jika diperhatikan ketentuan dalam ayat 1, bahwa fungsi bank syariah tidak beda dengan fungsi bank konvensional yang dapat diartikan Bank Syariah hanya bergerak dalam bidang keuangan. Sudah barang tentu, seperti yang telah diuraikan terdahulu Bank Syariah  dalam menjalankan kegiatan usaha tidak membedakan bergerak pada sektor keuangan atau sektor riil. Dengan adanya perbedaan ini sebagai pelaksanaan harus dapat menyikapi dengan sangat bijaksana dalam pelaksanaannya. Perlu diingat bahwa untuk menuju kemurnian syariah sangat dipengaruhi ketiga faktor sebagaimana telah diuraikan dalam bab awal tulisan ini.

Demikianlah materi tentang Fungsi Bank Syariah yang sempat kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Bidang Kegiatan Usaha Bank Syariah yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Fungsi Bank Syariah

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...