Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Saturday, February 4, 2017

Pengertian, karasteristik, Penggolongan,Metode Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik



Pengertian, karasteristik, Penggolongan,Metode Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik- Biaya overhead pabrik (BOP) adalah biaya produksi selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik didefinisikan sebagai bahan tidak langsung, buruh tidak langsung, dan biaya-biaya lainnya yang tidak secara mudah diidentifikasikan atau dibebankan langsung pada suatu pekerjaan, hasil produksi, atau tujuan akhir biaya tertentu seperti kontrak-kontrak pemerintah.








Pengertian, karasteristik, Penggolongan, Metode Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik
Pengertian, karasteristik, Penggolongan, Metode Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik
Overhead pabrik memiliki dua karakteristik yang harus dipertimbangkan dalam pembebanannya sebagai hasil produksi secara layak. Karakteristik ini menyangkut hubungan khusus antara overhead pabrik dengan (Carter dan Usry, 2006: 411): 

1) Produk itu sendiri
Karakteristik pertama dalam hubungannya dengan produk itu sendiri.Berbeda dengan bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik merupakan bagian yang tidak berwujud dari barang jadi.

Tidak ada surat permintaan bahan ataupun kartu jam tenaga kerja yang dipergunakan untuk menyatakan jumlah biaya overhead pabrik seperti pada perlengkapan pabrik atau tenaga kerja tidak langsung yang diperhitungkan dalam suatu pekerjaan atau produk.

2) Jumlah volume produksi
Karakteristik kedua menyangkut perubahan sebagian unsur biaya overhead karena adanya perubahan volume produksi yaitu overhead bisa bersifat tetap, variabel atau semivariabel. Biaya overhead tetap secara relatif tetap konstan, biarpun ada perubahan dalam volume produksi, sedangkan overhead tetap per unit output akan bervariasi berlawanan dengan volume produksi.

Overhead variabel variasi secara sebanding dengan output produksi. Overhead semivariabel bervariasi, tetapi tidak sebanding dengan unit yang diproduksi.Apabila volume produksi berubah, efek gabungan dari berbagai pola overhead yang berbeda ini dapat mengakibatkan biaya pabrikase per unit berfluktuasi besar.

2.    Penggolongan Biaya Overhead Pabrik
Penggolongan biaya overhead pabrik dapat digolongkan dengan tiga cara, yaitu (Mulyadi, 1990: 55-57): 


1.    Penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya


Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik dikelompokkan menjadi beberapa golongan berikut ini: 

a) Biaya Bahan Penolong. 
Bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produk tersebut. Dalam perusahaan percetakan misalnya, yang termasuk dalam
bahan penolong antara lain adalah: bahan perekat, tinta koreksi dan pita mesin ketik.

b) Biaya Reparasi dan Pemeliharaan.
Biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan habis pakai (factory supplies) dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan atau pemeliharaan emplasemen, perumahan, bangunan pabrik, mesin-mesin dan ekuipmen, kendaraan, perkakas laboratorium  dan aktiva tetap lain yang digunakan untuk keperluan pabrik.

c) Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung. 
Tenaga kerja tak langsung adalah tenaga kerja pabrik yang upahnya tidak dapat diperhitungkan secara langsung kepada produk atau pesanan tertentu.Biaya ini terdiri dari upah, tunjangan dan biaya kesejahteraan yang dikeluarkan untuk tenaga kerja tak langsung tersebut. Tenaga kerja tidak langsung terdiri dari:
a.    Karyawan yang bekerja dalam departemen pembantu, seperti departemen-departemen pembangkit tenaga listrik, uap, bengkel dan departemen gudang.
b.    Karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi, seperti kepala departemen produksi, karyawan administrasi pabrik dan mandor.

d) Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap. 
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik, bangunan pabrik, mesin dan ekuipmen, perkakas laboratorium, alat kerja dan aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik.

e) Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu. 
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya asuransi gedung dan emplasemen, asuransi mesin dan ekuipmen, asuransi kendaraan, asuransi kecelakaan karyawan, dan biaya amortisasi kerugian trial-run.

f) Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai.
Biaya overhead yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan, biaya listrik PLN dan sebagainya.




2. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume produksi




Ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi tiga golongan:


a.    Biaya Overhead Pabrik Tetap, adalah biaya overhead pabrik yang tidak berubah dalam kisar perubahan volume kegiatan tertentu.
b.    Biaya Overhead Pabrik Variabel, adalah biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
c.    Biaya Overhead Pabrik Semivariabel, adalah biaya overhead pabrik yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. 

Untuk keperluan penentuan tarif biaya overhead pabrik dan untuk pengendalian biaya, biaya overhead pabrik yang bersifat semivariabel dipecah menjadi dua unsur: biaya tetap dan biaya variabel.



3.    Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan departemen 


Jika disamping memiliki departemen produksi, perusahaan juga memiliki departemen pembantu (seperti misalnya departemen pembangkit tenaga listrik, departemen bengkel dan departemen air). Ditinjau dari hubungannya dengan departemen-departemen yang ada dalam pabrik, biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi dua kelompok:

a)    Biaya overhead pabrik langsung departemen (direct departemental overhead expenses), adalah biaya overhead pabrik yang terjadi dalam departemen tertentu dan manfaatnya hanya dinikmati oleh departemen tersebut.

b)    Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen (indirect departemental overhead expenses), adalah biaya overhead pabrik yang manfaatnya dinikmati oleh lebih satu departemen. 

3.    Metode Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik
Dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik, perusahaan perlu memperhatikan jumlah tarif biaya overhead pabrik yang akan digunakan. Ada tiga alternatif yang dapat digunakan yaitu: 
1. Plantwide Rate / Tarif Tunggal
Perusahaan hanya menggunakan tarif biaya overhead pabrik untuk pembebanan biaya overhead pabrik ke pesanan maupun produknya dari awal proses sampai akhir.

2. Departemental Rate / Tarif Departementalisasi
Perusahaan menetapkan tarif biaya overhead pabrik untuk setiap tahapan atau departemen produksi yang ada di perusahaan.Jumlah tarif biaya overhead pabrik tergantung dari tahapan atau departemen produksi yang ada.

3. Activity Rate / Tarif  Setiap Aktivitas
Perusahaan menetapkan tarif biaya overhead pabrik untuk setiap aktivitas yang terjadi dalam pembuatan produknya.Cara ini dikenal dengan Activity Based Costing (ABC).

4.    Biaya Overhead Pabrik – Departementalisasi
Dalam perusahaan yang relatif besar di mana pengolahan produk melalui beberapa tahapan dan pengendalian biaya perlu dihubungkan dengan bagian atau departemen di dalam pabrik, pada perusahaan tersebut perlu diadakan departementalisasi khususnya untuk elemen biaya overhead pabrik.

Departementalisasi biaya overhead pabrik semakin penting pada pabrik yang mengolah produk atau pesanan yang tidak selalu melalui proses yang sama atau produk yang dihasilkan perusahaan memungkinkan untuk dijual sebelum diolah melalui semua tahapan pengolahan, misalnya pada pabrik tekstil yang dapat untuk menjual benang dan mori belum disempurnakan (mori gray) yang dihasilkan.

Departementalisasi biaya overhead pabrik adalah pembagian pabrik ke dalam bagian-bagian yang disebut departemen atau pusat biaya (cost center) ke dalam mana biaya overhead pabrik akan dibebankan. Untuk tujuan pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk, tarif biaya overhead pabrik akan dihitung untuk setiap departemen produksi, sehingga produk atau pesanan akan dibebani dengan biaya overhead pabrik sesuai dengan departemen produksi yang dilaluinya, dan selisih biaya overhead pabrik akan dianalisa untuk setiap  departemen produksi.

5.    Tujuan Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik
Tujuan utama departementalisasi biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut:
1.    Untuk pembebanan dengan biaya overhead pabrik dengan adil dan teliti.

Hal ini dimungkinkan karena produk atau pesanan akan dibebani biaya overhead pabrik sesuai dengan departemen produksi yang dilalui yaitu sebesar tarif biaya overhead pabrik departemen yang dilalui dikalikan kapasitas pembebanan yang diserap oleh suatu produk pada departemen produksi yang bersangkutan.

 Misalnya pada pabrik tekstil, benang yang langsung dijual hanya dibebani biaya overhead pabrik departemen pintal, departemen tenun, maupun departemen penyempurnaan sesuai dengan tarif dan kapasitas pembebanan yang diserap pada masing-masing departemen produksi.

2.    Untuk pengendalian biaya overhead pabrik yang lebih baik.
Hal inidimungkinkan karena dalam departementalisasi diharapkan dapat dipakai dasar untuk meletakkan tanggung jawab atas terjadinya biaya pada departemen tertentu, selisih biaya overhead pabrik yang terjadi akan dianalisa pula untuk departemen produksi tertentu.

3.    Untuk pembuatan keputusan oleh manajemen

Agar supaya ketiga tujuan tersebut di atas dapat dicapai, dalam departementalisasi diperlukan syarat atau kondisi-kondisi sebagai berikut:
1) Ketepatan dalam menentukan jumlah departemen produksi maupun pembantu.Departemen yang dibentuk terlalu sedikit dapat mengakibatkan pembebanan yang kurang adil dan teliti, dari segi pengendalian menjadi kurang teliti pula. Departemen yang terlalu banyak akan menaikkan jumlah biaya dan waktu yang dikorbankan yang mungkin tidak sesuai dengan manfaatnya.
2)    Pembagian departemen hendaknya selaras dengan pembagian struktur organisasi di dalam pabrik.
3)    Dapat dipilih dasar distribusi, alokasi, maupun pembebanan yang tepat.
4)    Penentuan dasar kapasitas dan besarnya kapasitas dengan tepat dan sesuai pula dengan variabilitas biaya overhead pabrik. 

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan di dalam menentukan atau memilih departemen-departemen di dalam pabrik adalah sebagai berikut:
1)    Pembagian tanggung jawab atas pengolahan produk dan jasa yang dihasilkan di dalam pabrik, serta atas biaya yang terjadi.
2)    Sifat operasional dari setiap tahapan pengolahan produk dihubungkan dengan gerakan-gerakan yang dilalui produk di dalam pabrik.
3)    Lokasi dari operasi, proses pengolahan dan mesin.
4)    Jumlah departemen atau pusat biaya yang tepat.
5)    Penyesuaian mesin, proses atau operasi di dalam setiap departemen atau pusat biaya.

6.    Langkah-langkah Penentuan dan Penggunaan Departementalisasi Tarif Biaya OverheadPabrik 
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penentuan dan penggunaan departementalisasi tarif biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut:
1)    Penentuan besarnya tarif biaya overhead pabrik untuk setiap departemen produksi.
2)    Pembebanan biaya overhead pabrik pada produk atau pesanan pada setiap departemen produksi.
3)    Pengumpulan biaya overhead pabrik sesungguhnya.
4)    Perhitungan, analisa dan perilaku selisih biaya overhead pabrik untuk setiap departemen produksi.  

Berikut dibahas langkah-langkah tersebut di atas lebih mendalam (berhubungan dengan analisa data maka langkah yang akan dibahas adalah langkah 1 dan langkah 2 saja).  

Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik untuk Setiap Departemen  Produksi  Dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik untuk setiap departemen produksi tahap-tahap yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1)    Menyusun budget atau anggaran setiap elemen biaya overhead pabrik yang dikelompokkan ke dalam biaya tetap dan biaya variabel.
2)    Mengadakan penelitian pabrik (factory survey) pada awal periode yang akan digunakan untuk distribusi dan alokasi biaya overhead pabrik, serta perhitungan tarif biaya overhead pabrik.
3)    Distribusi setiap elemen biaya overhead pabrik tidak langsung yang dibudgetkan kepada setiap departemen di dalam pabrik, baik departemen produksi maupun departemen pembantu.  
4)    Alokasi biaya overhead pabrik yang dibudgetkan dari departemen pembantu tertentu ke departemen produksi dan departemen pembantu lainnya.
5)    Perhitungan tarif biaya overhead pabrik untuk setiap departemen produksi. 



Demikian ulasan yang dapat kami sampaikan semoga dapat bermanfaat. Amin………

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pengertian, karasteristik, Penggolongan,Metode Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...