Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Thursday, February 2, 2017

Tanggung Jawab Audit dan Tujuan Audit



Tanggung Jawab Audit dan Tujuan Audit- Audit atau pemeriksaan dalam arti luas bermakna evaluasi terhadap suatu organisasi, sistem, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, objektif, dan tidak memihak, yang disebut auditor. Tujuannya adalah untuk melakukan verifikasi bahwa subjek dari audit telah diselesaikan atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan diterima.
Tanggung Jawab Audit dan Tujuan
Tanggung Jawab Audit dan Tujuan

 1.    Tujuan pelaksanaan audit atas laporan keuangan
  Tujuan pengauditan umum atas laporan keuangan oleh auditor independen merupakan pemberian opini atas kewajaran dimana laporan tersebut telah disajikan secara wajar, dalam segala hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas, sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Langkah-langkah mengembangkan tujuan audit antara lain :
1.    Memahami tujuan dan tanggungjawab audit
2.    Membagi laporan keuangan kedalam siklus-siklus
3.    Mengetahui asersi manajemen atas laporan keuangan
4.    Mengetahui tujuan umum audit untuk kelompok transaksi, akun dan pengungkapan
5.    Mengetahui tujuan khusus audit untuk kelompok  transaksi, akun dan pengungkapan

2.    Tanggungjawab manajemen dalam penyajian laporan keuangan
Auditor memiliki tanggungjawab untuk merencanakan dan menjalankan audit untuk memperoleh keyakinan yang memadai mengenai apakah laporan keuangan telah bebas dari salah saji material, yang disebabkan oleh kesalahan ataupun kecurangan. Karena sifat dari bahan bukti audit dan karakteristik kecurangan, auditor harus mampu mendapatkan keyakinan yang memadai, namun bukan absolut, bahwa salah saji material telah dideteksi.

Auditor tidak memiliki tanggungjawab untuk merencanakan dan menjalankan audit untuk mendapatkan keyakinan yang memadai bahwa kesalahan penyajian yang disebabkan oleh kesalahan maupun kecurangan, yang tidak signifikan terhadap laporan keuangan telah terdeteksi. Mengenai tanggungjawab audit untuk mendeteksi salah saji yang material memasukkan beberapa istilah dan kalimat penting :
1)    Salah saji material vs tidak material :
salah saji yang dianggap material jika gabungan dari kesalahan yang belum dikoreksi dan kecurangan dalam laporan keuangan yang mengubah/mengurangi keputusan pengguna laporan keuangan tersebut.

2)    Keyakinan memadai
standar audit mengindikasikan keyakinan memadai sebagai tingkat yang tinggi, namun tidak absolut, bahwa laporan keuangan telah bebas dari salah saji material. Konsep “memadai, namun bukan absolut” menandakan bahwa auditor bukanlah penjamin kebenaran atas laporan keuangan.

3)    Kesalahan vs kecurangan
kesalahan adalah salah saji yang tidak disengaja sedangkan kecurangan adalah salah saji yang disengaja. Untuk kecurangan, terdapat perbedaan antara penyalahgunaan aset (kecurangan karyawan) dan kecurangan dalam pelaporan (kecurangan manajemen).

4)    Skeptisme profesional
mengharuskan pengauditan didesain untuk menghasilkan keyakinan yang memadai agar dapat mendeteksi dengan baik kesalahan material maupun kecurangan dalam laporan keuangan.

3.    Tanggungjawab auditor
  Auditor menekan beragam kesalahan yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan dalam perhitungan, kealphaan, kesalah pahaman, dan kesalahan penerapan standar akuntansi, serta kesalahan dalam pengelompokan dan penjelasan.

Kecurangan dalam pelaporan keuangan membahayakan para pengguna dengan cara memberikan informasi laporan keuangan yang salah untuk membuat keputusan. Secara khas, kesalahan dalam laporan keuangan dilakukan oleh manajemen, terkadang tanpa pengetahuan karyawan. Manajemen berada dalam posisi yang mampu menentukan keputusan-keputusan yang terkait dengan akuntansi dan pelaporanya tanpa sepengetahuan karyawan.

Tindakan ilegal : tindakan yang melanggar hukum atau paraturan pemerintah selain kecurangan. Berikut beberapa tindakan ilegal :
1)    Tindakan ilegal yang berdampak langsung
pelanggaran atas UU dan peraturan tertentu memiliki dampak langsung terhadap saldo akun tertentu dan laporan keuangan. Tanggungjawab auditor atas tindakan ini sama dengan tanggungjawab auditor atas kekeliruan dan kecurangan.

2)    Tidakan ilegal yang berdampak tidak langsung
sebagian besar tindakan ilegal hanya mempengaruhi laporan keuangan secara tidak langsung. Auditor tidak memberikan kepastian bahwa tindakan ini akan terdeteksi.

Auditor memiliki 3 tingkat tanggungjawab untuk menemukan dan melaporankan tindakan ilegal, yaitu :
1)    Auditor pertama kali harus menanyakan pada manajemen yang tingkatnya lebih tinggi dari pihak yang dicurigai terlibat dalam tindakan ilegal yang potensial.
2)    Auditor harus berkonsultasi dengan penasihat hukum klien/ahli lainnya yang memiliki pengetahuan mengenai potensi tindakan ilegal.
3)    Auditor harus mempertimbangkan untuk menambah akumulasi bahan bukti audit untuk menetukan apakah benar-benar terjadi tindakan ilegal.

4.    Pendekatan siklus laporan keuangan untuk segmentasi audit
  Pengauditan dilakukan dengan membagi laporan keuangan ke dalam kelompok atau komponen yang lebih kecil. Sebuah cara yag umum untuk mengelompokkan audit adalah dengan tetap menjaga jenis atau kelompok transaksi dan saldo akun yang terkait erat ke dalam satu kelompok yang sama. Pendekatan ini disebut pendekatan siklus.

Logika penggunaan pendekatan siklus ini adalah bahwa pendekatan ini menghubungkan bagaimana transaksi-transaksi dicatat dalam jurnal dan diikhtisarkan dalam buku besar dan laporan keuangan. Pendekatan siklus menggabungkan transaksi dalam jurnal yang berbeda dengan  saldo yang tercatat dibuku besar yang timbul karena transaksi tersebut.

5.    Kategori asersi manajemen tentang laporan keuangan
  Asersi manajemen adalah pernyataan tersirat atau tertulis oleh manajemen mengenai kelompok-kelompok transaksi dan akun-akun terkait serta pengungkapan dalam laporan keuangan.

PSA 07 (SA 326) mengelompokkan asersi ke dalam 3 kategori, yaitu :
1)    Asersi mengenai kelompok transaksi dan kejadian selama periode yang diaudit :
a.    Keterjadain
apakah transaksi yang telah tercatat dan telah dilaporkan dalam laporan keuangan benar-benar terjadi selama periode pembukuan.

b.    Kelengkapan
apakah semua transaksi yang seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan sudah dicatat dengan lengkap.

c.    Akurasi
apakah transaksi telah dicatat dengan jumlah yang benar.

d.    Klasifikasi
apakah transaksi telah dicatat dengan nama akun yang benar.

e.    Pisah batas
apakah transaksi telah dicatat pada periode pembukuan yang tepat.
2)    Asersi mengenai saldo akun di akhir periode pembukuan :
a.    Keberadaan
 apakah aset, liabilitas, dan ekuitas yang dimasukkan dalam neraca memang benar-benar ada ditanggal neraca tersebut.

b.    Kelengkapan
apakah semua akun yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan benar-benar dimasukkan dalam laporan keuangan.

c.    Penilaian dan alokasi
apakah aset, liabilitas, dan ekuitas telah dimasukkan dalam laporan keuangan dengan jumlah yang tepat, termasuk setiap penyesuaian yang menggambarkan nilai aset pada nilai realisasi bersihnya.

d.    Hak dan kewajiban
apakah aset merupakan hak entitas tersebut dan apakah liabilitas merupakan kewajiban dari entitas tersebut pada suatu tanggal tertentu.


3)    Asersi mengenai penyajian dan pengungkapan :
a.    Keterjadian dan hak atas kewajiban
apakah kejadian yang diungkapkan telah benar terjadi serta merupakan hak dan kewajiban dari entitas tersebut.

b.    Kelengkapan
apakah semua pengungkapan  yang diharuskan telah dimasukkan dalam laporan keuangan.
c.    Akurasi dan penilaian
apakah informasi keuangan telah  diungkapkan dengan wajar dan dengan jumlah yang tepat.
d.    Klasifikasi dan pemahaman
apakah jumlah-jumlah telah diklasifikasikan dengan tepat dalam laporan keuangan dan catatan kaki, serta apakah penjelasan saldo dan pengungkapan terkait dapat dipahami.

6.    Tujuan umum dan khusus audit asersi  manajemen
Auditor telah menemukan bahwa pada umumnya, cara yang paling efektif dan efisien untuk melakukan pengauditan adalah dengan mendapatkan beberapa kombinasi keyakinan untuk setiap kelompok transaksi dan untuk saldo akhir akun-akun terkait. Untuk setiap traksaksi yang telah ditentukan, beberapa tujuan audit harus terpenuhi sebelum auditor menyimpulkan bahwa transaksi tersebut telah dicatat dengan tepat.
1)    Tujuan audit terkait transaksi : mengikuti dan terkait erat dengan asersi manajemen.

Tujuan umum audit terkait transaksi :
a. keterjadian :  transaksi yang dicatat benar-benar ada
b. kelengkapan : transaksi yang ada telah dicatat
c. akurasi : transaksi yang disajikan dalam jumlah yang benar
d. pemindah bukuan dan pengikhtisaran : transaksi yang dicatat telah dimasukkan dalam arsip utama dengan tepat dan telah diikhtisarkan dengan benar
e. klasifikasi : transaksi yg dimasukkan dalam jurnal klien diklasifikasi dengan tepat
f.  penetapan waktu : transaksi dicatat pada tanggal yang benar

Tujuan khusus audi terkait transaksi : tujuan khusus audit terkait transaksi untuk setiap kelompok transaksi yang penting dapat dikembangkan.

2)    Tujuan audit terkait saldo kategori :
Tujuan umum audit terkait transaksi :
a.    Keberadaan : jumlah yang dicatat memang benar-benar ada
b.    Kelengkapan : jumlah yang  ada telah  dicatat
c.    Akurasi : jumlah yang dimasukkan dinyatakan dalam jumlah yang benar
d.    Klasifikasi : jumlah yang dimasukkan pada daftar milik klien telah diklasifikasi dengan benar
e.    Pisah batas : transaksi mendekati tanggal neraca dicatat dalam periode yang benar
f.     Keterikatan perincian saldo akun sesuai dengan jumlah di arsip utama yang terkait, sesuai dengan jumlah total saldo akun dan sesuai dg jumlah total di BB

Tujuan khusus audi terkait transaksi : tujuan khusus audit terkait saldo dari setiap saldo akun pada laporan keuangan dapat dikembangkan.

3)    Tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan : sama dengan asersi manajemen untuk penyajian dan pengungkapan yang telah dibahas sebelumnya. Konsep yang sama yang diterapkan untuk tujuan audit terkait saldo juga diterapkan untuk tujuan audit penyajian dan pengungkapan.

7.    Bagaimana tujuan audit dicapai
Auditor harus mendapatkan bukti audit yang memadai untuk mendukung semua asersi manajemen dalam laporan keuangan. Hal ini dilakukan dengan mengakumulasi bukti-bukti untuk mendukung kombinasi yang tepat dari tujuan audit terkait transaksi dan tujuan audit terkait saldo.

Penyajian dan tujuan audit terkait pengungkapan terkait erat dengan tujuan audit terkait saldo.
1)    Merencanakan dan merancang sebuah pendekatan audit (fase 1)
a.    Mendapatkan pemahaman atas entitas klien dan lingkungannya
b.    Mamahami pengendalian internal dan menilai risiko pengendalian
c.    Menilai risiko salah saji material

2)    Melaksanakan pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi (fase 2)
3)    Melakukan prosedur analitis dan pengujian atas rincian saldo (fase 3)
4)    Menyelesaikan audit dan menerbitkan laporan audit (fase 4)

Demikian ulasan yang dapat kami sampaikan moga bermanfaat. Aminn
Mata Dunia 




Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Tanggung Jawab Audit dan Tujuan Audit

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...