Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Wednesday, January 25, 2017

Prinsip Akuntansi Berterima Umum Dalam Penyajian Kas Di Neraca dan Tujuan Pengujian Substantif Kas



Prinsip Akuntansi Berterima Umum Dalam Penyajian Kas Di Neraca dan Tujuan Pengujian Substantif Kas - Kas merupakan suatu alat pertukaran dan juga digunakan sebagai ukuran dalam akuntansi. Dalam neraca, kas merupakan aktiva yang paling lancar, dalam arti paling sering berubah. Hampir pada setiap transaksi dengan pihak luar selalu mempengaruhi kas.
Prinsip Akuntansi Berterima Umum Dalam Penyajian Kas Di Neraca dan Tujuan Pengujian Substantif Kas
Prinsip Akuntansi Berterima Umum Dalam Penyajian Kas Di Neraca
Kas yang dicantumkan di neraca terdiri dari 2 unsur, yaitu:
1.    Kas di tangan perusahaan, yang terdiri dari:
a)    Penerimaan  kas yang belum disetor ke bank, yang berupa uang tunai, pos wesel, certified  check, cashier check, cek pribadi, dan bank draft.
b)    Saldo dana kas kecil, yang berupa uang tunai yang ada di tangan pemegang dana kas             kecil.

2.    Kas di bank, yang berupa simpanan di bank berbentuk rekening giro.
Dalam pemeriksaan terhadap kas, auditor memperhatikan overstatement terhadap nilai kas.Cara auditor mendeteksi atau memverifikasi kas adalah dengan memperhatikan penerimaan kas yang understatement dan pengeluaran kas yang overstatement.

Pemeriksaan terhadap kas penting karena:
a)    Mayoritas transaksi perusahaan mengangkat rekening kas.
b)    Kas merupakan sumber aturan dalam transaksi penggelapan.
c)    Kesalahan rekening kas menunjukkan kesalahan rekening lain.



1.    Prinsip Akuntansi Berterima Umum dalam Penyajian Kas di Neraca
Prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian kas di neraca adalah sebagai berikut:
a)    Kas yang disajikan dineraca adalah saldo kas yang ada di tangan perusahaan pada tanggal  tersebut dan saldo rekening giro bank, yang pengembaliannya tidak dibatasi oleh bank atau perjanjian yang lain.
b)    Kas dalam bentuk valuta asing jika di cantumkan di neraca sebesar nilai kurs yang berlaku pada tanggal neraca.
c)    Unsur-unsur berikut harus disajikan secara terpisah dari unsur kas di neraca jika jumlahnya material:
a.    Tabungan di bank
b.    Dana untuk perluasan pabrik, dana pelunasan hutang, atau dana lain yang tidak digunaka untuk keperluan modal kerja
c.    Saldo di bank minimun yang disyaratkan oleh bank dlam suatu perjanjian          penarikan kredit
d.    Saldo di bank luar negeri yang tidak digunakan dalam hubungannya dengan               kegiatan bisnis di luar negeri dan tidak dapat segera diubah ke dalam mata uang rupiah karena batasan-batasan.
e.    Persekot biaya perjalanan atau persekot lain kepada karyawan.

2.    Tujuan Pengujian Substantif Kas
Tujuan pengujian substantif terhadap saldo kas adalah:
  1. Memperoleh keyakinan terhadap keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan  dengan kas
  2. Membuktikan keberadaan kas dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan kas yang dicantumkan di neraca
  3. Membuktikan hak kepemilikan klien atas kas yang dicantumkan di neraca
  4. Membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca
  5. Membuktikan kewajaran penilaian kas yang tercantum dineraca. Auditor melakukan berbagai pengujian substantif berukut ini:
1.    Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran kas
2.    Perhitungan terhadap kas di tangan pada tanggal neraca
3.    Konfirmasi kas di bank
  1. Membuktikan kewajaran panyajian dan pengungkapan kas di neraca.      

3.    Dokumen Yang Terkait Kas
Untuk mengaudit akun kas, auditor harus mendapatkan dokumen-dokumen berikut ini:
    1. Kertas kerja rekonsiliasi bank (bank reconciliation working paper)
Auditor biasanya mendapatkan salinan rekonsiliasi bank yang dibuat oleh             karyawan klien. Pada kertas kerja dilakukan rekonsiliasi terutama adalah setoran dalam perjalanan, cek beredar, dan penyesuian lain, seperti biaya jasa      bank, dan cek yang dikembalikan karena pelanggan tidak memiliki kas yang          mencukupi dalam akunnya untuk membayar cek (cek kosong)

    1. Bentuk konfirmasi bank standar (standar bank confirmation form)
Auditor biasanya melakukan konfirmasi atas informasi saldo akun dengan             setiap bank atau lembaga keuangan dimana klien memiliki akun. Perhatikan             bahwa bentuk konfirmasi ini tidak meminta karyawan bank untuk   melaksanakan penyelidikan menyeluruh dan ternci atas catatan bank yang            melebihi informasi akun yang diminta dalam konfirmasi.

 Adapun isi    konfirmasi bank antara lain sebagai berikut:
                                          i.    Saldo tiap jenis rekening
                                        ii.    Saldo tiap jenir hutang
                                       iii.    Aktiva yang dijadikan jaminan hutang
                                       iv.    Batasan terhadap rekening klien di bank

    1. Pisah batas rekening koran (cut off bank statement)
Langkah utama dalam mengaudit rekonsiliasi bank adalah melakukan verifikasi atas ketepatan unsur-unsur yang merekonsiliasi seperti setoran dalam perjalanan dan cek yang beredar. Auditor memerlukan pisah batas rekening koran untuk menguji unsur-unsur yang terdapat dalam rekonsiliasi bank.

4. Catatan yang Terkait dengan Kas
a. Catatan yang terkait dengan penerimaan kas
1)    Jurnal penjualan
2)    Jurnal penerimaan kas
3)    Jurnal umum
4)    Kartu persediaan
5)    Kartu gudang

b. Catatan yang terkait dengan pengeluaran kas
1)    Jurnal pengeluaran kas
2)    Register cek

5. Fungsi yang terkait
a. Fungsi yang terkait penerimaan kas
1)    Fungsi penjualan
2)    Fungsi kas
3)    Fungsi gudang
4)    Fungsi penerimaan
5)    Fungsi akuntansi

b. Fungsi yang terkait pengeluaran kas
1)    fungsi yang memerlukan pengeluaran kas
2)    fungsi kas
3)    fungsi akuntansi
4)    fungsi pemeriksa intern

6. Program pengujian substantif terhadap saldo kas
a. Prosedur Audit Awal
1)    Mengusut saldo kas yang tercantum di neraca ke saldo akun kas yang bersangkutan di dalam buku besar
2)    Menghitung kembali saldo akun kas di dalam buku besar
3)    Mengusut saldo awal akun kas ke kertas kerja tahun yang lalu
4)    Melakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun kas .
5)    Mengusut posting pendebetan dan pengkreditan akun kas dalam jurnal penerimaan kas dan jurnal pengeluaran kas.

 b. Prosedur Analitik
Pada tahap awal pengujian substantif terhadap kas, pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif. Rasio yang telah dihitung tersebut kemudian dibandingkan dengan harapan auditor, misalnya ratio tahun yang lalu, rerata ratio indusri, atau ratio yang dianggarkan.Di samping itu, auditor perlu membandingkan akun Kas yang tercantum di neraca dengan saldo kas pada akhir tahun yang lalu.

Perbandingan ini membantu auditor untuk mengungkapkan:
1)    Peristiwa atau transaksi yang tidak biasa
2)    Perubahan akuntansi
3)    Perubahan usaha
4)    Fluktuasi acak, atau
5)    Salah saji

c. Pengujian terhadap Transaksi Rinci
1. Verifikasi Pisah Batas (Cutoff)
1)    Membuat rekonsiliasi saldo kas menurut cutoff bank statement dengan saldo kas menurut catatan klien Atas dasar cutoff bank statement, auditor dapat membuat rekonsiliasi bank untuk membuktikan ketelitian catatan kas klien dan membuktikan status setoran dalam perjalanan dan cek yang beredar yang tercantum di dalam rekonsiliasi bank yang dibuat oleh klien pada tanggal neraca
2)    Mengusut setoran dalam perjalanan (deposit in transit) pada tanggal neraca ke dalam cutoff bank statement
3)    Memeriksa tanggal yang tercantum dalam cek yang beredar pada tanggal neraca
4)    Memeriksa adanya cek kosong yang tercantum di dalam cutoff bank statement.
5)    Periksa semua cek di dalam cutoff bank statement mengenai kemungkinan hilangnya cek yang tercantum sebagai cek yang beredar pada tanggal neraca.

2.    Membuat daftar transfer bank dalam periode sebelum dan sesudah tanggal neraca untuk menemukan kemungkinan terjadinya check kitting.Check kitting dilakukan untuk menutupi pemakaian kas perusahaan dengan cara melakukan transfer rekening dari bank satu ke rekening bank yang dananya digelapkan pada saat bank-bank menyiapkan pembuatan rekening koran bank.

3.    Membuat dan melakukan analisis terhadap rekonsiliasi bank empat kolom. Rekonsiliasi bank empat kolom digunakan oleh auditor untuk membuktikan kebenaran saldo kas dibank.

Conto rekonsiliasi emapt kolom dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
PT Rimendi
Daftar Transfer Antarbank
31 Desember 20X1
Dari/ke


Tanggal transfer
No.cek
Per cek
Per buku
Per bank
BNI-Bank Niaga
BNI-Bank Bumi Daya
6675890
7789876
26 Des 20X1
27 Des 20X1
26 Des 20X1
27 Des 20X1
26 Des 20X1
28 Des 20X1

4.    Memeriksa adanya kemungkinan penggelapan kas dengan cara lapping penerimaan dan pengeluaran kas. Lapping dapat terjadi jika penyimpan kas merangkap fungsi sebagai pencatat transaksi penerimaan dan pengeluaran kas.Lapping dilakukan oleh karyawan tersebut dengan cara tidak mencatat penerimaan kas dari debitur tertentu dan memasukkan uang yang diterima tersebut ke dalam sakunya sendiri.

d. Pengujian terhadap Akun Rinci
1.    Menghitung kas yang ada di tangan klien Dalam penghitungan kas, auditor harus memperhatikan berbagai hal berikut:
a)    Penghitungan kas harus dilakukan oleh auditor di muka pejabat yang bertanggung jawab atas penyimpanan kas
b)    Hasil penghitungan kas harus dicatat di dalam Berita Acara Penghitungan Kas yang harus segera ditandatangani oleh pejabat yang bertanggungjawab atas penyimpanan kas
c)    Unsur-unsur yang tidak dimasukkan dalam unsur kas pada saat penghitungan kas adalah cek mundur, perangko dan materai, dan kas bon.

2.    Rekonsiliasi catatan kas klien dengan rekening Koran bank yang bersangkutan.Untuk membuktikan eksistensi saldo kas klien yang disimpan dibank, auditor menempuh prosedur audit : (1) membuat atau meminta klien untuk membuat rekonsiliasi bank pada tanggal neraca, (2) mengirim konfirmasi saldo kas di bank pada tanggal neraca.

3.    Melakukan konfirmasi saldo kas di bank, Konfirmasi saldo kas di bank dilakukan oleh auditor dengan cara mengirimkan surat konfirmasi ke bank yang klien merupakan nasabahnya.

4.    Memeriksa cek yang beredar pada tanggal neraca ke dalam rekening koran         bank. Untuk membuktikan penyelesaian cek yang beredar pada tanggal neraca, auditor mengusut peuangan cek tersebut kedalam rekening koran bank yang diterima klien setelah tanggal neraca. 

e. Verifikasi Penyajian Kas di Neraca
1.    Memeriksa jawaban konfirmasi dari bank mengenai batasan yang dikenakan terhadap pemakaian rekening tertentu klien di bank. Kas yang disimpan di bank hanya dapat disajikan sebagai unsur kas jika tidak terdapat batasan penggunaanya dari bank atau batasan yang dikenakan oleh kontrak perjanjian tertentu.

2.    Melakukan wawancara dengan manajemen mengenai batasan penggunaan kas klien. Informasi mengenai batasan atas penggunaan berbagai dana kas yang dibentuk oleh klien dapat diperoleh dari wawancara dengan manajer keuangan. Informasi ini akan menentukan apakah suatu unsur disajikan dalam kas atau harus dipisahkan tersendiri dalam kelompok aktiva lancar, atau bahkan harus disajikan terpisah dalam kelompok aktiva tidak lancar.
           
Pengujian substantif terhada saldo kas ditujukan untuk memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan kas, membuktikan keberadaan kas dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan kas yang dicantumkan di neraca, membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo kas yang disajikan dalam neraca, membuktikan hak kepemilikan klien atas kas yang dicantumkan di neraca, membuktikan kewajaran penilaian kas yang dicantumkan di neraca, membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan kas di neraca.

Dalam prosedur audit awal, auditor membuktikan keandalan catatan akuntansi kas yang diselenggarakan oleh klien, dengan cara mengusut saldo kas yang dicantumkan di neraca ke dalam akun kas yang diselenggarakan didalam buku besar, membuktikan ketelitian penghitungan saldo akun kas di dalam buku besar dan membuktikan sumber pendebitan dan pengkreditan akun kas didalam buku besar ke dalam jurnal penerimaan kas dan register cek.

Pada dasarnya proses audit memiliki tujuan untuk menilai kewajaran suatu entitas. Dalam proses mengaudit kas auditor memiliki tujuan untuk memperoleh keyakianan bahwa saldo kasyang ada di neraca benar-benar sesuai dengan saldo yang sebenarnya sebagaimana telah disesuaikan dengan bukti-bukti yang tersedia.

Langkah-langkah untukmengaudit kas pertama kali dilakukan auditor yakni melakukan prosedur audit awal, dimana auditor mendapatkan pemahaman atas bisnis klien dan mencocokkan antara saldo investasi awal dan kas dengan jumlah yang diaudit. Selanjutnya prosedur analitik, pengujian rincian transaksi, prosedur rincian saldo, dan terakhir yaitu memverifikasi penyajian dan pengungkapan kas.
            
Demikian ulasan yang dapat kami sampaikan dan Semoga Bermanfaat. Amin.......

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Prinsip Akuntansi Berterima Umum Dalam Penyajian Kas Di Neraca dan Tujuan Pengujian Substantif Kas

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...