Materi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi pajak, akuntansi pemerintahan, perbankkan dan Analisis ekonomi

Wednesday, January 25, 2017

Pengertian, Pengelompokan, dan Penggolongan Piutang


Pengertian, Pengelompokan, dan Penggolongan piutang - Dengan berkembangannya perekonomian, persaingan di dunia usaha semakin ketat antar perusahaan. Perusahaan menggunakan berbagai macam strategi pemasaran yang dimaksudkan untuk menarik minat konsumen agar membeli produk yang dikeluarkan, sehingga perusahaan dapat menghasilkan laba atau keuntungan yang sebesar-besarnya.
Pengertian, Pengelompokan, dan Penggolongan Putang
Piutang Tak Tertagih

Perkembangan suatu produk yang diciptakan oleh perusahaan saat ini beraneka ragam oleh karena itu perusahaan berusaha meningkatkan volume penjualan dengan cara memberikan keringanan pembayaran salah satu bentuknya dengan penjualan kredit. dengan bermunculannya perusahaan – perusahaan yang memberikan keringanan pembelian kepada konsumen, maka secara otomatis volume penjualan akan naik tetapi tidak sebaliknya resiko tidak terkumpulnya piutang akan naik pula seiring dengan kenaikan volume penjualan.

1.    Pengertian Piutang

Piutang adalah klaim dalam bentuk uang terhadap perusahaan atau perseorangan. Piutang ini terutama timbul dari penjualan barang dan jasa secara kredit dan peminjaman uang. (Firdaus A. Dunia,2005,123).



Piutang mengandung pengertian meliputi semua tuntutan atau klaim kepada pihak ketiga yang pada umumnya akan berakibat adanya penerimaan kas dimasa yang akan datang. (Ali Machmud, 1993,70).


Piutang adalah semua tagihan kepada seseorang atau badan usaha atau kepada pihak lainnya dalam satuan uang yang timbul dari transaksi masa lalu. Piutang merupakan perkiraaan yang penting karena hampir semua perusahaan pasti mempunyai perkiraan ini, bahkan kadang – kadang piutang merupakan bagian terbesar dari aktiva lancar suatu perusahaan. (Drs. F. X. Sudarsono,1996,62).



Piutang dagang atau disebut juga piutang usaha merupakan piutang atau tagihan yang timbul dari penjualan barang dagangan dan jasa secara kredit. Piutang dagang biasanya diberikan penjual kepada pembeli barang dagangan atau jasa atas dasar kepercayaan tanpa disertai dengan janji tertulis secara formal. (Drs. Mardiasmo, M.B.A., Akuntan,1987,13).



Piutang biasanya dikelompokan dalam 3 jenis

1)    Piutang dagang (accounts receivable),  Piutang ini berasal dari penjualan barang dan jasa yang merupakan kegiatan utama perusahaan. Piutang dagang dikelompokan sebagai unsur aktiva lancar pada neraca

2)    Wesel Tagih (Notes receivable), Pemberian kredit kepada pelanggan dapat pula didukung oleh suatu dokumen kredit yang resmi yang disebut wesel atau promes

3)    Piutang Lain – lain, Kelompok rupa – rupa yang meliputi pinjaman kepada karyawan dan perusahaan afiliasi, piutang bunga dan piutang pajak. ( Firdaus A. Dunia,2005,123).



2.    Penggolongan Piutang

Secara garis besar piutang dapat digolongkan berdasarkan:

1)    Sumber terjadinya piutang

2)    Ada dan tidaknya dokumen tertulis yang berisikan tentang kesanggupan untuk melunasi



Untuk kepentingan penyajian dan laporan keuangan.Berdasarkan

 Sumber Terjadinya. Menurut sumber terjadinya piutang dapat timbul sebagai akibat adanya:

1)    Transaksi penjualan atau penyerahan jasa yang dilakukan secara kredit.

2)    Pinjaman yang diberikan kepada pihak lain.

3)    Pesanan – pesanan yang diterima atas saham atau obligasi

4)    Klaim ganti rugi kepada perusahaan asuransi, seperti misalnya asuransi kebakaran, asuransi kebakaran, asuransi kecelakaan dan untuk para karyawan.

5)    uang sewa yang belum dibayar oleh penyewa.
Berdasarkan ada tidaknya dokumen tertulis yang berisikan kesanggupan untuk melunasi.

Berdasarkan penggolongan ini piutang dapat dibedakan menjadi dua golongan:

1)    Piutang (tagihan) yang tidak didukung oleh adanya pernyataan tertulis mengenai kesanggupan untuk membayar, disebut piutang.

2)    Piutang yang didukung dengan adanya pernyataan tertulis tentang kesanggupan untuk membayar, disebut Piutang wesel (wesel tagih).



Berdasarkan tujuan untuk penyajian dalam laporan keuangan.
Penggolongan berdasarkan tujuan penyajian di dalam laporan keuangan, lebih didasarkan atas jangka waktu yang diperlukan untuk merealisasikan piutang menjadi kas. Berdasarkan hal ini piutang dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu :

1)    Piutang yang masuk sebagai aktiva lancar (iutang lancar), adalah meliputi tagihan – tagihan yang diharapkan akan diterima pelunasannya dalam jangka waktu kurang atau sama dengan satu tahun.

2)    Piutang jangka panjang, meliputi semua tagihan – tagihan yang jangka waktu pelunasannya lebih dari satu tahun. Di dalam neraca jenis piutang tersebut disajikan sebagai aktiva tidak lancar atau biasanya dimasukan ke dalam kelompok aktiva lain – lain.


3.    Piutang Tak Tertagih

Meskipun perusahaan telah berhati – hati dalam mengambil kebijakan kredit (misalnya mengharuskan calon pelanggan untuk memenuhi syarat – syarat tertentu), namun perusahaan tidak dapat menghindar adanya piutang yang tidak dapat ditagih. Piutang yang tidak dapat ditagih ini merupakan konsekuensi logis dari kebijakan kredit. Kerugian yang timbul dari piutang yang tidak tertagih ini oleh akuntansi diakui sebagai kerugian piutang. (Slamet Sugiri 2002,51).



4.    Taksiran Piutang Tak Tertagih

Tujuan penentuan taksiran piutang dagang adalah:

1)    Dapat diperhitungkan biaya – biaya yang berkaitan dengan penjualan, sehingga diperoleh laba periodik yang teliti atau mendekati teliti.

2)    Menunjukan nilai piutang dagang yang dapat direalisasikan.


Untuk itu ada 2 pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya taksiran piutang tak tertagih, yaitu:

1.    Pendekatan Statemen Rugi – Laba

Berdasarkan pendekatan ini, penentuan taksiran piutang tidak tertagih didaarkan pada saldo penjualan kredit. Pendekatan ini diawali dengan penentuan rata – rata persentase hubungan antara penjualan kredit dengan kerugian piutang tidak tertagih yang sesungguhnya, yaitu dengan mempertimbangkan data pada periode sebelumnya.



Selanjutnya untuk taksiran kerugian piutang, persentase tersebut dikalikan dengan penjualan kredit yang terjadi dalam periode bersangkutan. Rumus untuk menentukan persentase taksiran piutang tak tertagih sebagai berikut:

Taksiran Kerugian Piutang (%)= PT - PD x 100%
Taksiran Penjualan Kredit

Keterangan:

PT = Taksiran Piutang Tak Tertagih

PD = Taksiran Piutang Dihapus dan Dibayar Kembali



Pendekatan ini dikatakan sebagai pendekatan rugi – laba, sebab pendekatan ini lebih menekan pada penentuan taksiran kerugian piutang dari pada terhadap jumlah taksiran piutang tak tertagih. (Efraim Ferdinan Giri 1993,112).

2.     Pendekatan Neraca

Tujuan utama pendekatan ini adalah menentukan jumlah piutang dagang sebesar nilai yang dapat direalisasikan untuk dilaporkan dalam neraca. Untuk mencapai tujuan ini pendekatan neraca memfokuskan pada penentuan jumlah taksiran piutang tidak tertagih yang diinginkan. Jumlah tersebut disajikan sebagai pengurang piutang dagang. (Efraim Ferdinan Giri 1993,112).



5.    Kebijakan Piutang

Kebijakan kredit merupakan kebijakan internal yang bisa dikendalikan oleh manajer keuangan. Kebijakan kredit bisa dilihat sebagai trade-off antara peningkatan keuntungan dan peningkatan biaya yang berkaitan dengan piutang dagang. Peningkatan keuntungan diperoleh dari peningkatan penjualan. Peningkatan biaya bisa terjadi antara lain melalui peningkatan biaya investasi, peningkatan resiko piutang tidak terbayar, dan peningkatan potongan kas. (dr. Mamduh M.Hanafi,M.B.A,2004/2005,557)



Kebijakan kredit terdiri atas 4 variabel:

1)    Periode kredit yakni jangka waktu kredit yang diberikan

2)    Standar kredit yakni merujuk pada kemampuan keuangan minimal yang harus dimiliki calon penerima kredit serta jumlah kredit yang tersedia bagi masing – masing pelanggan.

3)    Kebijakan pengumpulan yakni merujuk pada prosedur – prosedur yang digunakan oleh perusahaan untuk menagih piutang yang jatuh tempo.

4)    Kebijakan diskon untuk membayar yang dipercepat, termasuk didalamnya jumlah dan periode diskon. (Drs. Lukas Setia Atmaja, M. Sc,1999,398)



6.    Pengertian Kredit

Pengertian – pengertian kredit yaitu:

1.    in a general sense, credit is a based on confidence in the debtor ability to make a money payment a some future time (rolling g. thomas).

Yang dapat di artikan sebagai berikut: dalam pengertian umum, kredit itu didasarkan kepada kepercayaan atas kemampuan si peminjam untuk membayar sejumlah uang pada masa yang akan datang.

Rolling G. Thomas, menekankan bahwa kepercayaan kredit atau pemberian kredit oleh kreditur itu didasarkan kepada kemampuan debitur dalam hal mengembalikan pinjaman berikut bunganya, dan tentu menurut estimasi analisis kredit.

2.    the transfer of something valuable to another, whether money, goods or services in the confidence that will be both willing and able, at a futureday, to pay its aquivalent: (tucker).

Maksudnya: Pertukaran atau pemindahan sesuatu yang berharga, baik berupa uang, barang, maupun jasa dengan keyakinan bahwa ia akan dapat/mampu membayar dengan nilai/harga yang sama di waktu yang akan datang. Tucker pun menekankan, atas kemampuan membayarlah debitur akan percaya untuk memberikan kredit.

3.    Bahwa kredit itu adalah suatu pemberian prestasi yang kontra prestasinya akan terjadi pada suatu waktu di hari yang akan datang. (amir r. Batubara).

Sedangkan Amir R. Batubara, mengemukakan kredit itu terjadi, bila ada tenggang waktu antara pemberian kredit itu sendiri oleh kreditur, dengan saat pembayaran yang dilakukan debitur.

4.    Kredit adalah penyediaan uang yang ditulis antara lain disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan pinjaman (pinjam – meminjam) antara bank dengan pihak lain dalam hal mana pihak peminjam berkewajiban melunasi utang setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bungan yang telah ditetapkan (undang – undang no. 14 tahun 1967. Tentang pokok – pokok perbankan).

Undang – undang tentang pokok PERBANKAN, dalam pasal di atas, menunjukan jelasnya hubungan di satu pihak dan kewajiban di pihak lain, termasuk jumlah, waktu dan suku bunga; dalam perbankan teknis.



7.    Kredit Kendaraan Bermotor

Kredit kendaraan bermotor merupakan salah satu jenis kredit perorangan berjaminan, yang cara pengembaliannya dilakukan secara mencicil. Kendaraan bermotor yang dibeli dengan kredit dipergunakan sebagai jaminan utama. Kredit yang diberikan akan menutup sebagian besar harga pembelian kendaraan, misalnya sampai 85% - 90%. (Siswanto Sutojo,1997,35).



8.    Analisis Pemberian Kredit

Adapun penjelasan untuk analisis dengan 5 C kredit adalah sebagai berikut :
1. Character, Suatu keyakinan bahwa sifat atau watak dari orang – orang yang akan diberikan kredit benar – benar dapat dipercaya.

2. Capacity, Untuk melihat kemampuan nasabah dalam bidang bisnis yang dihubungkan dengan pendidikannya, kemampuan bisnis juga diukur dengan kemampuannya dalam mengembalikan kredit yang disalurkan.

3. Capital, Untuk melihat penggunaan modal, apakah efektif, dilihat dari laporan keuangan dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuiditas,solvabilitas,rentabilitas dan ukuran lainnya.

4. Colleteral, Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun nonfisik.

5. Condition, Dalam melihat kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi dan politik sekarang dan dimasa yang akan datang.



9. Pengertian Analisis Umur piutang

Dalam metode analisa umur piutang, piutang masing-masing langganan dibagi dalam dua kelompok, yaitu belum menunggak dan menunggak. Yang dimaksud menunggak adalah sudah melebihi jangka waktu kredit. Piutang yang menunggak dipisah-pisahkan dalam kelompok berdasarkan lama waktu menunggaknya. Selanjutnya dari masing-masing jumlah tunggakan ditetapkan persentase kerugian piutangnya.

Jumlah kerugian piutang yang dihitung dengan cara ini sudah mempertimbangkan saldo rekening. Cadangan Kerugian Piutang yang merupakan jumlah kerugian piutang. Berikut ini merupakan bentuk bagan pengelompokkan saldo piutang berdasarkan umur.



Tabel 2.1

Nama Jumlah Umur Piutang (Hari)

Piutang belum 1-30 hari 31-60 hari 61-90 hari >90 hari

Menunggak

XXX XXX XXX XXX XXX XXX

XXX XXX XXX XXX

XXX XXX XXX XXX XXX

XXX XXX XXX XXX XXX XXX

XXX XXX XXX XXX XXX XXX

XXX XXX XXX XXX

XXX XXX XXX XXX XXX XXX

XXX XXX XXX XXX XXX XXX

XXX XXX XXX XXX XXX

XXX XXX XXX XXX XXX XXX

JUMLAH XXX XXX XXX XXX XXX XXX

Pemisahan masing-masing piutang ke dalam kelompok-kelompok umur dilakukan dari data yang ada dalam buku pembantu piutang. Setelah piutang masing-masing langganan dapat dikelompokkan bersarkan umurnya. Langkah berikutnya adalah menentukan besarnya persentase kerugian piutang untuk masing-masing kelompok umur, seperti table dibawah ini :



 Tabel 2.2

Kelompok umur Jumlah (a) Kerugian piutang (b) Taksiran kerugian piutang

Belum menunggak XXX XXX% XXX

Menunggak 1–30 hari XXX XXX% XXX

Menunggak 31–60 hari XXX XXX% XXX

Menunggak 61–90 hari XXX XXX% XXX

Menunggak >90 hari XXX XXX% XXX

Jumlah XXX XXX% XXX (Y)

Rumus untuk menghitung jumlah Taksiran Kerugian Piutang adalah: (Efraim Ferdinan Giri,1993,115)

Taksiran Kerugian Piutang (Y) = jumlah masing-masing kelompok (a) * persentase kerugian piutang (b)

Dari perhitungan di atas diketahui jumlah kerugian piutang (y), hasil diatas belum menunjukkan jumlah kerugian piutang yang dibebankan. Jumlah piutang yang dibebankan adalah :

Taksiran Kerugian Piutang (Y) ditambah saldo debit atau dikurangi saldo kredit rekening Cadangan Kerugian Piutang. (Ali Machmud,1993,81)



10.  Bentuk Perjanjian Penjualan Angsuran

1)    Perjanjian penjualan bersyarat, dimana barang-barang telah diserahkan, tetapi hak atas barang-barang masih berada di tangan penjual sampai seluruhnya pembayaran sudah lunas.

2)    Pada saat perjanjian ditanda-tangani dan pembayaran pertama telah dilakukan, hak milik dapat diserahkan kepada pembeli, tetapi dengan menggadaikan atau menghipotikkan untuk bagian harga penjualan yang belum dibayar kepada penjual.

3)    Hak milik atas barang-barang untuk sementara diserahkan kepada suatu badan “trust” (trustee) sampai pembayaran harga penjualan dilunasi. Setelah pembayaran lunas oleh pembeli, baru trustee menyerahkan hak atas barang-barang itu kepada pembeli.

4)    Beli sewa, dimana barang-barang diserahkan kepada pembeli. Pembayaran angsuran dianggap sewa sampai harga dalam kontrak telah dibayar lunas, baru sesudah itu hak milik berpindah kepada pembeli.



11. Jaminan bagi Pihak Penjual

Periode pembayaran penjualan angsuran yang lama, mengakibatkan resiko tak tertagihnya piutang dan biaya pengumpulan piutang yang lebih besar. Untuk mengurangi resiko kerugian yang dapat terjadi, biasanya perjanjian penjualan angsuran ditentukan sebagai berikut:

1)    Pada saat perjanjian penjualan angsuran disetujui, pembeli harus membayar suatu jumlah tertentu yang merupakan uang muka dan sisa harga jual dibayar angsuran.

2)    Kepada pembeli dibebankan bunga yang biasanya sudah dimasukkan dalam perhitungan total pembayaran angsuran.

3)    Hak milik atas barang tetap berada di tangan penjual sampai seluruh atau sebagian dari harga jual telah dibayar.

4)    Dalam hal pembeli tidak mampu untuk melunasi semua kewajibannya, penjual berhak untuk menarik kembali barang yang telah dijual tersebut.


Hak penjual untuk menarik kembali barang yang telah dijual bila pembeli tidak dapat lagi memenuhi kewajibannya, sering merupakan cara yang kurang tepat. Hal ini disebabkan karena nilai barang yang dijual, turun lebih cepat daripada saldo piutangnya, sehingga pemilikan kembali barang tersebut tidak dapat menutup kerugian tak tertagihnya saldo piutang. Untuk mengurangi atau menghindari kerugian yang terjadi dalam pemilikan kembali, maka harus diperhatikan:

1)   Jumlah uang muka dan pembayaran-pembayaran angsuran berikutnya, harus cukup untuk menutup semua kemungkinan terjadinya penurunan nilai barang.
2) Periode pembayaran angsuran jangan melebihi umur ekonomis dari barang yang dijual. Tidak telalu lama atau panjang, sebaiknya tiap bulan. 

Demikianlah yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat. Amin.....

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengertian, Pengelompokan, dan Penggolongan Piutang

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Loading...
Loading...